Fiqih 00 – Belajar Ushul Fiqih 13

AL-AKHBAR

Khobar secara bahasa : berita  Yang dimaksud di sini adalah :

“Apa-apa yang disandarkan kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam dari  perkataan atau perbuatan atau taqrir atau sifat.” Dan telah berlalu penjelasan tentang ahkam lebih dari sekali.

Adapun perbuatan, maka sesungguhnya perbuatan Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam ada beberapa macam :

Yang pertama : yang dilakukannya berupa kebiasaan, seperti makan, minum, dan tidur, maka secara dzatnya perbuatan ini tidak ada hukumnya, akan tetapi terkadang perbuatan yang sifatnya kebiasaan tersebut diperintahkan atau dilarang karena suatu sebab, dan terkadang memiliki sifat yang dituntut seperti makan dengan tangan kanan, atau larangan seperti makan dengan tangan kiri.

Yang kedua : apa yang dilakukan sesuai dengan adat, seperti sifat pakaian maka hal ini mubah dalam batasan dzatnya, dan terkadang hal tersebut diperintahkan atau dilarang karena suatu sebab.

Yang ketiga : apa yang dilakukan Nabi shollallohu alaihi wa sallam dalam bentuk khushushiyyah (kekhususan), maka hal itu khusus bagi beliau, seperti
puasa wishol dan nikah dengan menghibahkan diri. Dan tidaklah sesuatu perbuatan dihukumi dengan khushushiyyah kecuali dengan dalil (yang menunjukkan bahwa hal tersebut adalah kekhususan beliau, pent), karena hukum asalnya adalah mengikutinya.

Yang keempat : apa yang dilakukan Nabi shollallohu alaihi wa sallam secara ta’abbudi, maka ini wajib bagi beliau sampai perbuatan tersebut disampaikan karena wajibnya menyampaikan, kemudian hukumnya menjadi mandub (mustahab/sunnah, pent) bagi beliau dan bagi kita berdasarkan
perkataan yang rojih, hal tersebut dikarenakan bahwa perbuatan beliau yang ta’abuddiyah menunjukkan atas disyari’atkannya perbuatan tersebut, dan
pada asalnya tidak ada dosa bagi yang meninggalkannya, maka perbuatan itu disyari’atkan dan tidak ada dosa dalam meninggalkannya, ini adalah hakikat
mandub.

Contoh dari hal tersebut adalah : hadits Aisyah rodhiyallohu anha bahwasanya dia ditanya tentang dengan apa Nabi shollallohu alaihi wa sallam memulai masuk rumahnya? Ia berkata : “dengan siwak”, tidaklah siwak ketika masuk rumah kecuali hanya sekedar perbuatan beliau, maka perbuatan tersebut menjadi mandub.

Contoh yang lain adalah : Nabi shollallohu alaihi wa sallam menyela-nyela jenggotnya di dalam berwudhu. Maka menyela-nyela jenggot tidak masuk dalam membasuh wajah, sehingga hal ini menjadi penjelas terhadap sesuatu yang mujmal dan hanya saja hal tersebut sekedar perbuatan beliau, maka perbuatan tersebut adalah mandub.

Yang kelima : apa-apa yang dilakukan beliau sebagai penjelas dari kemujmalan (keumuman) nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah, maka perbuatan tersebut wajib atas beliau sampai perbuatan tersebut dijelaskan karena wajibnya menyampaikannya, kemudian hukum nash tersebut menjadi
mubayyan bagi beliau dan bagi kita, jika hukumnya wajib maka perbuatan tersebut hukumnya wajib dan jika hukumnya mandub maka perbuatan
tersebut hukumnya mandub.

Contoh yang wajib adalah : perbuatan-perbuatan dalam sholat yang sifatnya wajib yang Nabi shollallohu alaihi wa sallam melakukannya sebagai
penjelas terhadap firman Alloh ta’ala :

“Dan dirikanlah sholat” [QS. Al-Baqoroh : 43]

Dan contoh yang mandub : sholatnya Nabi shollallohu alaihi wa sallam dua rokaat di belakang maqom Ibrohim setelah selesai dari thowaf sebagai penjelas firman Alloh ta’ala :

“Dan jadikanlah sebagian maqom Ibrahim tempat shalat.” [QS. Al-Baqoroh : 125].

Yang mana Nabi shollallohu alaihi wa sallam mendatangi maqom Ibrohim dan beliau membaca ayat ini, maka sholat dua roka’at di belakang maqom Ibrohim adalah sunnah.

Adapun taqrir (persetujuan) Nabi Shollallohu alaihi wa sallam atas sesuatu  maka hal tersebut menunjukkan atas bolehnya perbuatan itu dari sisi yang beliau setujui, baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Contoh persetujuan beliau atas perkataan : persetujuan beliau terhadap seorang budak wanita yang beliau bertanya kepadanya : “Dimana Alloh?” ia berkata : “Di atas langit”.
Contoh persetujuan beliau atas perbuatan adalah : persetujuan beliau terhadap orang yang ikut berperang yang membaca Al-Qur’an dalam sholatnya untuk teman-temannya kemudian ia mengakhirinya dengan bacaan: ” “[QS. Al-Ikhlash : 1], maka Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata :

“bertanyalah kepadanya, kenapa ia melakukannya?” kemudian para shohabat menanyainya, maka ia menjawab : “karena dalam ayat tersebut ada sifat Ar-
Rohman dan aku senang membacanya” Lalu Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata : “kabarkan kepadanya bahwa Alloh mencintainya”.

Contoh yang lain : persetujuan beliau terhadap orang-orang Habasyah yang bermain-main di masjid, dengan tujuan man-ta’lif mereka kepada Islam.
Adapun perbuatan-perbuatan yang terjadi di zaman beliau shollallohu alaihi wa sallam dan tidak diketahuinya maka hal tersebut tidak dinisbatkan kepada beliau, tetapi hal itu sebagai hujjah atas taqrir Alloh terhadap perbuatan tersebut, dan oleh karena itu para sahabat rodhiyallohu anhum berdalil atas bolehnya melakukan ‘azl dengan pendiaman Alloh terhadap mereka atas hal itu. Jabir rodhiyallohu anhu berkata :

“Dahulu kami melakukan ‘azl sedangkan Al-Qur’an sedang diturunkan” [Muttafaqun alaihi].

Muslim menambahkan : berkata Sufyan : Seandainya sesuatu itu dilarang maka Al-Qur’an sungguh akan melarang kami melakukannya.
Dan yang menunjukkan bahwa pendiaman Alloh (terhadap suatu perbuatan) merupakan hujjah adalah perbuatan-perbuatan mungkar yang disembunyikan oleh orang-orang munafiq, Alloh ta’ala menjelaskannya dan mengingkarinya, maka ini menunjukkan bahwa apa yang didiamkan oleh Alloh hukumnya adalah boleh.

Pembagian khobar ditinjau dari sisi kepada siapa penyandarannya :
Khobar ditinjau dari penyandarannya dibagi menjadi tiga bagian : marfu’, mauquf, dan maqtu’.

1. Marfu’ : Apa yang disandarkan kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam secara hakiki atau secara hukum.
Marfu’ secara hakiki adalah : sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam, perbuatan dan taqrirnya/persetujuannya.
Marfu’ secara hukum adalah : apa yang disandarkan kepada sunnah beliau  shollallohu alaihi wa sallam, zamannya, dan yang semisalnya yang tidak
menunjukkan secara langsung dari beliau.

Dan di antaranya adalah perkataan sahabat : “kami diperintahkan” atau “kami dilarang” atau yang semisalnya. Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas
rodhiyallohu anhuma :

“Telah diperintahkan kepada manusia agar mengakhiri ibadah hajinya (dengan thowaf, pent) di Baitulloh, namun diberi kelonggaran bagi wanita haidh.”
Dan perkataan Ummu Athiyah :

“Kami dilarang untuk mengiringi jenazah, namun tidak dikeraskan atas kami”

2. Mauquf (??????): apa-apa yang disandarkan kepada shohabat dan tidak tetap baginya hukum marfu’. Dan ini merupakan hujjah berdasarkan pendapat yang rojih, kecuali jika menyelisihi nash atau perkataan shohabat yang lain, jika menyelisihi nash maka diambil nashnya, dan jika menyelisihi perkataan shohabat yang lain maka diambil yang rojih di antara keduanya.

Shohabat adalah : orang yang berkumpul bersama Nabi shollallohu alaihi wa sallam dalam keadaan beriman kepada beliau dan meninggal dalam keadaan beriman.

3. Maqtu’ (???????): apa-apa yang disandarkan kepada tabi’in dan yang setelah mereka.

Tabi’in adalah : orang yang berkumpul bersama shohabat dalam keadaan beriman kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dan meninggal dalam
keadaan beriman.

Pembagian khobar ditinjau dari jalan-jalannya :
Khobar ditinjau dari jalan-jalannya dibagi menjadi : mutawatir dan ahad.

1. Mutawatir : apa-apa yang diriwayatkan oleh banyak rowi, yang secaraadat mustahil bagi mereka bersepakat dengan sengaja dalam kebohongan dan
menyandarkannya kepada sesuatu yang dapat dirasakan. Contohnya adalah sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

“Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka ambillah tempat duduknya di neraka.”

2. Ahad : apa-apa yang selain mutawatir (yakni tidak sampai derajat mutawatir, pent). Dan dari segi tingkatannya hadits ahad terbagi menjadi tiga bagian :
shohih, hasan, dan dho’if.
Shohih : apa yang dinukil oleh rowi yang ‘adl, sempurna dhobit/hapalannya, dengan sanad yang bersambung, terlepas dari sifat syadz dan ‘illah yang merusak.

Hasan : apa yang dinukil oleh rowi yang ‘adl, dhobitnya ringan, dengan sanad yang bersambung, terlepas dari sifat syadz dan ‘illah yang merusak.
Dan bisa naik ke derajat shohih jika jalannya berbilang (lebih dari satu, pent) dan dinamakan shohih li ghoirihi.

Dho’if : yang tidak memenuhi syarat hadits shohih dan hasan. Dan bisa naik ke derajat hasan jika jalannya berbilang (yakni jika kedhoifannya muhtamal/ ringan, pent), yang saling menguatkan satu sama lain dan dinamakan hasan li ghoirihi.

Dan semua jenis hadits ini merupakan hujjah kecuali hadits dho’if, maka ia bukan hujjah akan tetapi tidak mengapa menyebutkannya sebagai
syawahid dan yang semisalnya.

BENTUK-BENTUK PENYAMPAIAN :
Dalam hadits terdapat pengambilan dan penyampaian.
Pengambilan : mengambil hadits dari orang lain.
Penyampaian : menyampaikan hadits kepada orang lain.
Penyampaian memiliki bentuk-bentuk, di antaranya :

1. Haddatsani / “telah menceritakan kepadaku”: yang syaikhnya membacakan hadits kepadanya.

2. Akhbaroni / “telah mengabarkan kepadaku”: yang syaikhnya membacakan hadits kepadanya, atau dia yang membacakan kepada
syaikhnya.

3. Akhbaroni ijazatan / “telah mengabarkan kepadaku dengan ijazah” atau ajaza li / “telah memberikan kepadaku ijazah ” : yang meriwayatkan dengan ijazah (tertulis, pent) tanpa membacakan. Dan ijazah : izin yang diberikan syaikh kepada muridnya untuk meriwayatkan darinya apa-apa yang telah diriwayatkannya, walaupun bukan dengan jalan pembacaan.

4. ‘An’anah (???????): meriwayatkan hadits dengan lafadz ‘an (??) / “dari”. Dan hukum ‘an’anah adalah bersambung sanadnya, kecuali dari orang yang ma’ruf dengan sifat tadlis, maka sanadnya tidak dihukumi bersambung kecuali ia menegaskan dengan lafadz tahdits.

Dan pembahasan tentang masalah hadits dan riwayatnya banyak jenisnya dalam ilmu mustholah, dan yang telah kami isyaratkan sudah mencukupi
insyaAlloh ta’ala.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *