Fiqih 00 – Belajar Ushul Fiqih 18

MUFTI DAN MUSTAFTI

Mufti (????) : “Orang yang mengabarkan/memberitahu suatu hukum syar’i.”
Mustafti : “Orang yang bertanya tentang suatu hukum syar’i.”

SYARAT-SYARAT FATWA :
Disyaratkan untuk bolehnya seseorang berfatwa dengan syarat:

1. Seorang Mufti mengetahui tentang suatu hukum dengan yakin atau dzonn rojih (persangkaan kuat), dan jika ia tidak mengetahui maka wajib baginya untuk tawaqquf.

2. Pertanyaan digambarkan dengan sempurna (jelas), agar lebih kokoh dalam menghukuminya, karena “????? ?? ??? ????? ??? ????” (penentuan hukum
atas sesuatu merupakan cabang dari penggambarannya).

Jika makna perkataan mustafti masih rancu bagi mufti maka ia bertanya kepada mustafti tentang pertanyaannya itu, jika pertanyaannya butuh untuk dirinci maka mufti minta agar pertanyaannya dirinci, atau ia yang  menyebutkan jawabannya secara rinci. Jika ia ditanya tentang seseorang laki-laki yang mati meninggalkan anak perempuan, saudara laki-laki dan ‘am syaqiq (paman/saudara laki-laki dari ayah yang se-ayah dan se-ibu, pent), maka mufti bertanya tentang saudara laki-laki tersebut, apakah ia se-ibu saja (Akh li Umm, pent) atau tidak? atau ia merinci dalam jawabannya; jika se-ibu saja maka tidak mendapat apa- apa, dan sisanya setelah bagian anak perempuan adalah untuk paman, dan jika saudara laki-laki tersebut tidak hanya se-ibu saja (yakni Akh Syaqiiq atau Akh li Abb, pent), maka sisa warisan setelah bagian anak perempuan adalah untuk saudara laki-laki tersebut.

3. Seorang mufti dalam keadaan tenang sehingga ia mampu menggambarkan masalah dan menerapkannya pada dalil-dalil syar’i, maka janganlah seorang berfatwa dalam keadaan pikirannya sedang sibuk dengan marah, sedih, bosan atau yang selainnya.

DISYARATKAN DALAM WAJIBNYA BERFATWA DENGAN SYARAT-SYARAT :

1. Telah terjadinya kejadian yang ditanyakan tersebut, jika belum terjadi maka tidak wajib untuk berfatwa dikarenakan tidak mendesak, kecuali jika maksud penanya adalah untuk belajar maka tidak boleh bagi mufti untuk  menyembunyikan ilmu, bahkan ia menjawabnya kapanpun penanya bertanya pada setiap keadaan.

2. Dia tidak mengetahui kondisi penanya bahwa maksudnya bertanya adalah untuk berlebih-lebihan, atau mencari-cari rukhshoh, atau untuk  mempertentangkan antara pendapat para ‘ulama yang satu dengan yang lain, atau yang selainnya dari maksud-maksud yang buruk. Jika ia mengetahui hal tersebut dari kondisi penanya, maka ia tidak wajib berfatwa.

3. Fatwa tersebut tidak menimbulkan mudhorot yang lebih besar, jika dengan fatwa tersebut akan timbul mudhorot yang lebih besar, maka ia
wajib diam untuk menolak mafsadat yang lebih besar dengan yang lebih ringan.

YANG DIHARUSKAN BAGI MUSTAFTI:
Diharuskan 2 perkara bagi Mustafti:
Yang pertama : ia menginginkan kebenaran dari pertanyaannya tersebut dan beramal dengannya, bukan untuk mencari-cari rukhshoh dan menyudutkan mufti, dan yang selain itu dari niat-niat yang buruk. Yang kedua : ia tidak meminta fatwa kecuali dari orang yang tahu, atau yang ia duga kuat bahwa orang itu mampu berfatwa. Dan selayaknya ia untuk memilih di antara 2 orang mufti yang lebih berilmu dan lebih waro’, dan dikatakan : yang demikian adalah wajib.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *