Fiqih 11 – JIHAD DI JALAN ALLAH 06

Membangun Khilafah dan Imaroh

  • Hukum memilih seorang khalifah:
  • Memilih seorang peminpin bagi kaum muslimin adalah wajib, untuk menjaga martabat dan mengurusi kondisi kaum muslimin, menegakkan hukum hudud, mengembalikan hak, menegakkan hokum Allah, amr ma’ruf nahi mungkar dan malaksanakan da’wah  kepada Allah.
  • Kepeminpinan menjadi sah dengan dipenuhinya satu point dari apa yang disebutkan di bawah ini:

1-Dipilih dengan kesepakatan kaum muslimin, kepeminpinannya menjadi sah dengan dibai’at oleh ahlil aqd dari kalangan para ulama, orang-orang yang shaleh, para pemuka dan tokoh masyarakat kaum muslimin.

2-Kepeminpinannya sah karena ditunjuk langsung secara tertulis oleh peminpin sebelumnya.

3-Mengembangkan syistem musyawarah dalam jumlah terbatas yang terdiri dari orang-orang yang bertaqwa, lalu sepakat memilih salah seorang dari mereka.

4-Berkuasa teradap masyarakat secara paksa agar mereka tunduk kepadanya, dan mengakuinya sebagai peminpin, maka wajib bagi rakyat mentaatinya pada perkara yang tidak teramsuk maksiat kepada Allah.

  • Tegakkanya khilafah didbumi hanya dengan keimanan dan amal shaleh
  • Firman Allah subhanahu wa ta ala:
  1. Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.[1]
  • Kehkalifahan harus ditangan Quraisy dan manusia lain tunduk pada kepeminpinan Quraisy.

عَنْ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْل َاللهِ r يَقُوْلُ: إِنَّ هذَا اْلأَمْرَ فِي قُرَيْشٍ لاَ يُعَلدِيْهِمْ أَحَدٌ إِلاَّ كَبَّهُ اللهُ فِي النَّارِ عَلىَ وَجْهِهِ مَا أَقَامُوْا الدِّيْنَ

Dari Mu’awiyah semoga Allah meredhainya berkata: Aku telah mendengar Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: Sesungguhnya perkara kehalifahan ini harus pada suku quraisy, dan tidak ada seorangpun yang memusuhi mereka kecuali Allah akan mencampakkannya di atas wajahnya pada api neraka selama mereka menegakkan agama ini”. [2]

عَنِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبيِ ِّr قَالَ: لاَ يَزَالُ هذَا اْلأَمْرُ فِي قُرَيْشٍ مَا بَقِيَ مِنْهُمْ اِثْنَانِ

Dari Ibnu Umar semoga Allah meredhai mereka berdua bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: Perkara khilafah ini senantiasa berada di tangan suku Quraisy selama dua orang di antara mereka ada yang masih hidup”.[3]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t قَالَ: َقالَ رَسُوْلُ اللهِ r: اَلنَّاسُ تَبَعٌ ِلقُرَيْشٍ فِي هذَا الشَّأْنِ مُسْلِمُهُمْ تَبَعٌ ِلمُسْلِمِهِمْ وَكَافِرُهُمْ تَبَعٌ لِكَافَرِهِمْ

Dari Abi Hurairah t berkata: Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: Manusia pengikut bagi suku Quraisy dalam perkara (kehalifahan) ini, orang muslim dari mereka adalah pengikut bagi orang muslim dari suku Quraisy, dan orang kafir dari mereka adalah sebagai pengikut bagi orang kafir dari suku Quraisy”.[4]

  • Larangan meminta dan ambisi terhadap kekuasaan

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ سَمُرَةَ t قَالَ: قَالَ لِيَ النَّبِيُّ r: يَا عَبْدُ الرَّحْمنِ  بِنُ سَمُرَةُ لاَ تَسْأَلِ اْلإِمَارَةَ فَإْنْ أُعْطِيْتهََا عَْنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيْتَهَاعَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا …..)

Dari Abdurrohman bin Samuroh t berkata: Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: Wahai Abdurrohman, janganlah meminta menjadi pejabat, jika engkau mendapatkannya dengan cara meminta niscaya engkau serahkan kepadanya (tanpa dibantu oleh Allah) dan jika engkau mendapatkannya tanpa meminta niscaya Allah membantumu (dalam menjalankannya). Muttafaq Aliahi.[5]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t عَنِ النَّبِيِّ r قََالَ: إِنَّكُمْ سَتَحِْرْصُوْنَ عَلىَ اْلإِمَارَةِ  وَسَتَكُوْنُ نَدَامَةٌ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةِ وَبِئْسَتِ اْلفَاطِمَةُ

Dari Abi Huriarah t dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: Kalian akan berambisi terhadap jabatan padahal dia adalah penyesalan pada hari kiamat, dia adalah sebaik-baik wanita yang menyusui dan seburuk-buruk wanita yang mengehtikan susuannya”. HR. Bukhari[6]

عَنْ أَبِي مُوْسَى t قَالَ: َدخَلْتُ عَلىَ النَّبِيِّ r  أَنَا َورَجُلاَنِ مِنْ قَوْمِي فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ: أَمِّرْنَا يَارَسُوْلَ اللهِ  وَقاَلَ اْلآَخَرُ ِمثْلَهُ  فَقَالَ: إِنَّا لاَ نُوَليِّ هذَا َمنْ َسأَلَهُ وَلاَ مَنْ حَرِصَ عَلَيْهِ

“Dari Abi Musa t berkata: Aku masuk kepada Nabi shalallahu alaihi wassalam  bersama dua orang lelaki dari kaumku, lalu salah seorang lelaki itu berkata: Angkatlah kami jadi pejabat wahai Rasulullah!, lelaki yang lainpun berkata demikian, maka Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: Sesungguhnya kami tidak akan memberikan jabatan kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang ambisi dengannya”.Muttafaq Alaihi[7]

  • Menjauhi jabtan, khususnya orang yang lemah dalam mengemban hak-hak jabatan

عَنْ أَبِي ذَرٍّ t قََالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَلاَ تَسْتَعْمِلُنِي؟ قَالَ: فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلىَ مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ:  يَا أَبَا ذَرٍّإِنَّكَ ضَعِيْفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا َيوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيْهَا

Dari Abi Dzar t berkata: aku berkata: Wahai Rasulullah tidakkah engkau memakai akau dalam sebuah jabatan?. Abu Dzar berkata: Maka beliau memukulkan tangannya pada pundakku kemudian bersabda: “Wahai Abu Dzar! Engkau adalah orang yang lemah, sesungguhnya dia pada hari kiamat adalah amanah, kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya padanya”.HR. Muslim.

  • Keutamaan penguasa yang adil dan ancaman bagi penguasa yang zalim

Firman Allah subhanahu wa ta ala:

  1.  “…berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  t عَنِ النَّبِيِّ r قاَلَ: ((سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ إِمَامٌ عَدْلٌ وَشَابٌ نَشَأَ ِفي عِبَادَةِ اللهِ …))

Dari Abi Hurairah t dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: Tujuh golongan orang yang akn dinaungi oleh Allah Ta’ala pada naunganNya di hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya, peminpin yang adil dan pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah..”.Muttafaq Alaihi.[8]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ:  َقالَ رَسُوْلُ اللهِ r: ((إِنَّ الْمُقْسِطِيْنَ عِنْدَ اللهِ عَلىَ مَنَابِرٍ مِنْ ُنْورٍ عَنْ يَِمِيْنِ الرَّحْمنِ U  وِكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِيْنٌ اَلَّذِيْنَ يَعْدِلُوْنَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيْهِمْ وَمَا وَلُوْا))

Dari Abdullah bin Amr semoga semoga Allah meredahi keduanya berkata: Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar di sisi Allah di sisi kanan Allah Yang Maha Pengasih Azza Wa Jalla, dan kedua tanganNya adalah kanan, yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam berhukum, dan adil dalam keluarga dan jabatan yang pegang”. HR. Muslim.[9]

عَنْ مُعَقِلِ بنِ يَسَارٍ t قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْل َاللهِ r يَقُوْلُ: ((ماَ مِنْ َعَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللهُ رَعِيَّةً يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ وَهُوَ غَاشٌ ِلرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ اْلجَنَّةَ)) متفق عليه

Dari Ma’kil bin Yasar t berkata: Aku mendengar Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: Tidaklah seorang hambapun yang diberikan oleh Allah mengurusi urusan rakyat kemudian meninggal sementara dirinya pada saat meninggal tersebut berlaku menipu terhadap rakyatnya kecuali Allah pasti mengharamkan baginya memasuki surge”. Muttafaq Alaihi.[10]

  • Kekhilafahan dan kepeminpinan di tangan pria bukan wanita

عَنْ أَبِي بُكْرَةَ t قاَلَ: لَقَدْ نَفَعَنِي اللهُ بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ الْجَمَلَ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ r أَنَّ فَارِسًَا مَلَّكُوْا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ: ((لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا َأمْرَهُمُْ اْمرَأَةٌ )) أخرجه البخاري

Dari Abi Bakroh t berkata: Sungguh Allah memberikan manfaat bagiku dengan sebuah kalimat pada hari terjadinya perang jamal pada saat sampai kepada Nabi shalallahu alaihi wassalam bahwa orang Persia mengangkat putri kisro Persia sebagai ratu. Beliau bersabda: “Tidak akan pernah beruntung orang yang menjadikan wanita sebagai peminpin mereka”.[11]

  • Tugas seorang khalifah

Firman Allah Ta’ala kepada Nabi shalallahu alaihi wassalam:

  1. Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang Telah diturunkan Allah), Maka Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”.[12]

Firman Allah Ta’ala kepada Nabi Dawud :

  1. Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah Keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan”.[13]
  • Cara membai’at seorang peminpin

عَنْ عُبَادَةَ بنِ صَامِتٍ t قَالَ: بَاَيعْنَا رَسُوْلَ اللهِ r  عَلىَ السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي اْلعُسْرِ َواْليُسْرِ وَالْمَنْشَطِ وَاْلْمَكْرَهِ وَعَلَى أَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَعَلىَ أَلاَّ نُنَازِعَ اْلأَمْرَ أَهْلَهُ وَعَلىَ أَنْ نَقُوْلَ إِلاَّ بِالْحَقِّ َأَيْنَمَا كُنَّا لاَ نَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ-وَفِي رِوَايَة ٍبَعْدَ أَلاَّ نُنَازِعَ اْلأَمْرَ أَهْلَهُ-قال: ((إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ)) متفق عليه

Dari Ubadah bin Shamit t berkata: Kami telah membai’at Nabi shalallahu alaihi wassalam untuk tetap mendengar dan mentaati (peminpin)  dalam keadaan sulit dan mudah, dalam keadaan giat dan terpaksa serta  lebih mengutmakannya dan tidak mencabut perkara ketaatan tersebut dari orang yang sah mengembannya, dan agar kami tidak mengatakan kecuali yang benar di mana saja kami berada dan tidak takut di jalan Allah celaan orang yang mencela. Dalam sebuah riwayat setelah ((dan tidak mencabut perkara ketaatan tersebut dari orang yang sah mengembannya)) beliau bersabda: ((Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata sebagai alasan bagi kalian dengannya di sisi Allah )). Muttafaq Alihi[14]

عَنْ جَرِيْرِ بنِ عَبْدِ الله ِt قَالَ: بَاَيعْنَا رَسُوْلَ اللهِ r  عَلىَ السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فَلَقَّنَنِي ِفيْمَا اسْتَطَعْتُ وَالنُّصْحِ ِلكُلِّ مُسْلِمٍ. متفق عليه

Dari Jarir bin Abdullah t berkata: Kami telah membai’at Nabi shalallahu alaihi wassalam untuk tetap mendangar dan mentaati (peminpin), maka Nabi shalallahu alaihi wassalam memberitahukan kepada kami apa-apa yang mampu kami lakukan dan memberikan nasehat bagi setiap muslim”. Muttafaq Alihi.[15]

  • Tetap sabar dengan kezaliman penguasa dan tetap mengutamakan mereka

عَنْ أُسَيْدِ بنِ حُضَيْرٍ t أَنَّ رَجُلاً ِمنَ اْلأَنْصَارِ خَلاَ بِرَسُوْلِ اللهِ r فَقَالَ: أَلاَ تَْسْتَعْمِلُنِي كَمَا اسْتَعْمَلْتَ فُلاَنًا؟ َفقَاَل: ِإنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً  فَاصْبِرُا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلىَ الْحَوْضِ. متفق عليه

Dari Usaid bin Khudair t bahwa seorang lelaki dari Anshor berbicara berdua dengan Nabi shalallahu alaihi wassalam dan berkata: Tidakkah engkau memanfaakan aku untuk sebuah jabatan sebagaimana engkau telah mengangkat si fulan?. Maka Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya kalian akan menemukan setelahku orang yang orang yang memenitngkan dirinya (dengan kekuasaan). Maka bersabarlah sehingga kalian bertemu denganku pada haudh (kolam Nabi shalallahu alaihi wassalam pada hari kimaat). Muttafaq alihi.[16]

عَنَ بْنِ عَبَّاٍس َرضِيَ اللهُ عَنْهُمَا  عَنِ النَّبِيِّ  r قََالَ: مَنْ َكرِهَ مِنْ َأمِيْرِهِ شَيْئًا فَلَيْصْبِرْ فَإِنَّه ُمَنْ خَرَجَ ِمنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا َماتَ مَيْتَةً جاَهِلِيَّةً. متفق عليه

Dari Ibnu Abbas semoga Allah meredhai mereka berdua dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang melihat dari penguasanya sesuatu yang benci maka hendaklah dia bersabar, sebab barangsiapa yang keluar (dengan tidak mentaati) penguasa satu jengkal maka dia mati dengan kematian jahiliyah”. Muttafaq Alaihi.[17]

  • Ta’at kepada penguasa sekalipun mereka mengambil hak-hak rakyat

Salmah bin Yazid Al-Ja’fi bertanya kepada Nabi shalallahu alaihi wassalam: Wahai Nabi yang telah diutus oleh Allah bagimanakah pendapatmu jika ada penguasa yang meminpin kami, yang menuntut haknya dan mencegah hak-hak kami sebagai rakyat, apakah yang engaku perintahkan kepada kami?. Maka Nabipun berpaling darinya, lalu dia bertanya kembali, namun anbipun berpaling darinya, kemudian dia tetap bertanya dua kali dan tiga kali lalu Asy’ats bin Qaiys menarik orang tersebut lalu Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda:

اِسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوْا َوعَلَْيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ

“Dengarkanlah mereka dan taatilah sesungguhnya mereka akan bertanggung jawab terhadap apa yang dibebankan kepada mereka dan kalian akan bertanggung jawab terhadap apa-apa yang dibebankan kepada kepada kalian”. HR. Muslim[18]

  • Kewajiban komitmen dengan jama’ah kaum muslimin dan penguasa mereka pada saat munculnya fitnah apapun
  • Dari Hudzaifah bin Al-Yaman semoga Allah meredhai keduanya berkata: Bahwa orang-orang bertanya kepada Nabi shalallahu alaihi wassalam tentang kebaikan dan aku bertanya kepadanya tentang keburukan karena khawatir jika keburukan tersebut menimpa diriku. Aku berkata: “Wahai Rasulullah kita pernah berada pada masa jahiliyah dan keburukan, lalu Allah mendangkan kepada kami kebaikan ini, apakah setelah kebikan ini akan terjadi keburukan?. Beliau bersabda: “Ya”. Lalu aku bertanya kembali: “Apakah setelah terjadinya keburukan akan terjadi kebaikan?. Beliau menjawab: “Ya, dan akan terjadi dan akan Nampak padanya kerusakan”. Kerusakan apakah yang akan terjadi?. Tanyaku. Beliau bersabda: “Aka ada suatu kaum yang akan berbuat bukan dengan sunnahku dan tidak mengambil petunjukku,kamu mengetahui mereka dan mengingkarinya”. Aku bertanya: “Apakah setelah kebaikan ini ada terajdi keburukan?.  Beliau bersabda: “Ya, aka ada penyeru kepada pintu-pintu jahannam dan barangsiapa yang menerima seruan itu, mereka campakkan ke dalam api neraka”. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah jelaskanlah kepada kami siapakah mereka itu?. Beliau menjawab: “Mereka adalah kaum dari keturunan kita dan berbicara dengan bahasa kita”. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah apakah yang engkau perintahkan kepada kami jika terjadi masa tersebut?. Beliau bersabda: “Tetaplah komitmen dengan jam’ah kaum muslim dan peminpin mereka”. Aku bertanya: “Jika mereka tidak memiliki jama’ah dan peminpin?. Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Juhilah semua kelompok tersebut sekalipun engkau terpaksa harus menggigit akar pohon sampai kematian menjemputmu dan engkau tetap berada dalam keadaan tersebut”. Muttafaq alihi.[19]
  • Dari Abi Hurairah t dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari ketaatan, memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin lalu mati maka dia mati dengan kematian jahiliyah, barangsiapa yang berjuang di bawah bendera kepanatikan, marah karena kepanatikan, menyeru kepada kepanatikan atau menolong karena kepanatikan lalu dia mati padanya,maka kematiannya adalah kematian jahiliyah. Barangsiapa yang keluar untuk memerangi umatku, membunuh orang yang baik atau buruk dari mereka dan tidak menghiraukan orang yang beriman dari mereka serta orang yang berjanji tidak menepati janjinya maka dia bukan golonganku  dan aku bukan dari golonganku”. HR. Muslim.[20]
  • Dari Ibnu Abbas semoga Allah meredhai mereka berdua bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang melihat dari peminpinnya sesuatu yang dibencinya maka hendalah dia bersabar atasnya, sebab sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin walaupun satu jengkal kemudian dia mati dalam keadaan tersebut maka kematiannya adalah kematian jahiliyah”. Muttafaq alaihi.[21]
  • Wajib mengingkari para peminpin pada perkara yang menyelisihi syari’at dan tidak memerangi mereka selama mereka mendirikan shalat

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ r أَنَّهُ قَالَ : (( إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُوْنَ وَتُنْكِرُوْنَ فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ أَسْلَمَ وَلِكنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ)) قَاُلْوا: يَأ رَسُوْل َاللهِ  أَلاَ ُنقَاِتلُهُمْ؟ قَالَ : ((لاَ , مَا صَلُّوْا)) أخرجه مسلم

Dari Ummu Salamah semoga Allah meredhainya dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: ((Sungguh akan diangkat pada kalian penguasa yang kalian ketahui dan kalianpun akan mengingkarinya, maka barangsiapa yang membencinya maka dia telah berlepas diri dan barangsiapa yang mengingkarinya maka dia telah selamat, akan tetapi (celaka) orang yang rela dan mengikuti mereka)). Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah tidakkah kita memerangi mereka?”Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Tidak, selama mereka mendirikan shalat”. HR. Muslim.[22]

  • Hukum memecah belah kaum muslimin yang telah bersepakat

عَنْ عَرْفَجَةَ  t قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْل َاللهِ r يَقُوْلُ: ((مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكمْ عَلىَ رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرْيْدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ َفَاقْتُلُُوْهُ)) أخرجه مسلم

Dari Arfajah  t berkata: Aku mendengar Nabi shalallahu alaihi wassalam  bersabda:“Apabila datang kepada kalian sementara kalian telah berssepakat (mengangkat) seseorang sebagai peminpin kalian, dia datang guna memecah belah kekuatan kalian atau mencerai beraikan kesatuan kalian maka bunuhlah dia”. HR. Muslim[23]

  • Hukum membai’at dua peminpin

عَنْ أَبِي سَعِيْدِ الْخُدْرِي t قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ r: ((إِذَا بُوْيِعَ لِخَلِْيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُوْا الآخَرَ مِنْهُمَا)) أخرجه مسلم

Dari Abi Sa’id Al-Khudri t berakta: Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Apabila dibai’at dua khalifah (dalam satu kekuasaan) maka hendaklah dibunuh salah satu dari keduanya”.[24]

  • Peminpin yang paling baik dan paling buruk

Dari Abdullah bin Malik t dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Peminpin kalian yang paling baik adalah peminpin yang kalian cintai dan merekapun mencintai kalian, yang berdo’a untuk kalian dan kalianpun berdo’a untuk mereka. Peminpin kalian yang paling buruk adalah peminpin yang kalian benci dan merekapun membeci kalian, dan kalian melaknat mereka dan merekapun balas melaknat kalian”. Dikatakan: “Wahai Rasulullah, tidakkah kita mengucilkan mereka dengan pedang?”, beliau menjawab: “Tidak, selama mereka mendirikan shalat, apabila kalian melihat dari peminpin kalian sesuatu yang kalian benci maka bencilah amal perbuatannya dan janganlah mencabut tangan kalian dari ketaatan”. HR. Muslim.[25]

  • Orang yang menjadi kepercayaan dan konsultan seorang peminpin

عَنْ أَبِي سَعِيْدِ الْخُدْرِي t عَنَ النَّبِيِّ ِ  rقَالَ: ((ماَ بَعَثَ اللهُ مِنْ َنبِيٍّ وَلَا اسْتَخلَفَ مِنْ خَلْيْفَةٍ إِلاَّ كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ: بِطَانَةٌ تَأْمُرُ ُباِلْمَعْرُوْفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّوَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ فَاْلمَعْصُوْمُ مَنْ عَصَمَ الله تَعَالىَ)) أخرجه البخاري

Dari Abi Sa’id Al-Khudri t dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Tidak seorang Nabipun yang diutus oleh Allah dan tidak pula mengangkat seorang khalifah kecuali mereka memiliki dua macam orang kepercayaan: “Orang keparcayaannya yang menyuruhnya berbuat kebajikan serta mendorongnya untuk berbuat hal tersebut dan kepercayaan yang menyeruhnya untuk berbuat keburukan serta mendorongnya untuk tetap melakukannya, orang yang terjaga adalah orang yang tetap dijaga oleh Allah subhanahu wa ta ala”.[26]

  • Kewajiban seorang khalifah

1-Menegakkan agama Islam. Yaitu dengan menjaganya, berdakwah kepadanya dan menolak segala segala syubhat yang nisbatkan kepadanya, menegakkan hukum-hukumnya dengan menjalankan hukum Allah pada  masyarakat dan berjihad di jalan Allah.

Firman Allah Ta’ala:

  1. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.[27]

2-Mengangkat orang yang mampu dalam mengemban sebuah jabatan dan kekuasaan

Firman Allah Allah subhanahu wa ta ala:

  1.  “Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya”.[28]

3-Seorang peminpin harus mengkontrol tugas para pekerjanya

Dari Abi Humaid semoga Allah meerdhai mereka berdua berkata: Nabi shalallahu alaihi wassalam mengangkat  seorang  lelaki dari suku Azd bernama Allutbiyah untuk mengmbil shadakah. Pada saat dirinya tiba dihadapan Nabi shalallahu alaihi wassalam dia berkata: “Ini adalah bagian kalian dan ini adalah bagin yang dihadiahkan kepadaku”. Maka Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Tidakkah dia duduk di rumah bapaknya atau dirumah ibunya apakah dia diberikan hadiah atau tidak?. Demi jiwaku yang berada di dalam jiwanya, tidaklah seeorang mengambil sedikitpun darinya kecuali dia datang pada hari kiamat dengan memikulnya pada lehernya sendainya seekor onta maka dia bersuara, kalau sapi maka dia bisa menguak, atau seekor kambing maka dia  mengembek’. Lalu beliau mengangkat tangannya sampai tanpak bulu kedau ketiaknya seraya berkata: “Ya Allah aku telah menyampaikannya, ya Allah aku telah menyampaikannnnya”. Muttafaq Alaihi.[29]

4-Memantau mengatur kehidupan rakyat

عَنِ بنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ r أَنَّهُ قَالَ:  ((أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَاْلأَمِيْرُ الَّذِي عَلىَ النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ….)) متفق عليه,

Dari Ibnu Umar semoga Allah meredhai keduanya dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Ketahuilah bahwa setiap kalian adalah peminpin dan kalian akan ditanya tentang kepeminpinannya, dan seorang pejabat yang diangkat mengurusi perkara manusia adalah peminpin dan akan ditanya tentang kepeminpinannya”. Muttafaq Alaihi.[30]

5-Kasih sayang terhadap rakyat, menasehati dan tidak mencari-ari kesalahan mereka

عَنْ مَعْقِلِ بنِ يَسَارٍ t قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْل َاللهِ r يَقُوْلُ: ((مَا ِمنْ أَمِيْرٍ يَليِ أَمْرَ الْمُسْلِمِيْنَ ثُمَّ لاَ يَجْهَدُ لَهُمْ وَيَنْصَحُ ِإلاَّ لَمْ يَدْخُلْ  مَعَهُمُ اْلجَنَّةَ)) أخرجه مسلم

Dari ma’qal bin Yasar t berkata: Aku telah mendengar Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: Barangsiapa yang menduduki sebuah jabatan yang mengurusi perkara kaum muslimin, kemudian dia tidak bersungguh-sungguh mengurusi mereka dan tidak pula menasehati mereka, kecuali dia tidak akan masuk bersama mereka ke dalam surga”. HR. Muslim.[31]

6-Menjadi Tauladan yang baik bagi rakyat mereka

Firman Allah Ta’ala:

  1. 74. “…dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.[32]
  2. 24. “Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami”.[33]
  • Hak-hak seorang khalifah

1-Mentaatinya pada perkara yang bukan bermaksiat kepada Allah

  1.  “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.[34]

عَنِ بنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ r أَنَّهُ قَالَ:  ((عَلىَ اْلمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرُ بِمَعْصِيَةٍ  فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ)). متفق عليه

Dari Ibnu Umar semoga Allah meredhai keduanya dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Atas setiap orang muslim untuk mendegar dan mentaati peminpin pada perkara yang dia sukai atau benci kecuali jika dia diperintah untuk mengerjakan kemaksiatan, maka jika diperintah mengerjakan suatu kemaksiatan maka tidak ada kewajiban baginya untuk mendengar dan mentaati”. Muttafaq alaihi. [35]

2-Saling menasehati

عَنْ تَمِيْمِ الدَّارِي  t أَنَّ النَّبِيِّ ِ  rقَالَ: ((اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ)) قُلْنَا: ِلمَنْ؟ قَالَ: ِللهِ وَلِكتَابِهِ وَلَِرَسُوِلهِ وَلأئَمَةِ الْمُسْلِمِيْنَ  وَعَامَّتِهِمْ)) أخرجه مسلم

Dari Tamim Al-Dari  t bahwa sesungguhnya Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Agama itu adalah nasehat”. Kami bertanya: “Untuk siapa?. Beliau menjawab:“Bagi Allah, bagi kitabNya, bagi RaasulNya dan bagi peminpin kaum muslimin serta orang awam mereka”. HR. Muslim[36]

3-Membela dan mendukungnya dalam menegakkan kebenaran

Firman Allah Ta’ala:

  •  “….dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. [37]

[1] QS. An-Nur: 55

[2] HR.Bukhari: 7139.

[3] Muttafaq Alaihi, HR. Bukhari: 3501 dan Muslim: 1820

[4] Muttafaq Alaihi, Bukahri: 3495 dan Muslim: 1818

[5] Muttafaq alihi, HR. Bukhari: 7147 dan Muslim: 1652

[6] HR. Bukhari: 7148

[7] Muttafaq Alihi, HR. Bukhari: 7149 dan Muslim pada kitab Imaroh hadits no: 1733

[8] Al-Bukhari:  1423 dan Muslim: 1031

[9] HR. Muslim no: 1827.

[10]Al-Bukhari: 7150 dan Mudlim: 142.

[11] HR. Bukhari: 7099

[12] QS. Al-Maidah: 49

[13] QS. Shaad: 26

[14] HR. Bukahri no: 7056 dan Muslim no: 1709

[15] HR. Bukhari no: 7204 dan Muslim no: 56.

[16] HR. Bukhari: 3792 dan Muslim no: 1845.

[17] HR. Bukhari no: 7023 dan Muslim no: 1849

[18] HR. Muslim no: 1846

[19]  HR. Bukhari no: 3606 dan Muslim no: 1847

[20] HR. Muslim no: 1848

[21] HR. Bukhari no: 7054 dan Muslim no: 1849.

[22] HR. Muslim no: 1854

[23] HR. Muslim no: 1852

[24] HR. Muslim no: 1853

[25] HR. Muslimno: 1855

[26] HR. Bukhari no: 7198

[27] QS. An-Nisa’: 58

[28] QS. Al-Qoshosh: 26

[29] HR. Bukhari no: 2597 dan Muslim no: 1832

[30] HR. Bukhari no: 893 dan Muslim no: 1829

[31] HR. Muslim no: 142

[32] QS. Al-Furqon: 74

[33] QS. Al-Sajdah: 24

[34] QS. Al-Nisa’: 59

[35] HR. Bukhari no: 7144 dan Muslim no: 1839

[36] HR. Muslim no: 55

[37] QS. Al-Maidah: 2

 

 

(والله أعلمُ بالـصـواب)

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *