Fiqih 13 – Hukum Yang Berkaitan Dengan Jenazah 06

Hukum Ta’ziyah

Disunnahkan berta’ziyah kepada yang mendapat musibah kematian sebelum dimakamkan atau sesudahnya. Dikatakan kepada yang mendapat musibah kematian seorang muslim: ‘Sesungguhnya bagi Allah subhanahu wa ta ala apa yang Dia ambil dan bagi-Nya apa yang Dia I beri, segala sesuatu di sisinya dengan waktu yang sudah ditentukan, maka hendaklah engkau sabar dan mengharap pahala.” Muttafaqun ‘alaih.[1]

Dan ia berdoa untuk mayit dan yang berduka dengan ucapannya: ‘Ya Allah, ampunilah Abu fulan, tinggikan derajatnya pada orang-orang yang mendapat petunjuk, gantikanlah ia pada keturunannya yang masih tersisa, dan berilah ampunan untuk kami dan dia wahai Rabb semesta alam, luaskanlah kuburnya, terangilah ia di dalamnya.’ HR. Muslim.[2]

. Disunnahkan ta’ziyah kepada keluarga mayit dan tidak ada batas baginya. Ia berta’ziyah kepada mereka dengan sesuatu yang bisa menghibur mereka, menahan dari duka cita mereka, dan mendorong mereka untuk sabar dan ridha dalam batas-batas syara’, dan berdoa untuk mayit dan yang berduka.

. Boleh berta’ziyah di setiap tempat: di pemakaman, di pasar, di mushalla, di masjid, di rumah. Keluarga mayit boleh berkumpul dalam sebuah rumah atau satu tempat, lalu yang ingin berta’ziyah menuju mereka, memberi ta’ziyah, kemudian ia pulang.

. Keluarga mayit tidak boleh menentukan pakaian khusus untuk ta’ziyah, seperti pakaian hitam umpamanya, karena padanya mengandung sikap murka terhadap qadha dan qadar Allah subhanahu wa ta ala.

. Dibolehkan berta’ziyah kepada orang kafir tanpa mendoakan mayat mereka jika mereka tidak menampakkan permusuhan terhadap agama Islam dan orang-orang muslim.

. Disunnahkan membuat makanan untuk keluarga mayit dan mengirimnya kepada mereka, dan dimakruhkan bagi keluarga mayit membuat makanan untuk manusia dan mereka berkumpul atasnya.

Hukum menangisi jenazah:

Boleh menangisi jenazah jika tidak disertai ratapan. Dan haram merobek pakaian, memukul pipi, meninggikan suara dan semisalnya. Dan mayit disiksa –maksudnya merasa sakit dan gelisah- dalam kuburnya bila diratapi atasnya dengan wasiat darinya.

  1. Dari Abdullah bin Ja’far t, bahwa Nab shalallahu alaihi wassalam memberi tempo kepada keluarga Ja’far t selama tiga hari bahwa beliau shalallahu alaihi wassalam mendatangi mereka. Kemudian beliau datang kepada mereka, lalu berkata, ‘Janganlah kamu menangisi saudaraku setelah hari ini.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Panggilkan anak-anak saudaraku untukku.’ Lalu kami dibawa, seolah-olah kami adalah anak-anak burung, lalu beliau shalallahu alaihi wassalam bersabda, ‘Panggilkan tukang cukur untukku.’ Lalu beliau menyuruhnya (agar mencukur rambut kami) lalu ia mencukur rambut kami.’ HR. Abu Daud dan an-Nasa`i.[3]
  2. Dari Umar bin Khaththab t, dari Nab shalallahu alaihi wassalam, beliau bersabda, ‘Mayit disiksa di dalam kubur karena ratapan atasnya.’[4]

[1]  HR. al-Bukhari no. 7377, ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 923

[2]  HR. Muslim no 920

[3] Shahih/ HR. Abu Daud no. 4192, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan Abu Daud, dan an-Nasa`i no. 5227, Shahih Sunan an-Nasa`i no. 4823

[4]  HR. al-Bukhari no. 1292, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 927.

 

(والله أعلمُ بالـصـواب)

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *