Fiqih 05 – Ibadah 20

Puasa Sunnah

Puasa terbagi dua:

Wajib: seperti puasa Bulan Ramadhan.

Sunnah: ada dua: sunnah mutlak dan sunnah terkait, dan sebagiannya lebih kuat dari yang lain. Puasa sunnah mengandung pahala besar dan tambahan pahala, dan sebagai penambal kekurangan yang ada dalam puasa wajib.

  Macam-macam puasa sunnah:

  1. Puasa sunnah paling utama adalah puasa Daud a.s, beliau puasa satu hari dan berbuka satu hari.
  2. Puasa paling utama setelah puasa Ramadhan adalah Bulan Muharram. Yang terkuat adalah hari ke sepuluh, kemudian hari ke sembilan. Dan puasa hari ke sepuluh menebus dosa-dosa satu tahun yang lalu. Dan disunnahkan puasa hari ke sembilan, kemudian hari ke sepuluh agar berbeda dengan kaum Yahudi.
  3. Puasa enam hari bulan Syawal. Rasulullah SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM bersabda, ‘Barang siapa puasa Bulan Ramadhan, kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari di Bulan Syawal, maka ia seperti puasa satu tahun.’ HR. Muslim.[1] Yang paling baik adalah terus menerus setelah hari raya dan boleh memisah-misahnya.
  4. Puasa tiga hari setiap bulan, yaitu seperti puasa satu tahun. Di sunnahkan pada hari-hari putih, yaitu hari ke tiga belas, empat belas, dan lima belas. Atau puasa hari Senin, Kamis, dan senin sesudahnya. Dan jika ia menghendaki, ia puasa dari permulaan bulan dan akhirnya.
  5. Puasa hari Senin dan Kamu setiap pekan. Padanya diperlihatkan semua amal kepada Allah SWT. Maka disunnahkan berpuasa, dan hari Senin lebih kuat dari pada hari Kamis.
  6. Puasa sembilan (9) hari dari permulaan Bulan Dzulhijjah, paling utama adalah hari ke sembilan, yaitu hari ‘Arafah, bagi orang yang tidak berhaji, dan puasanya menebus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang.
  7. Puasa fi sabilillah. Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a, ia berkata, ‘Aku mendengar Nabi SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM bersabda, ‘Barang siapa yang puasa satu hari fi sabilillah, niscaya Allah SWT menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh (70) tahun.’ Muttafaqun ‘alaih.[2]
  8. Disunnahkan memperbanyak puasa Sya’ban di awalnya. Dari Abu Qatadah al-Anshari r.a, bahwa Rasulullah SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM ditanya tentang puasa beliau … -dan padanya-, dan ditanya tentang puasa satu hari dan buka satu hari? Beliau bersabda, ‘Itu adalah puasa saudaraku Daud a.s.’ Ia (Abu Qatadah r.a) berkata, Dan beliau ditanya tentang puasa hari Senin? Beliau menjawab, ‘Itu adalah hari yang aku dilahirkan padanya dan hari aku dibangkitkan (atau diturunkan wahyu kepadaku).’ Dan beliau SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM ditanya tentang puasa hari Arafah? Beliau menjawab, ‘Menebus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang.’ Dan beliau SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM ditanya tentang puasa hari ‘Asyura? Beliau menjawab, ‘Menebus dosa-dosa tahun yang lalu.’ HR. Muslim.[3]

. Dari ‘Aisyah r.a berkata: ‘Rasulullah SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM berpuasa hingga kami mengatakan beliau tidak berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak dari Bulan sya’ban’. Muttafaq ‘Alaihi[4]

. Diharamkan menyendirikan puasa bulan Rajab semuanya, karena ini termasuk syi’ar jahiliyah. Jika diiringi dengan puasa lainnya maka tidak diharamkan. Dimakruhkan menyendirikan puasa hari Jum’at, karena ia termasuk hari besar umat Islam. Jika diiringi dengan puasa lainnya maka tidak dimakruhkan.

. Disunnahkan puasa hari Sabtu dan Ahad, karena keduanya adalah hari besar orang-orang musyrik, dan dengan berpuasa kedua hari itu diperoleh perbedaan dengan mereka, dan disunnahkan bagi yang musafir puasa hari ‘Arafah dan hari ‘Asyura, karena waktu kedua akan berlalu.

. Haram puasa hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha serta hari syakk (ragu-ragu), yaitu ke tiga puluh dari bulan Sya’ban, apabila tujuannya sebagai tindakan preventif untuk bulan Ramadhan, dan haram puasa hari tasyriq kecuali puasa untuk mengganti dam haji tamattu’ dan qiran saja, maka dibolehkan. Tidak disyari’atkan puasa satu tahun, dan dimakruhkan puasa hari ‘Arafah bagi yang berhaji.

. Perempuan tidak boleh melaksanakan puasa sunnah, sedang suaminya ada, kecuali dengan ijinnya. Adapun puasa Ramadhan dan mengqadha` puasa Ramadhan, apabila waktunya sudah sempit, maka ia boleh puasa sekalipun tanpa ijin suami.

. Barang siapa yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, lalu ia melaksanakan puasa enam hari bulan Syawal sebelum mengqadha`, ia tidak mendapatkan puasanya yang disebutkan (seperti puasa satu tahun, pent.), tetapi ia harus menyempurnakan puasa Ramadhan lebih dahulu, kemudian meneruskannya dengan puasa enam hari bulan Syawal, agar ia memperoleh pahala.

 

 

. Hukum memutuskan puasa sunnah:

Barang siapa yang melaksanakan puasa sunnah, kemudian ia ingin berbuka, maka ia boleh melakukan hal itu. Dan boleh puasa sunnah dengan berniat di siang hari, dan ia boleh memutusnya jika ia menghendaki, dan tidak wajib mengqadha`nya. Akan tetapi ia tidak selayaknya memutus puasanya tersebut kecuali bila memiliki sebab yang benar.

Dari ‘Aisyah r.a, ia berkata, ‘Pada suatu hari, Nabi SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM masuk kepadaku, seraya bertanya, ‘Apakah engkau memiliki sesuatu?’ Kami menjawab,’Tidak ada.’ Beliau bersabda: “Kalau begitu aku berpuasa.’ Kemudian beliau datang kepada kami pada suatu hari yang lain, lalu kami berkata, ‘Kami diberi hadiah makanan (terbuat dari kurma dan tepung, pent.).’ Beliau bersabda, ‘Perlihatkanlah ia kepadaku, sungguh tadi pagi aku berniat puasa,’ lalu beliau makan.’ HR. Muslim.[5]


[1]  HR. Muslim no. 1164

[2]  HR. al-Bukhari no. 2840, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1153

[3]  HR. Muslim no. 1162.

[4]  H.R Bukhari no. (1969), ini adalah lafadznya, dan Muslim no. (1156)

[5]  HR. Muslim no. 1154

 

(والله أعلمُ بالـصـواب)

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *