Fiqih 03 – Tauhid dan Keimanan 19

Keutamaan berilmu

  1. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ …… يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١١ ﴾ [المجادلة: ١١]

  1. 11. ” …Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. QS. Al-Mujadilah: 11
  2. Dari Abu Umamah al-Bahili t berkata, diceritakan kepada Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam tentang dua orang laki-laki, salah satunya adalah ahli ibadah dan yang lain adalah seorang yang berilmu, lalu Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda:

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كََفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ

“Keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas yang terendah darimu”.

Kemudian Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda:

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَمَوَاتِ وَاْلأَرَضِيْنَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِى حُجْرِهَا وَحَتَّى الْحُوْتَ لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

“Sesungguhnya Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di dalam lobangnya sampai ikanpun berdo’a bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” HR. at-Tirmidzi.[1]

  • Keutamaan menuntut ilmu dan menuntutnya sebelum mengajarkan dan beramal denganya:

Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ وَمَثۡوَىٰكُمۡ ١٩ ﴾ [محمد : ١٩]

  1. “Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal”. QS. Muhammad: 19

Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ …….. وَقُل رَّبِّ زِدۡنِي عِلۡمٗا ١١٤ ﴾ [طه: ١١٤]

114 “Dan Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” QS. Thaaha: 114

Dari Abu Hurairah t, ia berkata, ‘Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda:

… وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Dan barangsiapa yang menjalani satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah SUBHANAHU WA TA’ALA memudahkan baginya jalan menuju surga.” HR. Muslim.[2]

  • Keutaman orang yang menyeru kepada petunjuk:

Dari Abu Hurairah t, sesungguhnya Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْل ُأُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ, لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا, وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا.

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, niscaya ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, dan tidak mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. dan barangsiapa yang mengajaka kepada kesesatan, niscaya ia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak mengurangi sedikitpun dari dosa mereka.’ HR. Muslim.

  • Kewajiban menyampaikan ilmu:
  1. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ هَٰذَا بَلَٰغٞ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُواْ بِهِۦ وَلِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٥٢ ﴾ [ابراهيم: ٥٢]

  1. “(Al Quran) Ini adalah penjelasan yang Sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran”. QS.Ibrahim: 52
  2. Dari Abu Bakrah t, di saat haji waja`, sesungguhnya Nabi r bersabda:

… لِيُبَلِّغَ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ, فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّّغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ مِنْهُ

“Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir, karena sesungguhnya orang yang hadir barangkali menyampaikan kepada orang yang lebih paham darinya.” Muttafaqun ‘alaih.[3]

  1. Dari Abdullah bin ‘Amr t, sesungguhnya Nabi r bersabda, ‘

بَلِّغُوْا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku, seklipun hanya satu ayat…”. HR. al-Bukhari.[4]

  • Hukuman bagi yang menyembunyikan ilmu:

Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَآ أَنزَلۡنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلۡهُدَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا بَيَّنَّٰهُ لِلنَّاسِ فِي ٱلۡكِتَٰبِ أُوْلَٰٓئِكَ يَلۡعَنُهُمُ ٱللَّهُ وَيَلۡعَنُهُمُ ٱللَّٰعِنُونَ ١٥٩ إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ وَأَصۡلَحُواْ وَبَيَّنُواْ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَتُوبُ عَلَيۡهِمۡ وَأَنَا ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ ١٦٠ ﴾ [البقرة: ١٥٩،  ١٦٠]

  1. Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, 160. Kecuali mereka yang Telah Taubat dan mengadakan perbaikan[105] dan menerangkan (kebenaran), Maka terhadap mereka Itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima Taubat lagi Maha Penyayang. QS. Al-Baqarah: 159-160)

Dari Abu Hurairah t, ia berkata, ‘Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda:

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang ditanya tentang ilmu, lalu ia menyembunyikannya, niscaya Allah SUBHANAHU WA TA’ALA mengekangnya dengan tali kekang dari neraka di hari kiamat.” HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi.[5]

  • Hukuman orang yang menuntut ilmu bukan karena Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:
  1. Dari Abu Hurairah t berkata: Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهَ اللهِ عَزَّ وَجَلّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Barangsiapa yang menuntut ilmu yang diharuskan ikhlas karena Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, niscaya ia tidak mendapatkan aroma surga di hari kiamat.” HR. Abu Daud dan Ibnu Majah.[6]

  1. Dari Ka’ab bin Malik t berkata: Aku mendengar Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوْهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارُ

“Barangsiapa yang menuntut ilmu bertujuan untuk mengalahkan para ulama atau untuk membantah orang-orang bodoh, atau untuk memalingkan pandangan manusia kepadanya, niscaya Allah SUBHANAHU WA TA’ALA memasukkannya ke dalam neraka.” HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.[7]

  • Hukuman berdusta terhadap Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dan Rasul-Nya r:
  1. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ …….. فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا لِّيُضِلَّ ٱلنَّاسَ بِغَيۡرِ عِلۡمٍۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ١٤٤ ﴾ [الانعام: ١٤٤]

  1. “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan ?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. QS. Al-An’aam: 144
  2. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ وَلَا تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٞ وَهَٰذَا حَرَامٞ لِّتَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ١١٦ مَتَٰعٞ قَلِيلٞ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ١١٧ ﴾ [النحل: ١١٦،  ١١٧]

  1. “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan Ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. 117. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih”. QS. An-Nahl: 116-117.
  2. Dari Abu Hurairah t, ia berkata, ‘Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda:

مَنْ كَذَّبَ عَلَيَّ مُتَعَمِْدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang berbohong terhadapku secara sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka.” Muttafaqun ‘alaih.[8]

  • Keutamaan orang yang berilmu dan mengajarkannya:
  1. Firman I:

﴿ …… وَلَٰكِن كُونُواْ رَبَّٰنِيِّ‍ۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ ٧٩ ﴾ [ال عمران: ٧٩]

  1. “Akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. QS. Ali ‘Imran: 79
  2. Dari Abu Musa t, dari Nabi r beliau bersabda: Perumpamaan ilmu dan petunjuk yang Allah SUBHANAHU WA TA’ALA mengutusku dengannya yaitu seperti air melimpah yang tercurah ke bumi. Maka di antara bumi itu ada yang bersih, menerima air lalu menumbuhkan rerumputan yang banyak dengannya. Dan ada di antaranya ada yang gersang yang mampu menahan air, maka Allah SUBHANAHU WA TA’ALA memberikan manfaat kepada manusia dengannya, lalu mereka meminum, menyirami tanaman dan bertani dengannya. Dan ada bagian air yang menimpa bagian lain dari bumi, dia adalah permukaan yang lereng, yang tidak bisa menahan (menyimpan) air dan tidak bisa menumbuhkan rerumputan. Maka itulah perumpamaan orang yang mengerti tentang agama Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dan memberi manfaat kepadanya risalah yang Allah SUBHANAHU WA TA’ALA mengutusku dengannya, lalu ia mengetahui dan mengajarkan. Dan perumpamaan orang yang tidak perduli terhadap hal itu dan tidak mau menerima petunjuk Allah SUBHANAHU WA TA’ALA yang aku diutus dengannya.” Muttafaqun ‘alaih.[9]
  3. Dari Abdullah bin Mas’ud t berkata: Nabi r bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ, وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh dengki kecuali kepada pada dua orang: Seseorang yang diberikan oleh Allah SUBHANAHU WA TA’ALA harta, lalu ia menyalurkannya di dalam kebenaran, dan seseorang yang diberikan oleh Allah SUBHANAHU WA TA’ALA hikmah (ilmu), dan ia memutuskan hukum dengannya dan mengajarkannya.” Muttafaqun ‘alaih.[10]

  • Cara diangkat dan diambilnya ilmu:
  1. Dari Anas bin Malik t berkata: Maukah kalian aku ceritakan satu hadits yang pernah aku dengar dari Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam, yang tidak ada seorangpun yang menceritakannya kepadamu setelahku, yang pernah mendengarnya dari beliau:

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ  وَيَفْشُوَ الزِّنَى وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَذْهَبَ الرِّجَالُ وَتَبْقَى النِّسَاءُ حَتَّى يَكُوْنَ لِخَمْسِيْنَ امْرَأَةً قَيِّمٌ وَاحِدٌ.

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat: diangkatnya ilmu, nampaknya kebodohan, tersebarnya perzinahan, diminumnya arak, berkurangnya para laki-laki, dan tersisalah para wanita, sehingga bagi lima puluh orang perempuan hanya ada seorang (laki-laki) sebagai penanggung jawab.” Muttafaqun ‘alaih.[11]

  1. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash t berkata: Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda:

إَنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاء,ِحَتىّ إِذَا لمَ ْيَبْقَ عَالِمٌ اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوْا.

“Sesungguhnya Allah SUBHANAHU WA TA’ALA tidak mengambil ilmu secara langsung yang diambilnya dari seorang hamba, akan tetapi Allah SUBHANAHU WA TA’ALA mengambil ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak ada lagi orang yang berilmu, manusia memilih para pemimpin yang bodoh, maka mereka ditanya lalu memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” Muttafaqun ‘alaih.[12]

  • Keutamaan paham di dalam agama:
  1. Dari Humaid bin Abdurrahman t sesungguhnya ia mendengar Mu’awiyah t berkata: Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ وَاللهُ الْمُعْطِي وَأَنَا الْقَاسِمُ وَلاَ تَزَالُ هذِهِ الأُمَّةُ ظَاهِرِيْنَ عَلَى مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى َيأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُوْنَ.

“Barangsiapa yang Allah SUBHANAHU WA TA’ALA menghendaki kebaikan baginya, niscaya Dia memberinya kepahaman dalam agama, dan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA yang memberi dan akulah yang membagi. Dan senantiasa umat ini nampak (menang) terhadap orang yang menyalahi mereka sampai datang perkara Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dan mereka tetap nampak (menang).” Muttafaqun ‘alaih.[13]

  1. Dari Utsman t dari Nabi r bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya.” HR. al-Bukhari.[14]

  • Keutamaan majelis dzikir:

Di dunia ini ada dua taman surga, salah satunya tetap dan yang lain selalu berganti pada setiap waktu dan tempat.

  1. Dari Abu Hurairah t sesungguhnya Nabi r bersabda:

مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِيْ رَوْضَةٌُ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ, وَمِنْبَرِيْ عَلَى حَوْضِي

“Tempat di antara rumahku dan minbarku adalah satu taman dari taman-taman surga, dan minbarku di atas telagaku.” Muttafaqun ‘alaih.[15]

  1. Dari Anas bin Malik t sesungguhnya Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا. قَالُوْا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ.

“Apabila kamu melewati taman-taman surga, maka bersenang-senanglah’ Mereka bertanya, ‘Apakah taman-taman surga itu? Beliau menjawab, ‘Majelis-majelis dzikir.’ HR. Ahmad dan at-Tirmidzi.[16]

  1. Dari Abu Hurairah t dan Abu Sa’id al-Khudri t, sesungguhnya keduanya menyaksikan bahwa Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda:

لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزّ وجل إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ  وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السّكِيْنَةُ وَ ذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum duduk-duduk untuk mengingat Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, melainkan mereka dikelilingi para malaikat, diliputi rahmat, dan turunlah ketenangan kepada mereka, serta Allah SUBHANAHU WA TA’ALA menyebutkan mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. HR. Muslim.[17]

  • Adab menuntut ilmu:
  • Ilmu adalah ibadah, dan ibadah mempunyai dua syarat: yaitu ikhlas kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dan mengikuti Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan ilmu terdiri dari beberapa bagian: yang tertinggi, yang paling mulia dan yang paling bersih adalah ilmu yang dibawa oleh para nabi dan rasul, berupa ilmu tentang Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, asma-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya, agama-Nya, dan syari’at-Nya.

Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ وَمَثۡوَىٰكُمۡ ١٩ ﴾ [محمد : ١٩]

  1. Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. QS. Muhammad: 19
  • Dan ilmu mempunyai beberapa adab, di antaranya yang berkaitan dengan pengajar (guru, ustadz), pelajar (santri), dan ini adalah sebagian darinya:

 

  • Adab Seorang Pengajar

 Tawadhu’ dan rendah diri:

Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA kepada Nabi-Nya:

﴿ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢١٥ ﴾ [الشعراء : ٢١٥]

  1. 215. “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman”. QS. Asy-Syu’araa`: 215

 Memiliki akhlak yang terpuji.

  1. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ٤ ﴾ [القلم: ٤]

  1. “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. QS. Al-Qalam: 4
  2. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA kepada Nabi-Nya r:

﴿ خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ ١٩٩ ﴾ [الاعراف: ١٩9]

  1. “Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. QS. Al-A’raaf:199
  • Hendaklah seorang pengajar memperhatikan keadaan seseorang saat memberikan nasehat dan ilmu agar mereka tidak merasa jemu, lalu menjauh:

Dari Abdullah bin Mas’ud t berkata: “Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam memperhatikan keadaan kami pada hari-hari beliau memberi nasehat karena khawatir jika ada rasa jemu yang menyentuh kami.’Muttafaqun ‘alaih.[18]

  • Meninggikan suara saat menyampaikan ilmu dan mengulanginya dua atau tiga kali, agar dapat dipahami:
  1. Dari Abdullah bin ‘Amar t berkata: “Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam tertinggal dalam sebuah perjalanan kami lakukan, dan beliau menyusul kami, sementara waktu shalat telah masuk dan kami sedang berwudhu’. Maka kami mengusap kaki kami, lalu beliau berseru dengan suara yang tinggi: “Celakalah tumit (yang tidak tersentuh oleh air wudhu’) karena (akan disiksa dengan) api neraka.’ Dua kali atau tiga kali.” Muttafaqun ‘alaih.[19]
  2. Dari Anas bin Malik t dari Nabi r bahwa apabila beliau berbicara dengan suatu kata, maka beliau mengulanginya tiga kali, sehingga dapat dipahami. Dan apabila beliau mendatangi suatu kaum, maka beliau memberi salam kepada mereka sebanyak tiga kali.” HR. al-Bukhari.[20]
  • Bernada marah dalam memberi nasehat dan mengajar, apabila melihat atau mendengar hal yang tidak disukai:

Dari Ibnu Mas’ud t berkata: “Seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah!, hampir saja aku tidak mendapatkan shalat, karena fulan (yang mengimami shalat) selalu memperpanjang shalatnya dengan kami”. Maka aku tidak pernah melihat Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam marah melebihi marahnya daripada hari itu dalam memberi nasehat beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ مُنَفِّرُوْنَ فَمَنْ صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنْ فِيْهِمُ الْمَرِيْضَ وَالضَّعِيْفَ وَذَا الْحَاجَةِ.

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membuat orang berlari (dari agama ini). Barangsiapa (yang mengimami) manusia dalam shalatnya, maka hendaklah ia memperpendeknya. Karena sesungguhnya di antara jama’ah ada orang yang sakit, lemah, dan mempunyai kebutuhan.” Muttafaqun ‘alaih.[21]

  • Terkadang memberi jawaban kepada penanya dengan jawaban yang lebih banyak daripada pertanyaannya:

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam tentang pakaian yang boleh dipakai oleh orang yang sedang berihram? Maka Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam:

وَلاَتَلْبَسُوْا الْقُمُصَ وَلاَالْعَمَائِمَ وَلاَ الْسَرَاوِيْلاَتِ وَلاَ الْبَرَانِسَ وَلاَ الْخِفَافَ إِلاَّ أَحَدٌ لاَ يَجِدُ النَّعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسِْ الْخُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْهُمَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ, وَلاَ تَلْبَسُوْا مِنَ الثِّيَابِ شَيْئًا مَسَّهُ الزَّعْفَرَانُ وَلاَ الْوَرَسُ.

“Janganlah engkau memakai kemeja, dan jagan pula memakai surban, celana, baju mantel yang bertedung kepalanya, sepatu, kecuali orang yang tidak mendapatkan dua sendal, maka hendaklah ia memakai dua sepatu (khuf) dan hendaklah dia memotongnya sehingga menjadi lebih rendah dari dua mata kaki. Dan janganlah kamu memakai pakaian yang terkena za’faran dan waras.” Muttafaqun ‘alaih.[22]

  • Melontarkan pertanyaan kepada murid-muridnya untuk mengetahui tingkat keilmuan mereka:

Dari Ibnu Umar t, ia berkata, ‘Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda:

إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةٌ لاَ يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُوْنِي مَا هِيَ؟ فَوَقَعَ النَّاسُ فِى شَجَرِ الْبَوَادِي. قَالَ عَبْدُ الله:  وَوَقَعَ فِى نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فاَسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قاَلُوْا: حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُوْلَ الله؟ قَالَ: هِيَ النَّخْلَةُ.

“Sesungguhnya di antara pohon ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya. Dan sesungguhnya ia adalah perumpamaan seorang muslim, beritahukanlah aku, apakah nama pohon itu?’. Orang-orang menduga bahwa nama pohon tersebut adalah pohon bawadi. Abdullah t berkata: Aku menduga bahwa pohon itu adalah pohon kurma, namun aku merasa malu mengatakannya. Kemudian para shahabat berkata: beritahukanlah kepada kami pohon apakah itu wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda: Ia adalah pohon kurma.” Jawab Rasulullah. Muttafaqun ‘alaih.[23]

  • Tidak melontarkan perkara yang samar di tengah umum, dan tidak mengkhususkan ilmu tertentu bagi suatu kaum, karena khawatir jika mereka tidak mengerti

Dari Anas bin Malik t, bahwa Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam membonceng Mu’adz t. Beliau bersabda: “Wahai Mu’adz!”. “Ya, wahai Rasulullah”. Kata Mu’adz menjawab, “Wahai Mu’adz!”. “Ya, wahai Rasulullah”. Kata Mu’adz menjawab. “Wahai Mu’adz!”. “Ya, wahai Rasulullah”. Kata Mu’adz menjawab. Beliau bersabda: ‘Tidak ada seorangpun yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah dengan sebenarnya) selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, dan sesungguhnya Muhammad r adalah utusan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, dengan benar dari hatinya, melainkan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA mengharamkannya atas dirinya api neraka. Mu’adz bertanya: “Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberitahukannya kepada manusia agar mereka bergembira dengannya?”. Beliau bersabda: “Niscaya mereka akan bersandar (tidak beramal)”. Namun, akhirnya Mu’adzpun membeitahukan tentang hadits tersebut saat akan meninggalnya karena takut berdosa (jika menyembunyikannya)”. Muttafaqun ‘alaih.[24]

  • Meninggalkan merubah kemungkaran, apabila khawatir akan terjadi kemungkaran yang lebih berat dengan sebab itu:

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya Nabi r berkata kepadanya, ”

يَا عَائِشَةُ لَوْلاَ أَنَّ قَوْمُكِ حَدِيْثَ عَهْدٍ بِالْجَاهِلِيَّةِ َلأَمَرْتُ بِاْلبَيْتِ فَهُدِمَ فَأَدْخَلْتُ فِيْهِ مَا أُخْرِجَ مِنْهُ. وَأَلْزَقْتُهُ بِاْلأَرْضِ وَجَعَلْتُ لَهُ بَابَيْنِ, بَابًا شَرْقِيًّا وَبَابًا غَرْبِيًّا فَبَلَغْتُ بِهِ أَسَاسَ إِبْرَاهِيْمَ

“Wahai ‘Aisyah, kalau bukan karena kaummu masih baru meninggalkan masa jahiliyah, niscaya aku memerintahkan untuk meruntuhkan Ka’bah, lalu aku memasukkan padanya yang telah dikeluarkan darinya (hijir Ismail) dan aku melekatkannya dengan bumi, dan aku menjadikannya dua pintu, satu pintu di Timur dan satu pintu di Barat, sehingga dengannya aku mencapai pondasi yang telah dibangun nabi Ibrahim u.’ Muttafaqun ‘alaih.[25]

  • Mengajarkan ilmu baik kepada laki-laki dan perempuan secara khusus:

Dari Abu Sa’id al-Khudri t berkata: Para wanita berkata kepada Nabi r: “Kaum lelaki telah mengalahkan kami atas dirimu, maka berikanlah bagi kami satu hari dari dirimu”. Maka beliau menjanjikan kepada mereka satu hari di mana beliau bertemu dengan mereka padanya. Maka beliau memberi nasehat dan memerintahkan kepada mereka. Maka di antara nasehat beliau kepada mereka:

مَا مِنْكُنَّ امْرَأَةٌ تُقَدِّمُ ثَلاَثَةً مِنْ وَلَدِهَا إِلاَّ كَانَ حِجَابًا لَهَا مِنَ النَّارِ. فَقَالَتِ امْرَأَةٌ: وَاثْنَيْنِ؟ فَقَالَ: وَاثْنَيْنِ.

“Tidak ada seorang wanita yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya melainkan mereka menjadi penghalang baginya dari nereka.’ Maka seorang wanita berkata: “Dan bagaimana dengan dua orang?”.  Beliau r bersabda: “Dan begitu juga dua orang”. Muttafaqun ‘alaih.[26]

  • Seorang yang berilmu hendaknya memberi nasehat dan mengajar manusia di malam atau siang hari, di atas tanah atau kenderaan:
  1. Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: Nabi r terjaga pada satu malam, lalu bersabda:

سُبْحَانَ اللهِ مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتَنِ وَمَاذَا فُتِحَ مِنَ الْخَزَائِنِ, أَيْقِظُوْا صَوَاحِبَ الْحُجَرِفَرُبَّ كَاسِيَةٍ فِى الدُّنَْيا عَارِيَةٍ فِى اْلآخِرَةِ

‘Maha suci Allah SUBHANAHU WA TA’ALA. Apakah yang telah diturunkan pada malam ini dari fitnah. Apakah yang telah dibuka dari perbendaharaan. Bangunkanlah orang-orang yang ada di dalam kamar, berapa banyak yang berpakaian di dunia, bertelanjang di akhirat”. HR. al-Bukhari.[27]

  1. Dari Ibnu Umar t berkata: Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam melaksanakan shalat ‘Isya bersama kami di akhir hayatnya. Maka tatkala beliau salam, beliau r bersabda:

أَرَأَيْتَكُمْ لَيْلَتَكُمْ هذِهِ فَإِنَّ رَأْسَ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا لاَ يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ عَلَى ظَهْرِ اْلأَرْضِ أَحَدٌ

“Bagaimana pendapatmu tentang malam kamu ini, sesungguhnya awal seratus tahun yang akan datang tidak ada seorang pun dari yang hidup masa ini yang masih tersisa di atas muka bumi.” Muttafaqun ‘alaih.[28]

  1. Dari Mu’adz bin Jabal t berkata: Aku berada pada boncengan Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam di atas keledai yang dinamakan ‘Ufair, beliau berkata: “Wahai Mu’adz, apakah engkau tahu hak Allah SUBHANAHU WA TA’ALA terhadap hambaNya? Dan apakah hak hamba terhadap Allah SUBHANAHU WA TA’ALA? Mu’adz berkata: “Aku menjawab Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya hak Allah SUBHANAHU WA TA’ALA terhadap hamba bahwa mereka menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Dan hak hamba terhadap Allah SUBHANAHU WA TA’ALA bahwa Dia tidak menyiksa orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Mu’adz melanjutkan: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberitahukan berita gembira kepada manusia?”. Beliau menjawab: “Janganlah engkau memberitahukan tentang kabar gembira ini kepada mereka, agar mereka tidak  bersandar tanpa amal.” Muttafaqun ‘alaih.[29]
  • Doa dan dzikir yang dibaca pada penutup majelis:
  1. Dari Ibnu Umar t ia berkata, ‘Jarang sekali Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam berdiri dari majelis, sehingga beliau berdoa dengan doa-doa ini untuk para sahabatnya:

اللّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتِكَ, وَمِنْ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ مُصِيْبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَاوَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah SUBHANAHU WA TA’ALA berikanlah kepada kami dari rasa takut kepada-Mu yang menghalangi antara kami dan bermaksiat kepada-Mu, dan dengan taat kepada-Mu yang menyampaikan kami kepada surga-Mu, dan dengan keyakinan yang memudahkan kami menghadapi musibah-musibah dunia. Berilah kenikmatan kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama hidup kami. Jadikanlah ia sebagai warisan dari kami. Jadikanlah pembalasan dendam kami kepada yang berbuat zalim kepada kami. tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan musibah dalam agama kami. Janganlah engkau jadikan dunia menjadi tujuan terbesar kami, dan jangan pula menjadi kesudahan pengetahuan kami. dan jangankan Engkau kuasakan kepada kami orang yang tidak sayang kepada kami”. HR. at-Tirmidzi.[30]

  1. Dari Abu Hurairah t ia berkata, ‘Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda:

مَنْ جَلَسَ فِى مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيْهِ اللَّغَطُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُوْمَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذلِكَ: سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ, أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ:  إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِى مَجْلِسِهِ ذلِكَ.

“Barangsiapa yang duduk di suatu majelis yang banyak terjadi kegaduhan padanya, lalu sebelum berdiri dari majelisnya ia membaca:

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ, أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

(Maha suci Engkau, ya Allah, dan segala pujian bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Engkau, aku meminta ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu). Melainkan diampuni baginya apa yang telah terjadi di majelisnya itu.” HR. Ahmad dan at-Tirmidzi.[31]

 


[1]  Shahih/ HR. at-Tirmidzi no. 2685, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2161

[2]  HR. Muslim no. 2699

[3] HR. al-Bukhari no. 67, ini adalah lafazhnya,  dan Muslim no. 1679.

[4] HR. al-Bukhari no. 3461

[5]  Hasan Shahih/ HR. Abu Daud no. 3658, Shahih Sunan Abu Daud

[6]  Shahih/ Abu Daud no. 3664, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan Abu Daud, dan Ibnu Majah no. 252, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 204.

[7]  Hasan/ HR. at-Tirmidzi no 2654, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan at-Tirmidzi no 2138, dan Ibnu Majah no. 253, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 205..

[8]  HR. al-Bukhari no. 110, dan Muslim no. 3, ini adalah lafazhnya.

[9]  HR. al-Bukhari no. 79, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2282.

[10]  HR. al-Bukhari no. 73, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 816

[11] HR. al-Bukhari no. 81, dan Muslim no. 2671, ini adalah lafazhnya.

[12]  HR. al-Bukhari no. 100, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2673.

[13]  HR. al-Bukhari no. 3116, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1037.

[14]  HR. al-Bukhari no. 5027

[15]  HR. al-Bukhari no. 1196, dan Muslim no. 1391

[16] Hasan/ HR. Ahmad no. 12551, lihat as-Silsilah ash-Shahihah no. 2562, dan at-Tirmidzi no. 3510, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2787.

[17]  HR. Muslim no. 2700

[18]  HR. al-Bukhari no. 68, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2821

[19]  HR. al-Bukhari no. 60, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 241

[20]  HR. al-Bukhari no. 95.

[21]  HR. al-Bukhari no. 90, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 466.

[22]  HR. al-Bukhari no. 1542, dan Muslim no. 1177, ini adalah lafazhnya.

[23] HR. al-Bukhari no. 61, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2811

[24]  HR. al-Bukhari no. 128, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no 32.

[25]  HR. al-Bukhari no. 1586, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no 1333.

[26]  HR. al-Bukhari no. 101, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2633

[27] HR. al-Bukhari 115.

[28] HR. al-Bukhari no. 116, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2537.

[29]  HR. al-Bukhari no. 2856,dan Muslim no. 30, ini adalah lafazhnya.

[30]  Hasan./ HR. at-Tirmidzi no 3502,Shahih  Sunan at-Tirmidzi no.2783, lihat Shahih al-Jami’, no 1268

[31]  Shahih/ HR. at-TAHmad no. 10420, dan at-Tirmidzi no 3433, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2730.

 

(والله أعلمُ بالـصـواب)

Download Sumber

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *