Fiqih 00 – Belajar Ushul Fiqih 17

URUTAN DI ANTARA DALIL-DALIL

Jika dalil-dalil yang telah lalu (al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas) sepakat atas suatu hukum atau salah satu dalil tersebut menyendiri tanpa ada yang menyelisihinya maka wajib untuk menetapkan hukumnya. Dan jika terjadi ta’arudh dan mungkin untuk dijama’ maka wajib untuk dijama’, seandainya tidak mungkin untuk dijama’ maka dilakukan naskh jika telah sempurna syarat-syarat naskh tersebut.

Dan jika tidak mungkin untuk dilakukannya naskh, maka wajib untuk ditarjih.
Maka lebih diutamakan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah :
Nash daripada dzohir.
Dzohir daripada mu’awwal.
Manthuq (yang tersurat) daripada mafhum (yang tersirat).
Mutsbit (yang menetapkan) daripada nafi (yang meniadakan).
Yang memindahkan dari hukum asal  daripada yang tetap di atas hukum asal tersebut , karena pada yang memindahkan dari hukum asal terdapat tambahan ilmu.
Keumuman yang mahfudz (yakni yang tidak terkhususkan) daripada yang tidak mahfudz.

Dalil yang memiliki sifat untuk diterima lebih banyak daripada dalil yang memiliki sifat untuk diterima kurang darinya.
Pelaku kejadian daripada yang selainnya.
Dan didahulukan dalam ijma’ : qoth’i daripada dzonni.
Dan didahulukan dalam qiyas : jali daripada khofi.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *