Fiqih 00 – Belajar Ushul Fiqih 07

UMUM

Umum  secara bahasa :   Yang mencakup.
Dan secara istilah :  “Lafadz yang mencakup untuk semua anggotanya tanpa ada pembatasan”

Contohnya :

“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar  berada dalam syurga yang penuh kenikmatan.” [QS. Al-Infithor : 13 dan Al-Muthoffifin : 22]

Maka keluar dari perkataan kami :  “yang mencakup untuk semua anggotanya” : apa-apa yang tidak mencakup kecuali satu, seperti nama
sesuatu dan Isim Nakiroh dalam konteks untuk penetapan   sebagaimana firman Allah ta’ala :

“Maka bebaskanlah seorang budak  ” [QS. Al-Mujadalah : 3]

Karena ayat ini tidak mencakup semua anggotanya secara menyeluruh, dan hanya saja ayat ini mencakup satu dari anggotanya yang tidak ditentukan.
Dan keluar dari perkataan kami :  “tanpa ada pembatasan” : apa-apa yang mencakup seluruh anggotanya dengan pembatasan, seperti nama-nama bilangan: ratusan, ribuan dan yang semisal keduanya.

BENTUK-BENTUK UMUM
Bentuk-bentuk umum ada tujuh :
1. Apa-apa yang menunjukkan atas keumumannya dengan alat-alatnya (yang menunjukkan keumuman, pent), contohnya :
Sebagaimana firman Allah ta’ala :

“Sesungguhnya segala sesuatu  Kami ciptakan menurut ukuran” [QS. Al-Qomar : 49]

2. Kata-kata syarat , sebagaimana firman Allah ta’ala :
“Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri” [QS. Al-Jatsiyah : 15]

akan kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah” [QS. Al-Baqoroh : 115]

3. Kata-kata tanya (???????? ????), sebagimana firman Allah ta’ala :
“Maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?” [QS.Al-Mulk : 30]

“Apakah jawabanmu kepada para Rosul?” [QS. Al-Qoshosh : 65]
“Maka kemanakah kamu akan pergi?” [QS. At-Takwir : 26]

4. Kata-kata sambung , sebagaimana firman Allah ta’ala :
“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan mem-benarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” [QS.Az-Zumar :33]

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” [QS. Al-Ankabut : 69]

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).” [QS. An-Nazi’at : 26]

“Kepunyaan Allah apa-apa yang ada di langit dan yang ada di bumi.” [QS.Ali Imron : 109]

5. Isim Nakiroh dalam konteks peniadaan, larangan, syarat, atau pertanyaan yang maksudnya adalah pengingkaran, sebagaimana firman Allah ta’ala :

“Dan tidaklah ada Sesembahan (yang berhak disembah) selain Allah” [QS.Ali-Imron : 62]

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun” [QS. An-Nisa’ : 36]

“Jika kamu melahirkan sesuatu atau menyembunyikannya, maka sesung-guhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. Al-Ahzab : 54]

“Siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?” [QS. Al-Qoshosh : 71]

6. Yang dima’rifatkan dengan idhofah baik tunggal ataupun jama’, sebagaimana firman Allah ta’ala :

“Dan ingatlah nikmat Allah atas kalian” [QS. Ali Imron : 103 dan al-Ma’idah : 7]

“maka ingatlah nikmat-nikmat Allah.” [QS. al-A’rof : 74]

7. Yang dima’rifatkan dengan alif-lam al-Istighroqiyyah , alif-lam
yang menunjukkan umum, pent) baik tunggal maupun jama’, sebagaimana firman Allah ta’ala :

“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” [QS. An-Nisa’:28]

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin” [QS. An-Nuur : 59]

Adapun yang dima’rifatkan dengan alif-lam al-ahdiyyah , alif-lam untuk sesuatu yang sudah diketahui) maka hal ini tergantung dari isim yang sudah diketahui tersebut (yakni yang dimasuki alif-lam al-ahdiyyah, pent), jika ia umum maka yang dima’rifatkan juga umum, dan jika ia khusus maka yang dima’rifatkan juga khusus. Contoh dari yang umum adalah firman Allah ta’ala :

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat :
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” Lalu seluruh malaikat-malaikat  itu bersujud semuanya.” [QS. Ash Shod : 71-73]

Contoh dari yang khusus adalah firman Allah ta’ala :

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir’aun. Maka Fir’aun mendurhakai Rasul  itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.” [QS. Al-Muzammil : 15-16]

Adapun yang dima’rifatkan dengan Alif-lam untuk menjelaskan jenis, maka tidak bersifat umum kepada setiap anggotanya, jika kamu berkata :

“Laki-laki itu lebih baik daripada wanita”, atau  “Kaum laki-laki lebih baik daripada kaum wanita”

Maka maksudnya bukanlah bahwa setiap perorangan dari laki-laki lebih baik daripada setiap perorangan dari wanita. Dan hanya saja maksudnya adalah bahwa jenis ini (laki-laki,pent) lebih baik daripada jenis ini (wanita, pent). Dan kadang-kadang dijumpai seseorang dari wanita yang lebih baik dari sebagian laki-laki.

BERAMAL DENGAN DALIL YANG UMUM
Wajib beramal dengan keumuman lafadz dalil yang umum sampai ada dalil shohih yang mengkhususkannya, karena beramal dengan nash-nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah adalah wajib berdasarkan yang ditunjukkan oleh penunjukannya, sampai ada dalil yang menyelisihinya.

Jika ada suatu dalil umum dengan sebab yang khusus, maka wajib beramal sesuai keumumannya. Karena yang menjadi ibroh (sandaran) adalah umumnya lafadz bukan kekhususan sebab  kecuali jika ada dalil yang menunjukkan pengkhususan dalil yang umum tersebut
dengan apa yang menyerupai keadaan sebab (asbabun nuzul atau wurud, pent) yang dalil itu turun karenanya, maka dikhususkan dengan yang menyerupai sebab tersebut.

Contoh yang tidak ada dalil menunjukkan atas pengkhususannya : Ayat tentang zhihar (yakni seorang suami mengatakan kepada isrinya : “bagiku kamu seperti punggung ibuku”, pent), sebab turunnya adalah perbuatan zhihar yang dilakukan Aus bin Shomit, dan hukumnya umum untuknya dan untuk yang selainnya.

Contoh yang ada dalil yang menunjukkan atas pengkhususannya : Sabda Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam :
??Bukanlah termasuk kebaikan, berpuasa ketika safar.”

Sebabnya adalah ketika Nabi shollallohu alaihi wa sallam dalam suatu safar, beliau melihat keramaian dan ada seseorang yang diberi naungan (dari terik matahari, pent) lalu Rosullulloh bersabda :

“Ada apa ini?” Mereka berkata : “Dia orang yang sedang berpuasa.” Lalu Rosullulloh bersabda : “Bukanlah termasuk kebaikan, berpuasa ketika safar.”
Ini merupakan dalil umum yang khusus untuk orang yang menyerupai kondisi orang ini, yakni berat baginya puasa ketika safar. Dan dalil yang
menunjukkan pengkhususannya bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam pernah berpuasa ketika safar dimana hal itu tidak memberatkannya, dan Rosullullah shollallohu alaihi wa sallam tidak melakukan sesuatu kecuali kebaikan.

والله أعلمُ بالـصـواب

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *