Fiqih 00 – Belajar Ushul Fiqih 02

HUKUM-HUKUM

Al-Ahkam adalah bentuk jamak dari hukum, secara bahasa maknanya adalah keputusan/ketetapan.

Dan secara istilah :

“Apa-apa yang ditetapkan oleh seruan syari’at yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf (orang yang dibebani syari’at) dari tuntutan atau pilihan atau peletakan.”

Dan yang dimaksud dari perkataan kami : “seruan syari’at” : Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Dan yang dimaksud dari perkataan kami : “yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf”: apa-apa yang berhubungan dengan perbuatan mereka baik itu perkataan atau perbuatan, melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu.

Maka keluar dari perkataan tersebut apa-apa yang berhubungan dengan aqidah, maka tidak dinamakan hukum secara istilah.

Yang dimaksud dari perkataan kami : “mukallaf” : siapa saja yang keadaannya dibebani syari’at, maka mencakup anak kecil dan orang gila.

 

Yang dimaksud dari perkataan kami : “dari tuntutan”: perintah dan larangan, baik itu sebagai keharusan ataupun keutamaan.
Yang dimaksud dari perkataan kami : “atau pilihan”: mubah (hal-hal yang dibolehkan) Yang dimaksud dari perkataan kami : “atau peletakan”: Sah, rusak, dan yang lainnya yang diletakkan oleh pembuat syari’at dari tanda-tanda, atau sifat-sifat untuk ditunaikan atau dibatalkan.

 

PEMBAGIAN HUKUM SYARI’AT:

Hukum syari’at dibagi menjadi dua bagian : Taklifiyyah (Pembebanan) dan Wadh’iyyah (Peletakan).

Al-Ahkam at-Taklifiyyah ada lima : Wajib, mandub (sunnah), harom, makruh, dan mubah.

1. Wajib 

Secara bahasa : “yang jatuh dan harus”.

Dan secara istilah :
“Apa-apa yang diperintahkan oleh pembuat syari’at dengan bentuk keharusan”, seperti sholat lima waktu.

 

Maka keluar dari perkataan kami : “Apa-apa yang diperintahkan oleh pembuat syari’at”, yang haram, makruh dan mubah.

Dan keluar dari perkataan kami  : “dengan bentuk keharusan”, yang mandub. Dan suatu yang wajib itu pelakunya diganjar jika ia melakukannya

untuk mendapatkan pahala (ikhlas), dan orang yang meninggalkannya berhak mendapatkan adzab. Dan dinamakan juga :

 

2. Mandub 

Secara bahasa : “yang diseru”.

Dan secara istilah :
“Apa-apa yang diperintahkan oleh pembuat syari’at tidak dalam bentuk keharusan”, seperti sholat rowatib.
Maka keluar dari perkataan kami : “Apa-apa yang diperintahkan oleh pembuat syari’at”, yang haram, makruh dan mubah.
Dan keluar dari perkataan kami  : “tidak dengan bentuk keharusan”, yang wajib.

 

Dan suatu yang mandub itu pelakunya diganjar jika ia melakukannya untuk mendapatkan pahala (ikhlas), dan orang yang meninggalkannya tidak mendapatkan adzab. Dan dinamakan juga :

 

3. Haram 

Secara bahasa : “yang dilarang”.

Dan secara istilah :
“Apa-apa yang dilarang oleh pembuat syari’at dalam bentuk keharusan untuk ditinggalkan”, seperti durhaka kepada orang tua.
Maka keluar dari perkataan kami : “Apa-apa yang dilarang oleh pembuat syari’at”, yang wajib, sunnah dan mubah.
Dan keluar dari perkataan kami  : “dalam bentuk keharusan untuk ditinggalkan”, yang makruh.

 

Dan suatu yang haram itu pelakunya diganjar jika ia meninggalkannya untuk mendapatkan pahala (ikhlas), dan orang yang melakukannya berhak mendapatkan adzab.
4. Makruh 
Secara bahasa : “yang dimurkai”.
Dan secara istilah :
“Apa-apa yang dilarang oleh pembuat syari’at tidak dalam bentuk keharusan untuk ditinggalkan”, seperti mengambil sesuatu dengan tangan kiri dan memberi dengan tangan kiri.

 

Maka keluar dari perkataan kami : “Apa-apa yang dilarang oleh pembuat syari’at”, yang wajib, sunnah dan mubah.

 

Dan keluar dari perkataan kami  : “tidak dalam bentuk keharusan untuk ditinggalkan”, yang haram.
Dan suatu yang makruh itu pelakunya diganjar jika ia meninggalkannya untuk mendapatkan pahala (ikhlas), dan orang yang melakukannya tidak mendapatkan adzab.

 

5. Mubah 

 

Secara bahasa : “yang diumumkan dan diizinkan dengannya”.

Dan secara istilah :
“Apa-apa yang tidak berhubungan dengan perintah dan larangan secara asalnya”. Seperti makan pada malam hari di bulan Romadhon.

 

Dan keluar dari perkataan kami : “apa-apa yang tidakberhubungan dengan perintah”, wajib dan mandub.

 

Dan keluar dari perkataan kami : “dan pula larangan”, haram dan makruh.
Dan keluar dari perkataan kami : “pada asalnya”, apa-apa yang seandainya ada kaitannya dengan perintah karena keberadaannya (yakni suatu yang mubah) sebagai wasilah (yang menghantarkan) terhadap hal yang diperintahkan, atau ada kaitannya dengan larangan karena keberadaannya sebagai wasilah terhadap hal yang dilarang; maka bagi hal yang mubah tersebut hukumnya sesuai dengan apa-apa ia (yang mubah tersebut) menjadi wasilah baginya, dari hal yang  diperintahkan atau yang dilarang. Dan yang demikian tidak mengeluarkannya (yakni hal yang mubah) dari keberadaannya sebagai sesuatu yang hukumnya mubah pada asalnya.

 

Dan mubah yang senantiasa berada pada sifat mubah (boleh), maka ia tidak mengakibatkan ganjaran dan tidak pula adzab.

 

AL-AHKAM AL-WADH’IYYAH 

 

Al-Ahkam al-wadh’iyyah adalah :

 

“Apa-apa yang diletakkan oleh pembuat syari’at dari tanda-tanda untuk menetapkan atau menolak, melaksanakan atau membatalkan.”

 

Dan diantaranya adalah sah dan rusak / tidak sah-nya sesuatu.

 

1. Sah secara bahasa : yang selamat dari penyakit.

 

Secara istilah :
“apa-apa yang pengaruh perbuatannya berakibat padanya, baik itu ibadah ataupun akad.”
Maka sah dalam ibadah : apa-apa yang beban terlepas dengannya (yakni ibadah yang sah) dan tuntutan gugur dengannya.
Dan sah dalam akad : apa-apa yang pengaruh adanya akad tersebut berakibat terhadap keberadaannya, seperti pada suatu akad jual beli
berakibat kepemilikan.

 

Dan tidaklah sesuatu itu menjadi sah kecuali dengan menyempurnakan syarat-syaratnya dan tidak ada penghalang-penghalangnya.

 

Contohnya dalam ibadah : seseorang mendatangi sholat pada waktunya dengan menyempurnakan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya dan kewajiban-kewajibannya.

 

Contohnya dalam akad : seseorang melakukan akad jual beli dengan menyempurnakan syarat-syaratnya yang telah diketahui dan tidak adanya penghalang-penghalangnya.

 

Jika hilang satu syarat dari syarat-syarat yang ada, atau adanya penghalang dari penghalang-penghalangnya maka tidak dikatakan sah.

Contoh hilangnya syarat dalam ibadah : seseorang sholat tanpa bersuci.

Contoh hilangnya syarat dalam akad : seseorang menjual barang yang bukan miliknya.

Contoh adanya penghalang dalam ibadah : seseorang sholat sunnah mutlak pada waktu larangan.

Contoh adanya penghalang dalam akad : seseorang menjual sesuatu kepada orang yang wajib baginya sholat jum’at, sesudah adzan jum’at yang kedua dari sisi yang tidak dibolehkan.

 

2. Rusak / Fasid

 

Secara bahasa : yang pergi dengan hilang dan rugi.

 

Dan secara istilah : 
“apa-apa yang pengaruh perbuatannya tidak berakibat kepadanya, baik itu ibadah atu akad.”

 

Fasid dalam ibadah : apa-apa yang beban tidak terlepas dengannya dan tuntutan tidak gugur dengannya; seperti sholat sebelum waktunya.

 

Fasid dalam akad : apa-apa yang pengaruh akad tersebut tidak berakibat padanya (tidak memiliki dampak); seperti menjual sesuatu yang belum ditentukan.

 

Dan semua yang fasid (rusak) dalam ibadah, akad dan syarat-syarat maka itu adalah haram. Karena yang demikian termasuk melampaui batasan-batasan Allah dan menjadikan ayat-ayat-Nya sebagai olok-olokan, dan karena Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengingkari orang yang mensyaratkan syarat-syarat yang tidak ada dalam kitabullah (al-Qur’an).

 

Fasid dan batil memiliki makna yang sama kecuali dalam dua tempat:

 

Yang pertama: dalam ihrom, para ‘ulama membedakan keduanya, bahwa yang fasid adalah apabila seorang yang ihrom menyetubuhi istrinya sebelum tahallul awal; dan yang batil adalah apabila seseorang murtad dari Islam.

 

Yang kedua : dalam nikah; para ‘ulama membedakan keduanya, bahwa yang fasid adalah apa-apa yang diperselisihkan para ‘ulama dalam kerusakannya, seperti nikah tanpa wali; dan batil adalah apa-apa yang disepakati kebatilannya seperti menikahi wanita yang masih dalam `iddah-nya.

 

 
والله أعلمُ بالـصـواب

 

 

 
 
 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *