Fiqih 00 – Belajar Ushul Fiqih 12

AN-NASKH

Naskh secara bahasa : Penghilangan dan Pemindahan.

Secara istilah :

“Terangkatnya (dihapusnya, pent) hukum suatu dalil syar’i atau lafadznya dengan dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah.”

Yang dimaksud dengan perkataan kami : (??? ???) ” Terangkatnya hukum” yakni : perubahannya dari wajib menjadi mubah atau dari mubah menjadi haram misalnya.

Keluar dari hal tersebut perubahan hukum karena hilangnya syarat atau adanya penghalang, misalnya terangkatnya kewajiban zakat karena kurangnya nishob atau kewajiban sholat karena adanya haid, maka hal tersebut tidak dinamakan sebagai naskh.

Dan yang dimaksud dengan perkataan kami : (???? ??) “atau lafadznya” :

lafadz suatu dalil syar’i, karena naskh bisa terjadi pada hukumnya saja tanpa lafadznya, atau sebaliknya, atau pada keduanya (hukum dan lafadznya) secara bersamaan sebagaimana yang akan datang.

Keluar dari perkataan kami :  “dengan dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah” : apa yang selain keduanya dari dalil-dalil syar’i, seperti ijma’ dan qiyas maka suatu dalil tidak bisa di-naskh dengan keduanya.

NASKH ITU MUNGKIN TERJADI SECARA AKAL DAN TERJADI SECARA SYAR’I.

Adapun kemungkinannya secara akal : karena di tangan Alloh-lah semua perkara, dan milik-Nyalah hukum, karena Dia adalah Ar-Robb Al-Malik, maka Alloh berhak mensyariatkan kepada hamba-hamba-Nya apa-apa yang menjadi konsekuensi hikmah dan rahmat-Nya. Apakah tidak masuk akal jika al-Malik memerintahkan kepada yang dimiliki-Nya dengan apa yang dikehendaki-Nya?

Kemudian konsekuensi hikmah dan rahmat Alloh ta’ala kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia mensyariatkan kepada mereka dengan apa-apa yang diketahui-Nya bahwa di dalamnya dapat tegak maslahat-maslahat agama dan dunia mereka. Dan maslahat-maslahat berbeda-beda tergantung kondisi dan waktu, terkadang suatu hukum pada suatu waktu atau kondisi adalah lebih bermaslahat bagi para hamba, dan terkadang hukum yang lain pada waktu dan kondisi yang lain adalah lebih bermaslahat, dan Alloh Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Adapun terjadinya naskh secara syar’i, dalil-dalilnya adalah :

Firman Alloh ta’ala:

“Ayat mana saja yang Kami naskh, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.” [QS. al-Baqoroh : 106]

Firman Alloh ta’ala:

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu” [QS. al-Anfal : 66]

“Maka sekarang campurilah mereka” [QS. al-Baqoroh : 187]

Maka ini adalah nash tentang terjadinya perubahan hukum yang sebelumnya.

Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

“Aku dahulu melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka (sekarang) berziarahlah” [HR. Muslim]

Ini merupakan nash tentang dinaskh-nya larangan menziarahi kubur.

DALIL YANG TIDAK BISA DI-NASKH

Naskh tidak bisa terjadi pada beberapa hal berikut ini :

1 Al-Akhbar (Khobar-khobar), karena naskh tempatnya adalah dalam masalah hukum dan karena me-naskh salah satu di antara dua khobar berarti melazimkan bahwa salah satu di antara kedua khobar tersebut adalah dusta. Dan kedustaan adalah suatu hal yang mustahil bagi khobar dari Alloh dan Rosul-Nya, kecuali apabila hukum tersebut datang dalam bentuk khobar, maka tidak mustahil untuk di-naskh, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

“Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.” [QS. Al-Anfal : 65]

Maka sesungguhnya ayat ini adalah khobar yang maknanya adalah perintah, oleh karena itu naskh-nya datang pada ayat yang berikutnya, yaitu firman Alloh ta’ala :

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir.” [QS.Al-Anfal : 66]

2 – Hukum-hukum yang maslahatnya berlaku di setiap waktu dan tempat :

seperti tauhid, pokok-pokok keimanan, pokok-pokok ibadah, akhlaq-akhlaq yang mulia seperti kejujuran dan kesucian, kedermawanan dan keberanian

dan yang semisalnya. Maka tidak mungkin me-naskh perintah terhadap hal-hal tersebut, dan begitu pula tidak mungkin me-naskh larangan tentang apa-apa yang tercela di setiap waktu dan tempat, seperti syirik, kekufuran, akhlaq-akhlaq yang buruk seperti dusta, berbuat fujur (dosa), bakhil, penakut dan

yang semisalnya, karena syari’at-syari’at semuanya adalah untuk kemaslahatan para hamba dan mencegah mafsadat dari mereka.

SYARAT-SYARAT NASKH

Disyaratkan dalam me-naskh apa yang mungkin untuk di-naskh dengan syarat-syarat di antaranya :

1 – Tidak mungkinnya dilakukan jama’ (penggabungan makna) antara kedua dalil, apabila memungkinkan untuk di-jama’ maka tidak boleh di-naskh karena memungkinkannya untuk beramal dengan kedua dalil tersebut.

2 – Pengetahuan tentang lebih terbelakangnya (lebih akhir datangnya, pent) dalil yang me-naskh (naasikh) dan hal tersebut bisa diketahui dengan nash atau khobar dari sahabat atau dengan tarikh (sejarah).

Contoh yang diketahui lebih akhirnya yang me-naskh dengan nash adalah sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

“Dahulu aku mengizinkan kalian untuk nikah mut’ah dengan wanita, maka sesungguhnya Alloh telah mengharomkannya sampai hari kiamat”.

Contoh yang diketahui dengan khobar sahabat adalah perkataan Aisyah rodhiyallohu anha :

“Dahulu dalam apa yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah sepuluh kali persusuan menjadikan mahrom, kemudian dihapus menjadi lima kali persusuan”.

Contoh yang diketahui dengan tarikh adalah firman Alloh ta’ala :

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu” [QS. Al-Anfal : 66]

Kata (???) “sekarang”, menunjukkan atas lebih akhirnya hukum tersebut. Dan demikian juga jika disebutkan bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam menghukumi sesuatu sebelum hijroh, kemudian setelah itu beliau menghukumi dengan yang menyelisihinya, maka yang kedua (setelah hijroh, pent) adalah sebagai naasikh (yang me-naskh).

3 – Naasikh-nya Shohih, dan jumhur mensyaratkan bahwa naasikh harus lebih kuat dari yang mansukh (yang di-naskh) atau semisal/sederajat dengannya, sehingga menurut mereka dalil yang mutawatir tidak bisa di-naskh dengan dalil yang ahad, walaupun dalil ahad tersebut shohih. Dan yang rojih adalah

bahwasanya naasikh tidak disyaratkan harus lebih kuat dari yang mansukh atau sederajat dengannya, karena tempatnya naskh adalah masalah hukum, dan dalam penetapan hukum tidak disyaratkan derajatnya harus mutawatir.

MACAM-MACAM AN-NASKH :

Naskh ditinjau dari nash yang mansukh terbagi menjadi tiga macam :

1- Apa yang di-naskh hukumnya dan tertinggal lafadznya, dan ini banyak dalam Al-Qur’an.

Contohnya : dua ayat Al-Mushobaroh yakni firman Alloh ta’ala :

“Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan

dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.” [QS. Al-Anfal : 65] Hukumnya di-naskh dengan firman Alloh ta’ala :

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir. Dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS. Al-Anfal : 66]

Dan hikmah di-naskhnya hukum tanpa lafadznya adalah tetap adanya pahala membacanya dan mengingatkan ummat tentang hikmah naskh tersebut.

2 – Apa yang di-naskh lafadznya dan hukumnya tetap berlaku seperti ayat rajam, dan telah shohih dalam “Ash-Shohihain” dari hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma dari Umar bin Al-Khoththob rodhiyallohu anhu, ia berkata  :

“Dahulu diantara ayat yang Alloh turunkan adalah ayat rajam, maka kami membacanya, memahaminya, dan menghafalnya. Dan Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam melakukan hukum rajam dan kamipun melakukan hukum rajam setelah beliau, maka aku khawatir seandainya manusia telah melewati

waktu yang panjang, seseorang akan berkata : Demi Alloh, kami tidak menemukan ayat rajam dalam kitab Alloh, maka mereka menjadi sesat dengan meninggalkan kewajiban yang telah diturunkan oleh Alloh, sesungguhnya rajam dalam Kitabulloh adalah hak terhadap orang yang berzina, jika laki-laki dan perempuan itu adalah muhshon (pernah menikah, pent) dan kejelasan (persaksian) telah ditegakkan atau hamil atau adanyapengakuan.”

Dan hikmah di-naskhnya lafadz tanpa hukumnya adalah sebagai ujian bagi ummat dalam mengamalkan apa yang mereka tidak mendapatkan lafadznya dalam Al-Qur’an, dan menguatkan iman mereka terhadap apa yang diturunkan Alloh ta’ala, kebalikan dari keadaan orang yahudi yang berusaha menyembunyikan nash rajam dalam Taurot.

3 – Apa yang di-naskh hukum dan lafadznya, seperti di-naskhnya sepuluh kali persusuan dari hadits Aisyah rodhiyallohu anha yang telah lalu. Naskh ditinjau dari yang me-naskh dibagi menjadi empat macam :

1 – Di-naskhnya Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, contohnya adalah dua ayat al-Mushobaroh.

2 – Di-naskhnya Al-Qur’an dengan As-Sunnah, aku belum menemukan contoh yang selamat/ shohih.

3 – Di-naskhnya As-Sunnah dengan Al-Qur’an, contohnya adalah di-naskhnya hukum (sholat) menghadap Baitul Maqdis yang telah shohih dengan As-

Sunnah dengan hukum menghadap Ka’bah yang telah shohih dengan firman Alloh ta’ala :

“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” [Al-Baqoroh : 144]

4 –  Di-naskhnya As-Sunnah dengan As-Sunnah, contohnya sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

“Dahulu aku melarang kalian dari meminum nabidz yang disimpan di tempat-tempat, maka (sekarang) minumlah sesuai dengan kehendak kalian, dan jangan kalian meminum sesuatu yang memabukkan.”

HIKMAH NASKH :

Naskh mempunyai banyak hikmah diantaranya :

  1. Memelihara maslahat-maslahat para hamba dengan disyariatkannya apa yang lebih bermanfaat bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka.
  2. Berkembangnya syari’at sedikit demi sedikit hingga mencapai kesempurnaan.
  3. Ujian bagi para mukallaf terhadap kesiapan mereka untuk menerima perubahan suatu hukum kepada yang lain, dan keridho’an mereka terhadap hal tersebut.
  4. Ujian bagi para mukallaf untuk menegakkan tugas bersyukur jika naskh itu kepada hukum yang lebih ringan, dan tugas untuk bersabar jika naskh itu kepada hukum yang lebih berat.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *