Fiqih 00 – Belajar Ushul Fiqih 09

MUTLAK DAN MUQOYYAD

DEFINISI MUTLAK: Mutlak secara bahasa adalah :  lawan dari Muqoyyad.
Dan secara istilah : “Apa-apa yang menunjukkan atas hakikat tanpa ikatan” Sebagaimana firman Alloh ta’ala :

“Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur” [QS. al-Mujadilah : 3]

Maka keluar dari perkataan kami : “apa-apa yang menunjukkan atas hakikat”: umum (?????), karena umum menunjukkan atas keumuman, bukan mutlak hakikat saja. Maka keluar dari perkataan kami : “tanpa ikatan” : Muqoyyad.

DEFINISI MUQOYYAD : Muqoyyad  secara bahasa adalah : Apa yang dijadikan padanya suatu ikatan dari unta dan yang semisalnya.
Dan secara istilah : “Apa-apa yang menunjukkan hakikat dengan ikatan” Sebagaimana firman Alloh ta’ala :

“(hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman” [QS.an-Nisa’ : 92]

Maka keluar dari perkataan kami : “dengan ikatan” : Mutlak.

BERAMAL DENGAN NASH YANG MUTLAK :

Wajib beramal dengan nash yang mutlak berdasarkan kemutlakannya kecuali jika ada dalil yang men-taqyid-nya (mengikatnya), karena beramal dengan nash-nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah adalah wajib berdasarkan atas apa-apa yang menjadi konsekuensi penunjukkan-penunjukannya sampai ada
dalil yang menyelisihi hal itu.

Jika terdapat nash yang mutlak dan nash yang muqoyyad, wajib mengikat nash yang mutlak tersebut dengan nash yang muqoyyad jika hukumnya satu
(dalam satu permasalahan, pent), dan jika tidak, maka setiap nash diamalkan berdasarkan apa-apa yang ada padanya, dari mutlak atau muqoyyad.
Contoh yang hukum keduanya satu : firman Alloh ta’ala :

“maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur” [QS. al-Mujadalah : 3]

Dan firman Alloh dalam kafarot membunuh :

“(hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman” [QS.an-Nisa’ : 92]

Contoh yang hukum keduanya tidak satu : Firman Alloh ta’ala :

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya” [QS. al-Ma’idah : 38]

Dan firman Alloh dalam ayat wudhu’ :

“Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku” [QS. al-Ma’idah : 6]

Maka hukumnya berbeda, yang pertama memotong dan yang kedua membasuh, maka ayat yang pertama tidak bisa diikat dengan ayat yang kedua, bahkan tetap pada kemutlakannya, sehingga pemotongan adalah sampai pergelangan tangan dan membasuh sampai siku.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *