Fiqih 00 – Belajar Ushul Fiqih 08

KHUSUS
Khusus  secara bahasa : Lawan dari umum.
Dan secara istilah :

“Suatu lafadz yang menunjukkan atas sesuatu yang terbatas dengan orang tertentu atau bilangan tertentu, seperti nama-nama , isyarat dan jumlah.”
Keluar dari perkataan kami : “atas sesuatu yang terbatas” : umum.
Pengkhususan secara bahasa : lawan dari pengumuman.

Secara istilah :
“Mengeluarkan sebagian anggota yang umum.”

Dan yang mengkhususkan  : Pelaku pengkhususan yaitu pembuat syariat, dan dimutlakkan sebagai dalil yang dihasilkan dengannya pengkhususan.

Dalil takhsis ada dua macam : Muttashil dan Munfashil.

Muttashil (bersambung) : yang tidak bisa berdiri sendiri.
Munfashil (terpisah) : yang bisa berdiri sendiri.

Di antara Mukhoshshis Muttasil :
Pertama : pengecualian/istitsna’ yaitu secara bahasa : berasal dari kata الثني) ), yaitu mengembalikan sebagian dari sesuatu kepada sebagian yang lain,
seperti mengembalikan sebagian dari tali kepada sebagian yang lain.

Secara istilah : “mengeluarkan sebagian anggota sesuatu yang umum dengan illa (??) atau salah satu saudara-saudaranya, seperti firman Alloh :

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan saling berwasiat untuk mentaati kebenaran dan saling berwasiat untuk menetapi kesabaran.” [QS. al-‘Ashr : 2-3]

Keluar dari perkataan kami : (??????? ????? ?? ???) “dengan illa (kecuali) atau salah satu saudara-saudaranya” : takhshih dengan syarat dan yang lainnya.

SYARAT ISTITSNA’ (PENGECUALIAN) :

Benarnya istitsna’ disyaratkan dengan beberapa syarat, diantaranya :

[1] Bersambungnya dengan yang dikecualikan , secara hakiki atau secara hukum.

Muttashil secara hakiki : yang langsung bersambung dengan yang dikecualikan dari sisi keduanya tidak dipisah dengan suatu pemisah.
Muttashil secara hukum : yang dipisahkan antara sesuatu yang umum dengan yang dikecualikan darinya dengan pemisah yang tidak mungkin untuk
dicegah, seperti batuk atau bersin.

Jika antara keduanya terpisah dengan suatu pemisah yang mungkin dicegah atau dengan diam, maka istitsna’-nya tidak sah. Seperti  seseorang mengatakan :  “Semua budak-budakku bebas” kemudian ia diam atau berbicara dengan pembicaraan yang lain lalu mengatakan : “kecuali
Sa’id”, maka istitsna’-nya tidak sah dan semuanya budaknya bebas.

Dan dikatakan : istitsna’ dengan diam atau ada pemisah adalah sah, jika masih dalam satu pembicaraan yang sama, berdasarkan hadits Ibnu Abbas
rodhiyallohu anhuma:

Bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata pada hari fat-hul Makkah (penaklukan Makkah) : “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan
negri ini pada hari ketika Dia menciptakan langit dan bumi, tidak boleh dipotong durinya dan tidak boleh dipotong ranting-rantingnya” al-Abbas
berkata : “wahai Rasululloh, kecualikan idzkhir, karena idzkhir adalah untuk kebutuhan mereka dan rumah mereka”, lalu Rasululloh bersabda : “kecuali
idzkhir”. Dan pendapat ini lebih rojih berdasarkan penunjukkan hadits ini atasnya.

[2] Yang dikecualikan tidak lebih banyak dari setengah yang dikecualikan darinya, seandainya dikatakan :

“Saya memiliki hutang terhadapnya sepuluh dirham kecuali enam”, istitsna’- nya tidak sah dan ia harus mengeluarkan 10 seluruhnya.
Dan dikatakan : yang demikian tidak disyaratkan sehingga istitsna’-nya sah, walaupun yang dikecualikan lebih banyak dari setengah, maka pada contoh
yang tadi tidak mengharuskannya untuk mengeluarkan kecuali hanya 4 saja.

Adapun jika dikecualikan semuanya, maka tidak sah berdasarkan dua pendapat tadi. Jika seseorang mengatakan :  “Saya memiliki hutang terhadapnya sepuluh kecuali sepuluh”, mengharuskannya membayar sepuluh seluruhnya.

Dan syarat ini adalah jika istitsna’nya dalam bentuk jumlah, adapun jika dalam bentuk sifat maka sah walaupun dikeluarkan semua atau kebanyakan,
misalnya : firman Alloh ta’ala kepada iblis :

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu dari orang-orang yang sesat.”
[QS. al-Hijr : 42]

Dan pengikut iblis dari kalangan anak adam adalah lebih banyak dari separuh jumlah mereka, seandainya aku mengatakan :

“Berikanlah kepada siapa yang di rumah itu kecuali orang-orang yang kaya.”, lalu diketahui bahwa semua yang ada di rumah itu adalah orang kaya, maka
istitsna’nya sah dan mereka tidak diberi apa-apa.

Yang kedua : yang termasuk mukhoshshish muttashil  : syarat, yaitu secara bahasa :  tanda. Dan yang dimaksud dengannya di sini :

“menggantungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain adanya atau tidak adanya dengan   atau salah satu dari saudara-saudaranya.”
Dan syarat merupakan mukhoshshish (yang mengkhususkan), baik diletakkan di depan atau diakhirkan.
Contoh yang diletakkan di depan adalah firman-Nya ta’ala kepada orang-orang musyrik :

“Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan” [QS. at-Taubah : 5]
Dan contoh yang diakhirkan adalah firman-Nya ta’ala :

“Dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka” [QS. an-Nur : 33]

Yang ketiga :  Sifat, yaitu :

“Yang memberikan kesan suatu makna yang menjadi khusus dengannya sebagian anggota yang umum dari na’at atau badal atau haal.”
Misal dari na’at  adalah firman-Nya ta’ala :

“Maka dari yang kamu miliki dari budak-budak wanita yang beriman” [QS.an-Nisa’ : 25]

Misal dari badal  adalah firman-Nya ta’ala :

“Atas manusia ada kewajiban terhadap Allah untuk haji ke Baitulloh, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana” [QS. Ali Imron
: 97]
Misal dari haal  adalah firman-Nya ta’ala :

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya” [QS. an-Nisa’ : 93]

MUKHOSHSHISH MUNFASIL
Mukhoshshish Munfasil adalah : Mukhoshshish yang berdiri sendiri, yaitu ada tiga hal : perasaan, akal dan syari’at.
Contoh takhshish dengan perasaan adalah firman Alloh ta’ala tentang angin untuk kaum ‘Aad :

“yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya” [QS. Al-Ahqof : 25]

Maka perasaan menunjukkan bahwa angin tersebut tidak menghancurkan langit dan bumi.

Contoh takhshish dengan akal adalah firman Alloh ta’ala :

“Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [QS. al-Ahqof : 33]

Maka akal menunjukkan bahwa Dzat Alloh ta’ala bukanlah makhluk. Dan diantara ‘ulama ada yang berpendapat bahwa apa-apa yang
dikhususkan dengan perasaan dan akal bukanlah sesuatu yang umum yang dikhususkan, akan tetapi merupakan umum yang dimaksudkan dengannya
sesuatu yang khusus.

Adapun takhshish dengan syari’at, maka al-Qur’an dan as-Sunnah dikhususkan dengan yang semisalnya dan dengan ijma’ dan qiyas.
Contoh Takhshish al-Qur’an dengan al-Qur’an : firman Alloh ta’ala :

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'” [QS. al-Baqoroh : 228]
Dikhususkan dengan firman-Nya ta’ala :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu
mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.” [QS. al-Ahzab : 49]

Contoh takhshish al-Qur’an dengan as-Sunnah : ayat warisan, seperti firman-Nya ta’ala :

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu. Yaitu : bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang
anak perempuan.” [QS. an-Nisa’ : 11]

Dan yang semisal dengan ayat ini dikhususkan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Seorang muslim tidak mewarisi orang kafir, dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim.”
Contoh takhshish al-Qur’an dengan Ijma’ : firman Alloh ta’ala :

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah
mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera.” [QS. an-Nur : 4]

Dikhususkan dengan ijma’ bahwa budak yang menuduh hukumannya didera (dicambuk) 40 kali. Demikianlah yang dijadikan contohkan oleh para
ahli ushul, dan hal ini perlu diperiksa kembali dikarenakan adanya khilaf dalam masalah ini, dan aku belum mendapati contoh yang selamat (dari
adanya khilaf, pent).

Contoh takhshish al-Qur’an dengan Qiyas : firman Alloh ta’ala :

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera.” [QS. an-Nur : 2]

Dikhususkan dengan mengqiyaskan budak laki-laki yang berzina terhadap budak perempuan yang berzina dalam menjadikan hukumannya separuh, dan
dikurangi menjadi lima puluh dera, menurut pendapat yang masyhur.

Dan contoh takhshish As-Sunnah dengan Al-Qur’an : sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh dan
bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh….” Al-Hadits. Dikhususkan dengan firman Alloh ta’ala :

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang
diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada
mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” [At-Taubah : 29]

Dan contoh takhshish As-Sunnah dengan As-Sunnah : sabda Rosul shollallohu alaihi wa sallam :

“Apa-apa (pertanian, pent) yang diairi dengan air hujan zakatnya adalah sepersepuluh”
Dikhususkan dengan sabdanya shollallohu alaihi wa sallam :

“Tidak ada zakat bagi (hasil pertanian, pent) yang di bawah 5 wisq”. Dan aku (asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin, pent) belum menemukan contoh takhshish As-Sunnah dengan ijma’.

Dan contoh takhshish As-Sunnah dengan qiyas : sabda Rosul shollallohu alaihi wa sallam :

“Laki-laki yang belum menikah dan perempuan yang belum menikah (yang berzina, pent) didera seratus kali dan diasingkan selama 1 tahun.”
Dikhususkan dengan mengqiyaskan budak laki-laki yang berzina terhadap budak perempuan yang berzina dalam menjadikan hukumannya separuh, dan
dikurangi menjadi lima puluh dera, menurut pendapat yang masyhur.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *