Fiqih 00 – Belajar Ushul Fiqih 06

LARANGAN

Larangan adalah :
 
“Perkataan yang mengandung permintaan untuk menahan diri dari suatu perbuatan dalam bentuk isti’la’ (dari atas ke bawah) dengan bentuk khusus yaitu fi’il mudhori’ yang didahului dengan ‘la nahiyah’ (Yakni [ﻻ] yang bermakna larangan, pent).”

 
Seperti firman Allah :
 
“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat.” [QS. Al-An’am:105]
 
Keluar dari perkataan kami : “perkataan” : isyarat , maka isyarat tidak dinamakan sebagai larangan walaupun maknanya memiliki faidah sebagai larangan.
 
Keluar dari perkataan kami :  “permintaan untuk menahan diri dari suatu perbuatan”: perintah , karena perintah adalah permintaan untuk melakukan suatu perbuatan.”
 
Keluar dari perkataan kami :  “dalam bentuk isti’la'” :
 
sejajar  dan doa , dan yang selainnya yang memberi faidah larangan dengan adanya qorinah. 
 
Keluar dari perkataan kami :  “dengan bentuk khusus yaitu fi’il mudhori’ yang didahului dengan la nahiyah” : apa-apa
yang menunjukkan atas permintaan menahan diri dari sesuatu dengan bentuk perintah , seperti : “tinggalkan”,  “tinggalkan”,  “cukup”, dan yang selainnya, maka walaupun ini mengandung permintaan untuk menahan diri dari sesuatu, tapi fi’il-fi’il tersebut dalam bentuk perintah , maka fi’il-fi’il tersebut adalah bermakna perintah, bukan larangan.
 
Dan terkadang yang selain bentuk larangan  memberi faidah permintaan untuk menahan diri dari suatu perbuatan seperti suatu perbuatan yang disifati dengan keharoman, larangan atau keburukan, atau atau pelakunya dicela, atau mengerjakannya mendapat adzab.
 
APA-APA YANG MENJADI KOSEKUENSI BENTUK LARANGAN:
 
Bentuk larangan secara mutlak menunjukkan keharoman dan rusaknya sesuatu yang dilarang tersebut. Diantara dalil-dalil bahwa larangan itu menunjukkan keharoman adalah
firman Allah ta’ala :
 
“Apa-apa (perintah) yang datang kepada kalian dari Rosul maka ambillah (kerjakanlah) dan apa-apa yang dilarang oleh Rosul maka berhentilah (tinggalkanlah)” [QS. Al-Hasyr : 7] 
 
Maka perintah untuk berhenti (meninggalkan dari apa yang dilarang) menunjukkan wajibnya berhenti, dan konsekuensinya adalah haramnya mengerjakan perbuatan tersebut.
 
Diantara dalil-dalil bahwa larangan itu menunjukkan rusaknya suatu perbuatan adalah sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah :
 
“Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada padanya perintah kami maka perbuatan tersebut tertolak.”
 
Yakni ditolak (ﻣﺮﺩﻭﺩ), dan apa-apa yang Nabi shollallahu alaihi wa sallam melarang dari mengerjakannya, maka tidak ada padanya perintah Nabi shollallahu alaihi wa sallam, sehingga perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang ditolak.
Demikian dan dalam kaidah al-madzhab (maksudnya adalah madzhab hambali, pent) dalam perbuatan yang dilarang; apakah perbuatan tersebut menjadi batal atau tetap sah dengan adanya pengharaman (terhadap perbuatan tersebut)? adalah sebagai berikut :
 
1. Bahwa larangan tersebut kembali pada dzat yang dilarang atasnya atau syaratnya maka sesuatu itu menjadi batal.

2. Bahwa larangan tersebut kembali pada perkara luar yang tidak berhubungan dengan dzat yang dilarang atasnya dan tidak pula berhubungan dengan syaratnya maka sesuatu itu tidak menjadi batal.
 
Misal larangan yang kembali pada dzat yang dilarang dalam masalah ibadah adalah : Larangan untuk berpuasa pada dua hari Ied.

Misal larangan yang kembali pada dzat yang dilarang dalam masalah mu’amalah adalah : Larangan untuk berjual beli setelah adzan sholat jum’at yang kedua bagi orang-orang yang wajib sholat jum’at.
 
Misal larangan yang kembali pada syaratnya dalam masalah ibadah adalah: Larangan bagi laki-laki untuk memakai pakaian dari sutera, menutup aurat adalah syarat sahnya sholat, jika dia menutupnya dengan pakaian yang dilarang atasnya, maka sholatnya tidak sah karena larangan tersebut kembali pada syaratnya.
Misal larangan yang kembali pada syaratnya dalam masalah mu’amalah adalah: Larangan untuk berjual beli dengan suatu binatang yang masih berada dalam perut induknya, maka pengetahuan tentang sesuatu yang akan diperjual belikan adalah syarat sahnya jual beli, jika seseorang berjual beli
dengan suatu binatang yang masih berada dalam perut induknya, maka jual beli tersebut tidak sah karena larangan tersebut kembali pada syaratnya.
 
Misal larangan yang kembali pada perkara luar dalam masalah ibadah adalah : larangan bagi laki-laki untuk memakai imamah dari sutera, jika dia sholat dan memakai imamah dari sutera maka sholatnya tidak batal, karena larangan tidak kembali kepada dzatnya sholat dan syaratnya.
 
Misal larangan yang kembali pada perkara luar dalam masalah mu’amalah adalah : larangan untuk menipu, maka jika seseorang melakukan jual beli sesuatu dengan menipu, jual beli tersebut tidak batal karena larangan tidak kembali pada dzatnya jual beli dan syaratnya.
 
Dan terkadang suatu larangan keluar dari hukum haram kepada hukum lain dengan dalil yang menunjukkan hal itu, diantaranya :
 
1. Makruh, mereka (ulama ushul fiqh, pent) memberi permisalan hal itu dengan sabda Nabi shollallahu alahi wa sallam :
 
“Janganlah salah seorang diantara kalian menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan ketika sedang kencing.”
 
Maka jumhur ulama mengatakan : “Sesungguhnya larangan disini adalah menunjukkan kemakruhan, karena kemaluan adalah salah satu bagian tubuh manusia, dan hikmah dari larangan tersebut adalah mensucikan tangan kanan.”
 
2. Sebagai arahan, misalnya sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam kepada Mu’adz :” Janganlah kamu meninggalkan untuk membaca disetiap akhir sholat :
 
“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan untuk memperbaiki ibadahku kepada-Mu.”
 
ORANG YANG MASUK DALAM PEMBICARAAN PERINTAH DAN LARANGAN :
 
Orang yang masuk dalam pembicaraan perintah dan larangan adalah Mukallaf, yaitu orang yang telah baligh dan berakal.
 
Maka keluar dari perkataan kami : “orang yang telah baligh”: anak kecil, maka dia tidak dibebani perintah dan larangan dengan pembebanan yang sama sebagaimana beban orang yang telah baligh, tetapi dia diperintahkan untuk melakukan ibadah setelah mencapai tamyiz, sebagai latihan baginya
dalam ketaatan dan melarang dari kemaksiatan, agar terbiasa menahan diri darinya.
 
Dan keluar dari perkataan kami : “orang yang berakal” : orang gila, maka dia tidak dibebani perintah dan larangan, tetapi dia dicegah dari apa-apa yang melampaui batas terhadap orang lain atau dari melakukan kerusakan, dan seandainya dia melakukan sesuatu yang diperintahkan atasnya, maka perbuatan tersebut tidak sah, karena tidak ada maksud untuk melaksanakan perintah Allah didalamnya.
 
Dan tidak termasuk atas hal ini diwajibkannya zakat dan hak-hak harta bagi harta anak kecil dan orang gila, karena kewajiban atas hal ini terikat dengan sebab yang tertentu, kapan didapatkan sebab itu (misalnya : haul dan nishob sebagai sebab wajibnya zakat mal, pent) maka ditetapkan hukumnya, maka sesungguhnya masalah ini dilihat pada sebabnya bukan pada pelakunya!
 
Dan taklif (pembebanan) dengan perintah dan larangan mencakup untuk orang Islam dan orang kafir, tetapi orang kafir tidak sah jika ia melakukan perbuatan yang diperintahkan disebabkan kekafirannya, berdasarkan firman Allah ta’ala :
 
“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya” [QS. At-Taubah : 54]
 
Dan ia tidak diperintahkan untuk meng-qodho’nya seandainya ia masuk islam, berdasarkan firman Allah ta’ala :
 
“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu” [QS. Al-Anfal : 38]
 
Dan sabda Nabi Shollallohu alaihi wa sallam kepada Amr bin al-Ash :
 
“Apakah kamu tidak mengetahui wahai Amr, bahwa islam menghapus apa-apa (dosa-dosa, pent) yang telah lalu”
Dan hanya saja dia akan disiksa disebabkan ia meninggalkannya (perintah, pent) jika ia mati dalam kekafiran, berdasarkan firman Allah ta’ala sebagai jawaban kepada orang-orang yang berdosa ketika mereka ditanya :
 
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan,hingga datang kepada kami kematian”” [QS. Al-Muddatsir : 32-37]
 
Penghalang-Penghalang Taklif:
Taklif (pembebanan syari’at) memiliki penghalang-penghalang,diantaranya : Kebodohan (ﺍﳉﻬﻞ), lupa (ﺍﻟﻨﺴﻴﺎﻥ) dan keterpaksaan (ﻛﺮﺍﻩﻹﺍ), berdasarkan sabda Nabi Shollallahu alaihi wa sallam 
 
“Sesungguhnya Allah telah memaafkan pada ummatku kesalahan, lupa dan apa-apa yang mereka dipaksa atasnya.” [HR Ibnu Majah dan Baihaqi] dan hadits ini memiliki penguat-penguat dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang menunjukkan atas keshohihannya.
 
Kebodohan (ﺍﳉﻬﻞ) adalah tidak adanya ilmu, maka kapan saja seorang mukallaf melakukan suatu perbuatan yang haram karena tidak tahu tentang keharomannya maka ia tidak berdosa, seperti orang yang berbicara dalam sholat karena tidak tahu tentang keharoman berbicara (dalam sholat, pent).
 
Dan jika seseorang meninggalkan suatu perbuatan yang wajib karena tidak tahu tentang wajibnya perbuatan tersebut, maka tidak wajib baginya untuk mengqodho’nya jika waktunya telah berlalu, dengan dalil bahwasanya Nabi Shollallohu alaihi wa Sallam tidak memerintahkan kepada orang yang jelek dalam sholatnya -yang dia tidak tuma’ninah dalam sholatnya-, Nabi tidak memerintahkan kepadanya untuk mengganti apa yang telah berlalu dalam sholat-sholatnya, dan hanya saja Nabi memerintahkan kepadanya untuk mengerjakan (yakni mengulang, pent) sholat yang masih pada waktunya berdasarkan sisi yang disyari’atkan.
 
Lupa (ﺍﻟﻨﺴﻴﺎﻥ) : adalah lalainya hati terhadap sesuatu yang diketahui, maka jika seseorang mengerjakan sesuatu perbuatan yang haram karena lupa, maka ia tidak berdosa, seperti orang yang makan dalam keadaan berpuasa disebabkan lupa. Dan jika seseorang meninggalkan perbuatan yang yang wajib karena lupa maka tidak ia tidak berdosa pada saat ia lupa. Tetapi dia wajib mengerjakannya ketika dia ingat, berdasarkan sabda Nabi Shollallohu alaihi wa Sallam :
 
“Barang siapa yang lupa mengerjakan sholat, maka hendaknya ia mengerjakannya ketika ia mengingatnya.”
 
Keterpaksaan  : dipaksanya seseorang mengerjakan sesuatu yang tidak ia ingink an, maka barang siapa yang dipaksa untuk melakukan sesuatu yang haram, maka ia tidak berdosa, seperti orang yang dipaksa dalam kekafiran dan hatinya tetap dalam keimanan. Dan barang siapa yang dipaksa untuk meninggalkan kewajiban maka ia tidak berdosa pada saat ia dipaksa, dan wajib baginya untuk mengqodho’nya ketika sudah tidak ada paksaan, seperti orang yang dipaksa untuk meninggalkan sholat sampai keluar waktunya, maka sesungguhnya dia wajib untuk mengqodho’nya ketika sudah tidak ada paksaan.
 
Dan hanya saja pencegah-pencegah ini berhubungan dengan hak Allah, karena hal ini dibangun atas ampunan dan rahmat-Nya, adapun dalam hak-hak sesama makhluk maka tidaklah dicegah dari menanggung apa yang wajib untuk ditanggungnya jika orang yang memiliki hak tersebut tidak ridho dengan gugurnya (hak tersebut, pent), Wallohu a’lam.
 
والله أعلمُ بالـصـواب

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *