Fiqih 00 – Belajar Ushul Fiqih 11

DZOHIR DAN MU’AWWAL

Dzohir secara bahasa : Yang terang dan yang jelas.
Secara istilah :
“Apa-apa yang menunjukkan atas makna yang rojih dengan lafadznya sendiri dengan adanya kemungkinan makna lainnya.” Misalnya sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

“Berwudhulah kalian karena memakan daging unta!”

Maka sesungguhnya yang dzohir dari yang dimaksud dengan wudhu adalah membasuh anggota badan yang empat dengan sifat yang syar’i bukan wudhu
yang berarti membersihkan diri. Keluar dari perkataan kami : “apa-apa yang menunjukkan atas makna dengan lafadznya sendiri” : Mujmal, karena mujmal tidak menunjukkan makna dengan lafadznya sendiri.

Keluar dari perkataan kami : “rojih” : Mu’awwal, karena ia menunjukkan atas makna yang marjuh jika tanpa qorinah.

Keluar dari perkataan kami : “dengan adanya kemungkinan makna lainnya” : Nash yang tegas, karena ia tidak memiliki kemungkinan kecuali hanya satu makna.

BERAMAL DENGAN DALIL YANG DZOHIR :

Beramal dengan dalil yang dzohir adalah wajib kecuali jika ada dalil yang memalingkannya dari makna dzohirnya. Karena ini merupakan jalannya para
salaf, dan karena ini lebih hati-hati dan lebih melepaskan tanggungan, dan lebih kuat dalam ta’abbud dan ketundukan.

DEFINISI MU’AWWAL :

Mu’awwal secara bahasa : dari kata “al-Awli” yakni kembali.
Secara istilah :

“Apa-apa yang lafadznya dibawa pada makna yang marjuh.”
Keluar dari perkataan kami : “pada makna yang marjuh” : Nash dan Dzohir.
Adapun nash, karena ia tidak mengandung kemungkinan kecuali hanya satu makna, dan adapun dzohir, karena ia dibawa kepada makna yang rojih.
Ta’wil ada dua macam : Shohih diterima dan Rusak ditolak.

1 Ta’wil yang shohih : yang ditunjukkan atas makna tersebut dengan dalil yang shohih, seperti ta’wil terhadap firman Alloh ta’ala :
“bertanyalah kepada desa…” [QS. Yusuf : 82]
Kepada makna “bertanyalah kepada penduduk desa” , karena desa tidak mungkin untuk diberi pertanyaan kepadanya.

2 Ta’wil yang rusak : yang tidak ada dalil yang shohih yang menunjukkan makna tersebut, seperti ta’wil orang-orang mu’aththilah (ahli ta’thil)
terhadap firman Alloh ta’ala :“Ar-Rohman bersemayam di atas arsy” [QS. Thoha : 5]

Kepada makna istaula (????? / menguasai), dan yang benar bahwa maknanya adalah ketinggian dan menetap, tanpa takyif dan tamtsil.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *