Fiqih 03 – Tauhid dan Keimanan 18

I  h  s  a  n

  • Ihsan adalah menyembah Allah SUBHANAHU WA TA’ALA seakan-akan engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia I melihatmu.
  1. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحۡسِنُونَ ١٢٨ ﴾ [النحل: ١٢٨]

  1. “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. QS. An-Nahl: 128
  2. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ٢١٧ ٱلَّذِي يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ ٢١٨ وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّٰجِدِينَ ٢١٩ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ٢٢٠ ﴾ [الشعراء : ٢١٧،  ٢٢٠]

  1. Dan bertawakkallah kepada (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, 218. Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), 219.  Dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. 220.  Sesungguhnya dia adalah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Asy-Syu’araa`: 217-220
  2. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ وَمَا تَكُونُ فِي شَأۡنٖ وَمَا تَتۡلُواْ مِنۡهُ مِن قُرۡءَانٖ وَلَا تَعۡمَلُونَ مِنۡ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيۡكُمۡ شُهُودًا إِذۡ تُفِيضُونَ فِيهِۚ وَمَا يَعۡزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثۡقَالِ ذَرَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَلَآ أَصۡغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡبَرَ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٍ ٦١ ﴾ [يونس : ٦١]

  1. Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (QS. Yunus: 61)

 Tingkatan-tingkatan agama Islam:

Agama Islam terdiri dari tiga tingkatan, sebagiannya di atas yang lain, yaitu: Islam, iman, dan ihsan, dan ihsan inilah tingkatan yang tertinggi, dan setiap tingkatan terdiri dari beberapa tingkatan. Dari Umar bin Khaththab t berkata: “Tatkala kami berada di sisi Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, rambut sangat hitam, tidak ada bekas perjalanan jauh yang tanpak padanya, dan tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya.

Sehingga ia duduk kepada Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam, lalu ia menyandarkan dua lututnya kepada kedua lututnya, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, ia berkata: “Wahai Muhammad shalallahu alaihi wassalam, beritakanlah kepadaku tentang Islam?”. Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke baitullah jika engkau mampu berjalan kepadanya”. Ia berkata: “Engkau benar”. “Umar t berkata: “Kami heran karenanya, di mana dia bertanya lalu dia sendiri yang membenarkannya. Ia bertanya kembali: “Beritahukanlah kepadaku tentang iman?”.  Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalammenjawab: Iman adalah engkau beriman kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar yang baik dan buruk. Lelaki itu berkata: ‘Engkau benar”. Lalu Ia bertanya kembali: “Beritahukanlah kepadaku tentang ihsan?”. Beliau bersabda:  Bahwa engkau menyembah Allah SUBHANAHU WA TA’ALA seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak bisa (seolah-olah) melihatnya, maka sesungguhnya Dia I melihatmu”. Ia bertanya kembali: “Beritakanlah kepadaku tentang hari kiamat?”.

Beliau rasulullah  shalallahu alaihi wassalam menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya tidak lebih mengetahui dari pada yang bertanya”. Ia bertanya: “Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tanda-Nya?”. Beliau menjawab: Seorang budak wanita melahirkan majikannya, dan engkau melihat orang-orang yang tidak bersendal, tidak berpakaian, fakir, pengembala kambing berlomba-lomba dalam bangunan”. Kemudian laki-laki itu pergi, lalu aku berdiam beberapa saat, kemudian beliau bersabda kepadaku: ‘Wahai Umar, apakah engkau tahu siapakah yang bertanya itu?’ Aku menjawab, ‘Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dan Rasul-Nya r lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya ia adalah Jibril u, dia datang kepadamu mengajarkan agamamu.’ HR. Muslim.[1]

  • Ihsan terdiri dari dua tingkatan:

Tingkatan pertama: bahwa manusia menyembah Rabb-nya seolah-olah dia melihat-Nya dalam  melaksanakan ibadah yang bersifat permohonan (ibadah thalab), rasa rindu, mengharap dan cinta. Dia meminta kepada Zat yang dicintanya, Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, dia menuju dan menyembah-Nya seolah-olah melihat-Nya. Ini adalah tingkatan yang tertinggi dari dua tingakatan ihsan, yaitu engkau menyembah Allah SUBHANAHU WA TA’ALA seolah-olah melihat-Nya”.

Tingkatan kedua: Apabila  saat dirimu  menyembah Allah SUBHANAHU WA TA’ALA tidak bisa bersikap seakan-akan melihat-Nya dan meminta-Nya, maka sembahlah Dia seakan-akan Dia melihatmu, sebagai penyembahan orang yang takut dari-Nya, berlari dari siksa dan hukuman-Nya, merendahkan diri bagi-Nya ” maka jika engkau tidak bisa (seolah-olah) melihatNya, maka sesungguhnya Dia I melihatmu”.

  • Menyembah kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA didasarkan dua perkara: Ketinggian cinta kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, dan pengagungan yang tinggi dan sikap merendahkan diri yang dalam kepada-Nya. Maka rasa cinta melahirkan rindu dan menuju (hanya kepadaNya), sementara mengagungkan dan merendahkan diri kepada-Nya melahirkan sikap takut dan bergegas lari (menuju kepadaNya). Inilah ihsan dalam penyembahan kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, dan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA menyukai orang-orang yang berbuat baik.
  1. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ وَمَنۡ أَحۡسَنُ دِينٗا مِّمَّنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۗ وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبۡرَٰهِيمَ خَلِيلٗا ١٢٥ ﴾ [النساء : ١٢٥]

  1. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus”.
  2. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ ۞وَمَن يُسۡلِمۡ وَجۡهَهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰۗ وَإِلَى ٱللَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ ٢٢ ﴾ [لقمان: ٢٢]

  1. “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan Hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan”. QS.Luqman: 22
  2. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ بَلَىٰۚ مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ فَلَهُۥٓ أَجۡرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ١١٢ ﴾ [البقرة: ١١٢]

  1. (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, Maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. QS. Al-Baqarah: 112

Perniagaan yang menguntungkan:

  • Di dalam al-Qur`an disebutkan dua jenis perniagaan: perniagaan orang-orang beriman … dan perniagaan orang-orang kafir:

Perniagaan orang-orang beriman adalah perniagaan yang menguntungkan dan mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan itulah agama, sebagaimana dalam firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ تِجَٰرَةٖ تُنجِيكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ١٠ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ١١ ﴾ [الصف: ١٠،  ١١]

  1. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? 11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui. QS. Ash-Shaff: 10-11

Dan perniagaan orang-orang munafik adalah merugi, membawa kepada kecelakaan di dunia dan akhirat, sebagaimana firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA tentang orang-orang munafik:

﴿ وَإِذَا لَقُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوۡاْ إِلَىٰ شَيَٰطِينِهِمۡ قَالُوٓاْ إِنَّا مَعَكُمۡ إِنَّمَا نَحۡنُ مُسۡتَهۡزِءُونَ ١٤ ٱللَّهُ يَسۡتَهۡزِئُ بِهِمۡ وَيَمُدُّهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ١٥ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلضَّلَٰلَةَ بِٱلۡهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَٰرَتُهُمۡ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ ١٦ ﴾ [البقرة: ١٤،  ١٦]

  1. “Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami Telah beriman”. dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka[25], mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.”
  2. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. 16. Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk”.

[1] HR. Muslim no. 8.

 

(والله أعلمُ بالـصـواب)

Download Sumber

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *