Fiqih 02 – Kaidah Fiqih 02

Sejarah Perkembangan Kaidah Fiqih

Ilmu ini mengalami perkembangan dalam beberapa fase:

Fase perkembangan

Ilmu ini dimulai dengan adanya beberapa ayat dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang hisa dianggap sebagai sebuah kaidah yang mencakup banyak permasalahan fiqih, lalu dilanjutkan oleh para ulama di dalam kitab mereka. Kalau kita cermati perkataan al-lmam asy-Syafi’i di dalam beberapa kitabnya, akan kita dapati bahwa beliau mengungkapkan sebuah kaidah fiqhiyyah; misalnya:

الرُخُصُ لاَ يُتَعَدَّى بِهَا مَوَاضِعُهَا

“Sebuah keringanan syar’i itu tidak bisa melampaui tempat berlakunya.” (al-Umm 1/80)

Fase penghimpunan kaidah fiqih

Kaidah fiqhiyyah baru dikenal sebagai sebuah disiplin ilmu yang tersendiri pada sekitar abad keempat Hijriyyah. Barangkali yang pertama kali dianggap mengumpulkan kaidah-kaidah fiqhiyyah di dalam kitab tersendiri adalah al-Imam Karkhi (wafat tahun 340 H) yang mana beliau memiliki sebuah risalah yang mengandung tiga puluh sembilan kaidah fiqhiyyah yang dikenal dengan “Ushul Karkhi”. Yang kemudian disyarah oleh Muhammad an-Nasafi (537 H).

Kemudian setelah itu para ulama berlomba untuk menulis dalam bidang ini sehingga banyak didapatkan kitab yang berhubungan dan membahas kaidah fiqhiyyah.

Fase kemapanan kaidah fiqih

Pada abad ke-10 Hijriyyah, ilmu kaidah fiqih telah mapan dengan tersusun secara rapi. Di antara yang paling terkenal adalah kitab yang ditulis oleh al-Hafizh as-Suyuthi yang berjudul al-Asybah wa Nadha’ir. Kitab ini telah diringkas, disyarah, dibuat manzhumah, dan lain-lain sebagai bukti perhatian ulama kepadanya.

Demikianlah sampai sekarang ini, para ulama berlomba menulis kaidah fiqih dengan berbagai metode yang mudah dan praktis untuk memudahkan pemahamannya kepada umat.

(والله أعلمُ بالـصـواب)

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *