Fiqih 03 – Tauhid dan Keimanan 20

Adab menuntut ilmu

  • Tata cara duduk untuk menuntut ilmu:
  1. Dari Umar bin Khaththab t berkata: “Tatkala kami duduk di sisi Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam pada suatu hari, tiba-tiba seorang laki-laki datang,  berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. tidak terlihat pada dirinya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalinya. Iapun duduk menghadap Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam dengan merapatkan kedua lututnya kepada kedua lutut Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam …”[1]
  2. Dari Anas bin Malik t bahwa Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam keluar lalu Abdullah bin Huzafah t bertanya: “Siapakah ayahku?”. Beliau menjawab: “Huzafah”. Kemudian mengucapkan secara berulang-ulang: “Bertanyalah kepadaku”. Lalu Umar t bersimpuh di atas kedua lututnya seraya berkata: “Aku ridha kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam sebagai Nabi, lalu beliau terdiam”. HR. al-Bukhari.[2]
  • Selalu menghadiri majelis ilmu dan majlis zikir di masjid, dan memperhatikan tempat duduk yang sesuai saat masuk dan orang-orang telah berada di sekelilingnya:

Dari Abu Waqid al-Laitsi t bahwa dia saat duduk di masjid dan para shahabat yang lain  telah berada di sekelilingnya lalu datanglah tiga orang memasuki majlis. Lalu dua orang menuju kepada Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam sementara yang lainnya  pergi meninggalkan majlis. Keduanya berdiri di hadapan Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam, kemudian salah seorang dari keduanya melihat ada celah di tengah lingkaran lalu ia duduk padanya. Sementara yang lain, duduk di belakang mereka. sedangkan yang ketiga berlalu pergi meninggalkan majlis. Maka tatkala Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam telah selesai, beliau bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلاَثَةِ؟ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَآوَا إِلَى اللهِ فَآوَى اللهُ عَنْهُ. وَأَمَّا اْلآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللهُ مِنْهُ, وَأَمَّا اْلآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللهُ عَنْهُ.

Maukah kalian jika aku memberitahukan kalian tentang tiga orang ini? Adapun salah seorang dari mereka, maka ia kembali kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA lalu Allah SUBHANAHU WA TA’ALA menempatkannya. Adapun yang kedua, maka ia merasa malu maka Allah SUBHANAHU WA TA’ALA pun merasa malu darinya. adapun yang lain, maka ia berpaling, maka berpalinglah Allah SUBHANAHU WA TA’ALA darinya.” Muttafaqun ‘alaih.[3]

  • Mengembara dalam menuntut ilmu, berkorban dalam menuntut dan memperbanyak ilmu, serta selalu rendah diri dalam segala kondisi:

Dari Ibnu Abbas t berkata: Aku mendengar Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Ketika Musa u berada di tengah-tengah kaum Bani Israil, datanglah seorang lelaki sraya bertanya: “Apakah engkau mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih alim darimu? Musa u menjawab:  “Tidak”. Lalu Allah SUBHANAHU WA TA’ALA menurunkan wahyu kepada Musa: “Bahwa hamba Kami Khadhir (lebih alim dari engkau)”. Lalu Musa u bertanya bagaimana jalan mencarinya.  Allah SUBHANAHU WA TA’ALA menjadikan ikan sebagai tanda baginya.

Dikatakan kepadanya: “Apabila engkau kehilangan ikan, maka kembalilah, sesungguhnya engkau akan menemukannya. Dan ia mengikuti bekas jalan ikan di laut. Pembantunya berkata kepada Musa u: Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan Musa berkata:”Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. (QS. 18:64)

Lalu mereka bertemu dengan Khadhir. Maka cerita keduanya seperti apa yang diceritakan oleh Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dalam Kitab-Nya (surah al-Kahf).” Muttafaqun ‘alaih.[4]

  • Bersungguh-sungguh mencari ilmu:

Dari Abu Hurairah t berkata: Seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah!, “Siapakah orang yang paling beruntung mendapat syafaatmu di hari kiamat?”. Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam menjawab: “Sungguh!, wahai Abu Hurairah aku telah menduga bahwa tidak ada seorangpun yang mendahuluimu bertanya tentang persoalan ini, sebab aku melihat kesungguhanmu dalam menuntut hadits. Manusia yang paling beruntung mendapatkan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan: “Laailaaha illallah” (tidak ada Ilah yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA) tulus dari hatinya atau jiwanya.” HR. al-Bukhari.[5]

  • Menulis ilmu:
  1. Dari Abu Juhaifah t berkata: Aku bertanya kepada Ali t: Apakah kamu mempunyai Kitab?. Ia menjawab: ‘Tidak, kecuali Kitabullah (al-Qur‘an), atau pemahaman yang diberikan kepada seorang lelaki muslim, atau yang apa ada di lembaran ini”. Ia berkata: Aku bertanya: “Apakah yang ada di dalam lembaran ini?”. Ali t menjawab: “Diyat, masalah pembebasan tawanan, dan seorang muslim tidak dibunuh karena membunuh orang kafir.” HR. al-Bukhari.[6]
  2. Dari Abu Hurairah t berkata: “Tidak ada seorang sahabatpun yang mempunyai hadits lebih banyak dari padaku kecuali Abdullah bin ‘Amr t, maka sesungguhnya ia menulis (hadits) dan aku tidak menulisnya.” HR. al-Bukhari.[7]
  • Apabila seseorang malu bertanya, maka memintalah kepada orang lain untuk menanyakan masalahnya:

Dari Ali t berkata: “Aku seorang yang banyak keluar mazi dan merasa malu bertanya kepada Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam karena kedudukan putri beliau (Fathimah). Maka akupun meminta al-Miqdad bin al-Aswad t (untuk bertanya masalah ini). Ia bertanya tentang masalah itu. Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Hendaklah dia membersihkan zakarnya lalu berwudhu”. Muttafaqun ‘alaih.[8]

  • Mendekati imam saat memberi nasehat:

Dari Samurah bin Jundub t sesungguhnya Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda: Hadirilah majlis zikir dan dekatlah dengan imam, maka sesungguhnya seorang laki-laki senantiasa menjauh sehingga dimundur di surga, sekalipun dia memasukinya.” HR. Abu Daud.[9]

  • Beradab dengan adab yang disyari’atkan pada saat berada pada majelis, di antaranya:
  1. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١١ ﴾ [المجادلة: ١١]

  1. “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. QS. Al-Mujadilah: 11
  2. Dari Ibnu Umar t dari Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda: “Janganlah seseorang meminta orang lain berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia duduk menempati tempat orang itu. Akan tetapi berlapang-lapanglah dan memperluas.’ Muttafaqun ‘alaih.[10]
  3. Dari Abu Hurairah t sesungguhnya Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang berdiri dari tempat duduknya kemudian ia kembali kepadanya, maka ia lebih berhak dengannya.’ HR. Muslim.[11]
  4. Dari Jabir bin Samurah t berkata: “Apabila kami mendatangi Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam maka salah seorang dari kami duduk di tempat di mana dia sampai.” HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi. [12]
  5. Dari Amar bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, sesungguhnya Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda: ‘Tidak boleh dipisah di antara dua orang laki-laki yang sedang duduk kecuali dengan izin keduanya.”[13]
  6. Dari asy-Syarid bin Suwaid t berkata: “Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam melewati aku, sedangkan aku sedang duduk seperti ini, dan aku meletakkan tangan kiriku di belakang punggungku, dan aku bersandar di atas tanganku. Maka beliau bersabda: “Apakah engkau duduk seperti duduknya orang-orang yang dimurkai?”. HR. Ahmad dan Abu Daud.[14]
  7. Dari Ibnu Mas’ud t berkata: “Nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Jika engkau bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik dan meninggalkan yang ketiga, karena sesungguhnya hal itu menyakiti hatinya.’ Muttafaqun ‘alaih.[15]

 


[1] HR. al-Bukhari no. 50, dan Muslim no. 8, ini adalah lafazhnya.

[2]  HR. al-Bukhari no. 93.

[3]  HR. al-Bukhari  no. 66, ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 2176.

[4]  HR. al-Bukhari no. 74, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2380.

[5]  HR. al-Bukhari no. 99

[6]  HR. al-Bukhari no. 111.

[7]  HR. al-Bukhari no. 113.

[8]  HR. al-Bukhari no. 269, dan Muslim no. 303, ini adalah lafazhnya.

[9]  Hasan/ HR. Abu Daud no. 1108, Shahih Sunan Abu Daud no. 980.

[10]  HR. al-Bukhari no. 6270, dan Muslim no. 2177

[11] HR. Muslim no. 2179.

[12]  Shahih/ HR. Abu Daud no. 4825, Shahih Sunan Abu Daud no. 4040, dan at-Tirmidzi no. 2725, Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2193

[13]  Hasan/HR. Abu Daud no. 4844, Shahih Sunan Abu Daud no. 4054.

[14]  Shahih/ HR. Ahmad no. 19683, dan Abu Daud no. 4848, Shahih Sunan Abu Daud no. 4058.

[15]  HR. al-Bukhari no. 6290, dan Muslim no 2184, ini adalah lafazhnya.

 

 

(والله أعلمُ بالـصـواب)

Download Sumber

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *