Fiqih 05 – Ibadah 19

Sunnah-sunnah puasa:

. Disunnahkah bersahur bagi orang yang berpuasa, karena terdapat keberkahan padanya, dan sebaik-baik sahur seorang mukmin adalah dengan kurma. Di sunnahkan mengakhirkan waktu sahur. Di antara berkah sahur adalah menguatkan ketaatan dan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta ala. Ia adalah pendorong untuk bangun dari tidur waktu. Waktu sahur adalah waktu untuk beristighfar (memohon ampun) dan berdo’a, (memudahkan untuk dapat menunaikan) shalat fajar secara berjama’ah, dan untuk menyelisihi ahli kitab.

. Disunnahkan untuk segera berbuka dan memulai dengan kurma sebelum shalat. Jika kurma tidak ada, maka dengan air. Jika ia tidak menemukan, maka ia berbuka dengan apa yang ada dari makanan dan minuman yang halal. Jika ia tidak mendapat sesuatu untuk berbuka, maka ia berniat berbuka dengan hatinya.

. Orang yang puasa kehilangan kadar gula yang tersimpan dalam tubuh. Penurunan kadar gula dari batas normal menyebabkan orang yang puasa merasakan lemah, malas dan kurang penglihatan. Dan memakan kurma, dengan ijin Allah subhanahu wa ta ala, dapat mengembalikan apa yang hilang dari zat gula dan semangat.

. Disunnahkan untuk memberi makan orang yang berpuasa. Barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa maka ia akan mendapatkan pahala sepertinya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.

– Apa yang diucapkan orang yang berpuasa ketika ia berbuka:

. Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk memperbanyak dzikir dan doa. Ketika hendak berbuka hendaknya mengucapkan basmalah, dan mengucap hamdalah setelah selesai makan. Ketika hendak berbuka hendaknya mengucapkan:

ذَهَبَ الظَّّمَاُ, وابْتَلّتِ الْعُرُوقُ, وثَبَتَ الأجْرُ, إِنْ شَاءَ الله

‘Telah hilang rasa haus, tenggorakan telah basah, dan telah tetap pahala, insya Allah’

. Disunnahkan memakai siwak bagi orang yang berpuasa dan tidak berpuasa pada setiap saat, di awal siang maupun di akhirnya.

. Apabila ada orang yang mencela atau hendak membunuhnya, maka disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk mengatakan: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa”. Jika ia dalam keadaan berdiri hendaknya segera duduk.

. Bagi yang berpuasa disunnahkan menambah dan memperbanyak  amal-amal kebaikan seperti zikir, membaca al-Qur`an, bersedekah, membantu orang-orang fakir dan yang membutuhkan, istigfar, taubat, tahajjud, silaturrahim, mengunjungi orang sakit dan seumpama yang demikian itu.

. Disunnahkan shalat Tarawih di malam-malam bulan Ramadhan setelah shalat ‘Isya (sebelas rekaat bersama witir atau tiga belas rekaat bersama witir), inilah sunnah. Barang siapa yang menambah, maka tidak berdosa dan tidak makruh. Dan barang siapa yang shalat bersama imam sampai berpaling, niscaya ditulis baginya shalat di malam hari (qiyamullail).

. Disunnahkan bagi yang berpuasa yang mendapat undangan makan agar mengatakan, ‘Sesungguhnya saya sedang puasa,’ berdasarkan sabda Nabi shalallahu alaihi wassalam, ‘Apabila seseorang dari kalian mendapat undangan makan, sedangkan dia puasa, hendaklah ia berkata, ‘Sesungguhnya saya sedang puasa.’ HR. Muslim.[1]

. Disunnahkan bagi orang yang puasa dan yang tidak puasa, apabila makan di sisi suatu kaum, agar mengatakan, ‘Orang-orang yang puasa berbuka di sisimu, orang-orang baik menyantap makananmu, dan malaikat mendo’akanmu.’ HR. Abu Daud dan Ibnu Majah.[2]

. Disunnahkan umrah di Bulan Ramadhan, berdasarkan sabda Nabi shalallahu alaihi wassalam, ‘…Umrah di bulan Ramadhan senilai menunaikan haji atau haji bersamaku.’ Muttafaqun ‘alaih.[3]

. Barang siapa yang berihram umrah di hari terakhir bulan Ramadhan dan tidak memulai pelaksanaan umrahnya kecuali di malam lebaran, maka umrah ini terhitung pada bulan Ramadhan, karena perhitungan adalah pada saat masuk padanya (saat berniat).

. Disunnahkan bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan berbagai macam ibadah dan menghidupkan semua malam dan membangunkan keluarganya.

 

. Keutamaan Lailatul Qadar:

Lailatul Qadar adalah suatu malam yang sangat agung nilainya. Padanya dipisahkan setiap urusan yang bijaksana, ditentukan rizqi, ajal, dan keadaan untuk satu tahun itu.

Diharapkan Lailatul Qadar terjadi di malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan yang lebih kuat pada malam dua puluh tujuh (27).

. Keistimewaan Lailatul Qadar:

Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan, yaitu delapan puluh tiga (83) tahun empat bulan. Maka disunnahkan menghidupkannya dan banyak berdoa padanya dengan doa yang warid (diriwayatkan dalam hadits-hadits).

  1. Firman Allah subhanahu wa ta ala:

﴿ إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ ١ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ ٢ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ ٣ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ ٤ سَلَٰمٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ ٥﴾ [القدْر: 1، 5]

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. * Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? * Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.* Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. * Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”  (QS. Al-Qadar:1-5)

  1. Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi shalallahu alaihi wassalam, beliau bersabda, ‘Barang siapa yang beribadah pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya diampuni dosanya yang telah terdahulu.’ Muttafaqun ‘alaih.[4]
  2. Dari ‘Aisyah r.a, ia berkata, ‘Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, ‘Beritahukanlah kepadaku, jika aku mengetahui Lailatul Qadar, apa yang kubaca padanya? Beliau SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM bersabda, ‘Bacalah, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, menyukai sifat maaf, maka maafkanlah aku.’ HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.[5]

 Perkara yang dimakruhkan bagi orang yang puasa, yang wajib dan yang boleh

. Dimakruhkan bagi yang puasa berlebih-lebihan dalam berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung, mencicipi makanan bukan karena kebutuhan, berbekam dan semisalnya bila melemahkannya.

. Apabila telah tiba azan Magrib, orang yang puasa wajib berbuka, dan wajib menahan diri dari segala yang membatalkan berupa makan dan minum serta yang lainnya, apabila sudah nyata terbir fajar kedua.

. Wajib meninggalkan dusta, gibah (mengupat), dan mencela di setiap waktu, dan pada bulan Ramadhan lebih dianjurkan.

Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi shalallahu alaihi wassalam, beliau bersabda, ‘Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, serta kebodohan, maka Allah subhanahu wa ta ala tidak perduli dia meninggalkan makanan dan minumannya.’ HR. al-Bukhari.[6]

. Hukum mengecup dan bermesraan dengan istri bagi yang puasa:

Laki-laki mengecup istrinya, menyentuh dan bermesraan dengannya dari balik pakaian, sedangkan dia puasa, semua itu hukumnya boleh, sekalipun syahwatnya bergerak, apabila dia percaya terhadap dirinya. Jika ia khawatir terjerumus pada sesuatu yang diharamkan Allah subhanahu wa ta ala berupa keluarnya mani, maka hal itu diharamkan atasnya.

Dari ‘Aisyah r.a, ia berkata, ‘Nabi shalallahu alaihi wassalam mengecup dan bermesraan, sedangkan beliau SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM puasa, dan beliau adalah yang paling bisa menahan kebutuhannya.’ Muttafaqun ‘alaih.[7]

. Bagi yang berpuasa dibolehkan memakai pasta gigi serta menjaga dari menelan sesuatu darinya, dan boleh pula mandi agar dingin dari kepanasan dan haus serta seumpama yang demikian itu.

. Wishal, yang boleh dan yang haram darinya:

Wishal adalah puasa dua hari atau lebih tanpa makan dan minum di antara keduanya. Nabi shalallahu alaihi wassalam telah melarang dari hal itu dengan sabdanya, ‘Janganlah menyambung puasa (wishal), maka siapa yang ingin menyambung puasa hendaklah ia menyambungnya hingga waktu sahur.’ Mereka bertanya, ‘Sesungguhnya engkau menyambung puasa, wahai Nabi shalallahu alaihi wassalam. Beliau bersabda, ‘Aku bukan seperti kamu, sesungguhnya aku selalu ada pemberi makan yang memberi makan kepadaku dan pemberi minuman yang memberi minum kepadaku.’ HR. al-Bukhari.[8]

. Orang yang puasa boleh menelan air ludahnya, dan dimakruhkan menelan dahak bagi yang berpuasa dan yang lain, karena ia kotor, akan tetapi hal itu tidak membatalkan puasa. Apabila nampak darah dari lisan atau giginya, maka janganlah ia menelannya. Dan apabila orang yang berpuasa menelannya, maka puasanya batal.

. Puasa Nabi shalallahu alaihi wassalam dan berbukanya:

  1. Dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, ‘Nabi shalallahu alaihi wassalam tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain Bulan Ramadhan, dan beliau berpuasa sehingga ada yang berkata, ‘Demi Allah, beliau SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM tidak pernah berbuka.’ Dan beliau berbuka sehingga ada yang berkata, ‘Demi Allah subhanahu wa ta ala, beliau SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM tidak pernah puasa.’ Muttafaqun ‘alaih.[9]
  2. Dari Humaid, sesungguhnya ia mendengar Anas r.a berkata, ‘Nabi shalallahu alaihi wassalam tidak puasa dalam satu bulan sehingga kami menduga bagi beliau tidak berpuasa darinya, dan beliau puasa sehingga kami menduga bahwa beliau tidak berbuka sedikitpun darinya. Dan tidaklah engkau hendak melihat beliau sedang shalat di malam hari kecuali engkau melihatnya, dan tidaklah (engkau hendak melihat beliau) sedang tidur kecuali engkau bisa mendapatkannya.’ HR. al-Bukhari.[10]

[1]  HR. Muslim no. 1150

[2]  Shahih/ HR. Abu Daud no. 3854, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan Abu Daud no. 3263, dan Ibnu Majah no. 1747, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 1418.

[3]  HR. al-Bukhari no. 1863 dan Muslim no. 1256, ini adalah lafazhnya.

[4]  HR. al-Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760

[5]  Shahih/ HR. at-Tirmidzi no 3513, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan at-Tirmidzi no 2789, dan Ibnu Majah no. 3850, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3105.

[6]  HR. al-Bukhari no. 6057

[7]  HR. al-Bukhari no. 1927, ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 1106

[8]  HR. al-Bukhari no. 1967

[9]  HR. al-Bukhari no. 1971, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1157

[10]  HR. al-Bukhari no. 1972

 

(والله أعلمُ بالـصـواب)

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *