Fiqih 05 – Ibadah 39

ATSAR PARA SHAHABAT MENGENAI KEWAJIBAN SHALAT BERJAMA`AH DAN SANKSI BAGI ORANG YANG MENINGGALKANNYA

 

Dari Amirul Mukminin Umar bin Khaththab  رضي الله عنه  berkata :

Kenapa suatu kaum sampai meninggalkan shalat berjama`ah, karena ulah sebagian dari mereka yang telah meninggalkan shalat menjadikan yang sebagian lainnya  turut meninggalkan shalat berjama`ah. Sungguh aku akan mengutus orang kepada mereka, untuk menyeret leher-leher mereka agar menghadiri shalat berjama`ah. Dan beliau menulis surat kepada para amir di negeri-negeri Mesir  yang berisikan : “Sesungguhnya perkara yang paling penting bagiku adalah shalat, maka barangsiapa yang memelihara shalat berarti dia telah memelihara agamanya dan barangsiapa yang mengabaikannya atau mengabaikan kewajiban-kewajiban lainnya maka saya akan manelantarkannya. Salah  satu bentuk manifestasi dari memelihara shalat adalah menunaikannya dengan berjama`ah di masjid.

 

Ibnu Mas`ud   رضي الله عنه  berkata :

Barangsiapa yang ingin bertemu dengan Allah kelak (dalam keadaan) sebagai seorang muslim, maka hendaklah dia memelihara shalat setiap kali ia mendengar panggilan shalat. Sesungguhnya Allahltelah mensyariatkan sunnanal huda (jalan-jalan petunjuk). Apabila kamu shalat sendirian di rumahmu seperti kebiasaan shalat yang dilakukan oleh seorang mukhallif (yang meninggalkan shalat berjama`ah) ini, berarti kamu telah meninggalkan sunnah nabimu, apabila kamu telah meninggalkan sunnah nabimu, berarti kamu telah tersesat, riwayat yang lain : berarti kamu telah kafir. Sesungguhnya kami berpendapat, tiada seorang pun yang meninggalkan shalat berjama`ah di masjid melainkan seorang munafik yang jelas-jelas nifak.

 

Abu Hurairah  رضي الله عنه  berkata :

Dua telinga anak Adam yang dituangkan cairan timah panas kedalamnya, lebih baik daripada telinga yang mendengar hayya `alash shalaah, hayya `alal falaah kemudian tidak mendatanginya.

 

Berkata Ummul Mukminin `Aisyah ra :

Barangsiapa yang mendengar panggilan shalat (adzan) kemudian tidak mendatanginya maka berarti ia tidak menghendaki kebajikan, dan tidak ada yang boleh menolaknya kecuali bagi siapa yang memiliki `udzur .

 

Ibnu Abbas  رضي الله عنه  pernah ditanya tentang seseorang yang shalat malam dan siangnya ia berpuasa akan tetapi ia tidak melakukan shalat jum`at dan shalat jama`ah, maka ia menjawab : “Tempatnya di Neraka!”, kemudian si penanya ini meninggalkannya. Sebulan kemudian si penanya ini kembali menanyakannya dan dijawab : “Tempatnya di Neraka”.

 

Berkata Ibnu Mas`ud  رضي الله عنه  :

Barangsiapa yang mendengar ad  رضي الله عنه  an dan dia tidak memenuhinya tanpa ada alasan yang dibenarkan maka shalatnya tidak diterima.

 

Berkata Abu Musa Asy`ari  رضي الله عنه  :

Barangsiapa yang mendengar panggilan shalat dan dia tidak mendatanginya tanpa ada alasan yang dibenarkan sedang ia dalam keadaan sehat bugar maka shalatnya tidak diterima.

 

Berkata Hasan bin `Ali  رضي الله عنه  :

Barangsiapa yang mendengar panggilan shalat dan dia tidak mendatanginya maka shalatnya tidak akan melewati kepalanya (tidak diterima) kecuali ada `udzur  yang dibenarkan.

 

Berkata `Ali  رضي الله عنه  :

Barangsiapa yang mendengar adzan yang datang dari sisi masjid dan dia tidak meresponnya sedang dia dalam keadaan sehat tidak ada `udzur  apa pun yang dibenarkan maka shalatnya tidak diterima.

 

(والله أعلمُ بالـصـواب)

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *