Fiqih 00 – Belajar Ushul Fiqih 10

MUJMAL DAN MUBAYYAN

Mujmal secara bahasa : mubham (yang tidak diketahui) dan yang terkumpul.
Secara istilah :

“Apa yang dimaksud darinya ditawaqqufkan terhadap yang selainnya, baik dalam ta’yinnya (penentuannya) atau penjelasan sifatnya atau ukurannya.”
Contoh yang membutuhkan dalil lain dalam ta’yin/penentuannya: Firman Alloh ta’ala:

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'” [QS. Al-Baqoroh : 228]

Quru’ (?????) adalah lafadz yang musytarok (memiliki beberapa makna, pent) antara haidh dan suci, maka menta’yin salah satunya membutuhkan
dalil.

Contoh yang membutuhkan dalil lain dalam penjelasan sifatnya : Firman Alloh ta’ala :

“Dan dirikanlah sholat” [QS. Al-Baqoroh : 43]

Maka tata cara mendirikan sholat tidak diketahui (hanya dengan ayat ini, pent), membutuhkan penjelasan.
Contoh yang membutuhkan dalil lain dalam penjelasan ukurannya :

Firman Alloh ta’ala :

“Dan tunaikanlah zakat” [QS. Al-Baqoroh : 43]

Ukuran zakat yang wajib tidak diketahui (hanya dengan ayat ini, pent), maka membutuhkan penjelasan.

DEFINISI MUBAYYAN  :

Mubayyan secara bahasa : yang ditampakkan dan yang dijelaskan.
Secara istilah :

“Apa yang dapat difahami maksudnya, baik dengan asal peletakannya atau setelah adanya penjelasan.”

Contoh yang dapat difahami maksudnya dengan asal peletakannya :

lafadz : langit , bumi , gunung, adil , dholim, jujur . Maka kata-kata ini dan yang semisalnya dapat difahami dengan asal peletakannya, dan tidak membutuhkan dalil yang lain dalam menjelaskan maknanya.

Contoh yang dapat difahami maksudnya setelah adanya penjelasan :
firman Alloh ta’ala :

“Dan dirikanlah sholat dan tunaikan zakat” [QS. Al-Baqoroh : 43]

Maka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, keduanya adalah mujmal, tetapi pembuat syari’at (Alloh ta’ala) telah menjelaskannya, maka lafadz
keduanya menjadi jelas setelah adanya penjelasan.

BERAMAL DENGAN DALIL YANG MUJMAL:
Seorang mukallaf wajib bertekad untuk beramal dengan dalil yang mujmal ketika telah datang penjelasannya. Nabi shollallohu alaihi wa sallam telah menjelaskankan semua syari’atnya kepada umatnya baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, sehingga beliau meninggalkan ummat ini di atas syari’at yang putih bersih malamnya seperti siangnya, dan beliau tidak pernah sama sekali meninggalkan penjelasan (terhadap syari’at, pent) ketika dibutuhkan.

Dan penjelasan Nabi shollallohu alaihi wa sallam itu berupa perkataan atau perbuatan atau perkataan dan sekaligus perbuatan.

Contoh penjelasan beliau shollallohu alaihi wa sallam dengan perkataan :

Pengkhobaran beliau tentang nishob-nishob dan ukuran zakat, sebagaimana dalam sabdanya shollallohu alaihi wa sallam :

“Apa-apa (hasil pertanian, pent) yang diairi dengan air hujan zakatnya adalah 1/10”

Sebagai penjelasan dari firman Alloh ta’ala yang mujmal :

“Dan tunaikanlah zakat” [QS. Al-Baqoroh : 43]

Contoh penjelasan beliau shollallohu alaihi wa sallam dengan perbuatan:

perbuatan beliau dalam manasik di hadapan ummat sebagai penjelasan dari firman Alloh ta’ala yang mujmal :

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah” [QS. Ali Imron :97]

Dan demikian juga sholat kusuf (gerhana bulan) dengan sifat sholatnya, dalam kenyataannya hal ini merupakan penjelasan terhadap sabdanya
shollallohu alaihi wa sallam yang mujmal :

“Jika kalian melihat sesuatu darinya maka sholatlah”. [Muttafaqun alaihi]

Contoh penjelasan beliau shollallohu alaihi wa sallam dengan perkataan dan sekaligus perbuatan : penjelasan beliau shollallohu alaihi wa sallam
tentang tata cara sholat, sesungguhnya pejelasan beliau adalah dengan perkataan dalam hadits al-musi’ fi sholatihi (orang yang jelek dalam
sholatnya), dimana beliau shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

“Jika engkau akan sholat maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke qiblat lalu bertakbirlah….”, al-hadits.
Dan penjelasan beliau adalah dengan perbuatan juga, sebagaimana dalam hadits Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi rodhiyallohu anhu bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar lalu bertakbir (takbirotul ihrom, pent), dan orang-orangpun bertakbir di belakang beliau sedangkan beliau berada di atas mimbar…., Al-Hadits, dan dalam hadits tersebut :

“kemudian beliau menghadap kepada orang-orang dan berkata :

“hanya saja aku melakukan ini supaya kalian mengikuti gerakanku dan supaya kalian mengetahui sholatku”.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *