Fiqih 05 – Ibadah 03

Adzan dan Iqamah

  • Adzan: yaitu beribadah kepada Allah dengan memberitahu tentang masuknya waktu shalat dengan bacaan tertentu.
  • Adzan disyari’atkan pada tahun pertama hijrah.
  • Hikmah disyari’atkannya adzan:
  • Adzan merupakan pemberitahuan tentang masuknya waktu shalat, tempatnya, dan mengajak kepada shalat berjamaah yang mengandung banyak kebaikan.
  • Adzan merupakan peringatan bagi orang yang lalai, mengingatkan orang-orang yang lupa menunaikan shalat yang merupakan nikmat yang paling besar, dan mendekatkan seorang hamba kepada tuhannya dan inilah keuntungan yang sebenarnya, adzan adalah panggilan bagi seorang muslim agar tidak terlewtakan baginya nikmat ini.
  • Iqamah: yaitu beribadah kepada Allah dengan memberi tahu akan didirikannya shalat dengan bacaan tertentu.
  • Hukum adzan dan iqamah: Fardhu kifayah bagi laki-laki bukan bagi wanita baik dalam perjalanan maupun di kampong halaman, adzan dan iqamah hanya di lakukan pada shalat lima waktu dan shalat jum’at.
  • Mu’adzzin nabi r ada empat:

Bilal bin Rabah dan Amr bin Ummi Maktum di masjid nabawi di madinah, Saad al Qardh di masjid Quba’, dan Abu Mahdzurah di masjidil haram di Mekah.

  • Kutamaan adzan:

Muadzzin disunnahkan mengeraskan suaranya dalam mengumandangkan adzan, karena tidak seorangpun yang mendengar suara muadzzin baik jin, manusia, maupun apa saja kecuali dia akan menajdi saksi baginya pada hari kiamat kelak, dan mu’adzzin diampuni baginya sepanjang suaranya, dibenarkan oleh semua yang mendengar baik yang basah maupun yang kering, dan dia mendapat pahala orang yang shalat bersamanya.

  • Dari Abu Hurairah t bahwasanya Rasulullah r bersabda: ((Kalau seandainya manusia mengetahui pahala adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan melakukan undian, niscaya mereka pasti melakukannya)) (Muttafaq alaih)([1]).
  • Dari Mu’awiyah bin Abi sufyan t berkata: aku mendengar Rasulullah r bersabda: ((Para mu’adzzin adalah orang yang paling panjang lehernya di hari kiamat)). (HR. Muslim)([2]).
  • Lafadz adzan yang diriwayatkan dalam hadits:
  • Lafadz pertama: adzannya Bilal t yang dikumandangkannya pada masa nabi r, yaitu lima belas kalimat:

1- اللهُ أَكْبَرُ                                                9- حَيَّ عَلىَ الصَّلاَةِ

2- اللهُ أَكْبَرُ                                                10- حَيَّ عَلىَ الصَّلاَةِ

3- للهُ أَكْبَرُ                                                11- حَيَّ عَلىَ الْفَلاَحِ

4- اللهُ أَكْبَرُ                                                12- حَيَّ عَلىَ الْفَلاَحِ

5- أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ                                 13- اللهُ أَكْبَرُ

6- أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ                                14 -اللهُ أَكْبَرُ

7- أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ                          15- لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ (1)

8- أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.

2- Lafadz kedua adalah lafaz adzan Abu Mahdzurah t yaitu sembilan belas kalimat, empat takbir di awalnya disertai bacaan pelan sebelumnya.

  • Dari Abu Mahdzurah t berkata: Rasulullah mengajarkan adzan kepadaku, beliau bersabda: “Ucapkanlah:

اللهُ أَكْبَرُ، َاللهُ أَكْبَرُ، َاللهُ أَكْبَرُ ، َاللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ،  أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ،  أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.

(dua kali, dua kali) ia berkata: kemudian ulangi dan panjangkan suaramu:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ،  أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ،  أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ،  أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ,  حَيَّ عَلىَ الصَّلاَةِ ، حَيَّ عَلىَ الصَّلاَةِ ، حَيَّ عَلىَ الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلىَ الْفَلاَحِ ، ، َاللهُ أَكْبَرُ ، ، َاللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ.

(HR. Abu Daud dan Tirmidzi)([3]).

  • Lafadz ketiga: seperti lafadz azan Abu Mahdzurah t yang sebelumnya akan tetapi takbir di awalnya hanya dua kali, sehingga menjadi tujuh belas kalimat. (HR. Muslim)([4]).
  • Lafadz keempat: semua kalimat adzan dua kali-dua kali, dan kalimat laa ilaaha illallah di akhirnya hanya satu kali, sehingga menjadi tiga belas kalimat. Berdasarkan hadits Ibnu Umar t berkata: “Adzan di masa rasulullah r dua kali-dua kali, dan iqamah satu kali-satu kali hanya sanya engkau mengucapkan pada saat iqomah anda mengucapkan:

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ

(HR. Abu Daud dan Nasa’i)([5]).

  • Disunnahkan mengumandangkan adzan dengan semua lafadz ini, mnggunakan yang satu suatu kali, dan yang lain pada waktu yang lain, lafaz yang satu di satu tempat, dan lafaz yang lain di lain tempat; dalam rangka menjaga sunnah, dan menghidupkan disyari’atkannya dengan berbagai lafadz selama tidak mengundang fitnah.
  • Pada adzan Fajar mu’adzzin menambahkan setelah hayya alal falah

اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ ِمنَ النَّوْمِ، اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ ِمنَ النَّوْمِ

Lafaz ini dibaca pada semua lafadz adzan di atas.

 

  • Syarat sahnya adzan:

Hendaknya adzan dibaca secara berurutan dan bersambung, dilakukan setelah masuknya waktu, mu’adzzin adalah seorang muslim, laki-laki, amanat, berakal, adil, baligh atau tamyiz, dan hendaknya adzan diucapkan dengan bahasa arab sebagaimana diajarkan dalam hadits di atas, demikian pula  dengan iqamah.

  • Disunnahkan agar adzan diucapkan dengan tartil, dengan suara keras, menoleh ke kanan ketika mengucapkan (hayya alas shalaat) dan menoleh ke kiri ketika mengucapkan (hayya alal falah), atau membagi setiap jumlah ke dua arah.
  • Mu’dzzin dianjurkan orang yang suaranya keras, mengetahui waktu, menghadap kiblat, bersuci, berdiri, meletakkan kedua jarinya di kedua telinganya ketika adzan, dan adzan di tempat yang tinggi.
  • Adzan tidak sah sebelum masuk waktu shalat untuk shalat lima waktu, dan disunnahkan adzan sebelum masuk waktu fajar seukuran cukup bagi seseorang menyelesikan makan sahur; agar orang yang qiyamul lail kembali, orang yang tidur terbangun, dan orang shalat tahjjud mengakhiri shalatnya dengan shalat witir, apabila telah terbit fajar, maka barulah adzan untuk shalat subuh dikumandangkan.
  • Bacaan yang diucapkan oleh orang yang mendengar adzan:

Disunnahkan bagi orang yang mendengarkan adzan baik laki-laki maupun wanita untuk:

  • Mengucapkan seperti yang diucapkan mu’adzzin agar mendapat pahala seperti dia kecuali dalam bacaan (hayya alas shalat, dan hayya alal falah) orang yang mendengarkannya mengucapkan (laa hawl walaa quwwata illa billah)
  • Setelah adzan selesai disunnahkan untuk bershalawat kepada nabi dengan pelan bagi yang adzan maupun yang mendengar.
  • Disunnahkan membaca apa yang diriwayatkan oleh Jabir dari Rasulullah r bahwasanya Rasulullah r bersabda: “Barangsiapa yang membaca ini ketika selesai mendengar adzan:

اَللّهُمَّ رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدٍِا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

(Ya Allah Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna ini, dan shalat wajib yang didirikan, berikanlah kepada Muhammad al-wasilah (derajat di surga) dan fadhilah, serta bangkitkanlah dia dalam maqam yang terpuji yang telah Engkau janjikan). Maka dia berhak mendapat syafaatku di hari kiamat. (HR. Bukhari)([6]).

  • Dari Sa’d bin Abi waqqash t dari Rasulullah r bahwasanya beliau bersabda: barangsiapa yang membaca do’a ini ketika mendengar mu’adzzin:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا

(Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah yang tiada sekutu bagiNya, dan seseungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusaNya, aku rela Allah sebagai Tuhan, dan Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agamaku). Maka diampuni dosanya. (HR. Muslim)([7]).

  • Barangsiapa yang menjamak dua shalat, atau mengkadha’ shalat yang tertinggal, maka cukup baginya adzan untuk shalat yang pertama kemudian iqamah untuk setiap shalat.
  • Apabila seseorang mengakhirkan shalat dhuhur karena terik matahari yang sangat panas, atau mengakhirkan shalat isya sampai waktu yang lebih afdhal, maka sunnahnya untuk mengumandangkan adzan ketika akan mendirikan shalat.
  • Apabila terdapat dua orang atau lebih yang mengumandangkan adzan, maka diutamakan orang yang lebih bagus suaranya, kemudian yang lebih baik agama dan akalnya, kemudian yang dipilih oleh para tetangga, kemudian diundi, dan boleh mengangkat dua mu’adzzin untuk satu masjid.
  • Keutamaan mengumandangkan adzan:

Dari Abu Hurairah t bahwasanya Rasulullah r bersabda: ((Apabila dikumandangkan adzan maka setan berlarian sehingga mengeluarkan suara kentutnya sampai dia tidak mendengar suara adzan, dan apabila adzan telah selesai maka dia datang kembali sehingga saat dilaksanakan iqamah dia kembali pergi, dan apabila selesai dia datang kembali (untuk menggoda) sehingga terlintas dalam diri seseorang bahwa dia berkata: “Ingatlah ini dan itu, ingatlah ini dan itu, bagi apa yang tidak ia ingat sebelumnya, sehingga seseorang terlupa sudah berapa rakaatkah dia shalat)). (Muttafaq alaih)([8]).

  • Adzan pada hari jum’at dilakukan ketika imam telah duduk di atas mimbar untuk berkhutbah, kemudian tatkala masyarakat sudah bertambah banyak pada masa utsman t, maka beliau menambah sebelumnya adzan ketiga, dan para sahabat menyetujui beliau.
  • Imam tidak boleh mengambil gaji karena tugas menjadi imam yang diembannya, demikian juga dengan mu’adzzin (sebagai upah) atas shalat dan adzannya, namun boleh baginya menerima pemberian dari baitul mal untuk para imam dan mu’adzzin apabil pelaksanaaan tugasnya dilakukan karena Allah.
  • Barangsiapa yang memasuki sebuah masjid ketika mu’adzzin sedang adzan, disunnahkan baginya mengikuti mu’adzzin, kamudian berdo’a setelah adzan selesai, dan tidak duduk sebelum mendirikan shalat dua rakaat tahiyyatul masjid.
  • Apabila seorang mu’adzzin telah melantunkan adzan maka tidak boleh ada orang yang keluar dari masjid kecuali ada karena udzur seperti sakit, atau untuk memperbarui wudhu’ dan lain sebagainya.

 

  • Lafadz Iqamah yang disebutkan dalam hadits:

Iqamah disunnahkan berurutan dan bersambung seperti yang terdapat pda salah satu lafadz berikut ini:

  • Lafadz pertama: Sebelas kalimat, itulah iqamah yang dibaca oleh Bilal t di hadapan Nabi r, yaitu:

اللهُ أَكْبَرُ  ، 2- اللهُ أَكْبَرُ   ، 3- أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ، 4- أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، 5- حَيَّ عَلىَ الصَّلاَةِ ، 6- حَيَّ عَلىَ الْفَلاَحِ ، 7- قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، 8- قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ ، 9- َاللهُ أَكْبَرُ ،  10- َاللهُ أَكْبَرُ،   11-لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ )

(HR. Abu Daud)([9]) .

  • Lafadz kedua: Tujubelas kalimat, yaitu iqamah Abu Mahdzurah t, yaitu: empat kali takbir, tasyahud empat kali, hayya alas shalat dan hayya alal falah empat kali, qad qaamatisshalat dua kali, takbir dua kali, dan laa ilaaha illallah satu kali. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)([10]).
  • Lafadz ketiga: Sepuluh kalimat:

1- اللهُ أَكْبَرُ   2- اللهُ أَكْبَرُ    3- أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ، 4- أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ  5- حَيَّ عَلىَ الصَّلاَةِ  6- حَيَّ عَلىَ الْفَلاَحِ  7- قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ  8- قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ  9- َاللهُ أَكْبَرُ  10- َاللهُ أَكْبَرُ   11-لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ. )

(HR. Abu Daud dan Nasa’i)([11]).

  • Disunnahkan melaksanakan iqamah dengan menggunakan lafadz ini pada suatu kali, dan dengan lafaz yang lain di lain kali, untuk menjaga sunnah dengan berbagai lafadznya dan menghidupkannya, apabila tidak khawatir menimbulkan fitnah.
  • Disunnahkan berdo’a dan mendirikan shalat di waktu antara adzan dan iqamah.
  • Boleh menggunakan pengeras suara untuk mengumandangkan adzan, iqamah, shalat, dan khutbah saat diperlukan, namun jika menimbulkan hal negatif atau mengganggu maka harus dihilangkan.
  • Disunnahkan adzan dan iqamah dilakukan oleh satu orang, seorang mu’adzzin lebih berhak dengan adzan, sedangkan imam lebih berhak terhadap iqamah, maka mu’adzzin tidak boleh iqamah kecuali setelah mendapat isyarat izin dari imam, baik dengan melihatnya, atau berdiri imam dan lain sebagainya.
  • Disunnahkan untuk setiap kalimat pada adzan dikumandangkan dengan satu nafas, demikian juga pendengar menjawabnya seperti itu. Adapun iqamah, tidak ada hadits shahih dari nabi r yang menunjukkan adanya dzikir tertertu yang diucapkan oleh orang yang mendengarkannya.
  • Disunnnahkan bagi mu’adzzin dalam kondisi yang sangat dingin, atau pada malam yang hujan dan lain sebgainya. Mengucapkan setelah hayya alal falah, atau setelah adzan, apa yang disebutkan dalam hadits shahih:

(shalatlah di kendaraan) أَلاَ صَلُّوْا فِي الرِّحَالِ

Atau mengucapkan صَلُّوْا فِي بُيُوْتِكُمْ   (shalatlah di rumah kalian)

Atau mengucapkan: وَمَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ (barangsiapa yang duduk di rumahnya maka tidak mengapa).

 

  • Adzan dan iqamah dalam perjalanan:

Dari Malik bin al Huwairits t berkata: Ada dua orang datang kepada nabi r, keduanya ingin melakukan perjalanan, maka nabi r bersabda: “Apabila kalian berdua pergi, maka kumandangkanlah adzan, kemudian iqamahlah, kemudian hendaklah orang yang lebih tua di antara kalian menjadi imam. (Muttafaq alaih)([12]).

  • Empat hal bagi shalat sehubungan dengan disyari’atkannya adzan dan iqamah:
  • Shalat yang disyari’atkan karenanya adzan dan iqamah: yaitu shalat lima waktu dan shalat jum’at.
  • Shalat yang disyari’atkan baginya iqamah saja dan tidak disyari’atkan adzan, yaitu: shalat yang dijamak dengan shalat sebelumnya, dan shalat yang diqadha.
  • Shalat yang mempunyai seruan dengan lafadz tertentu, yaitu: shalat gerhana matahari dan gerhana bulan.
  • Shalat yang tidak ada adzan dan iqamahnya, yaitu: shalat sunnah, shalat janazah, shalat dua hari raya, shalat istisqa’ dan sebagainya.

([1])  Shahih Bukhari no (615), Muslim no (469)

([2])  Shahih Muslim no (387).

([3])  Hadits shahih riwayat Abu Daud no (503), ini lafadz beliau, shahih sunan Abu Daud no (475). Dan diriwayatkan oleh Tirmidzi no (192), shahih sunan Tirmidzi no (162).

([4])  HR. Muslim no (379)

([5])  Hadits hasan riwayat Abu Daud no (510), shaih sunan Abu Daud no (482), Sunan Nasa’I no (628), ini lafadz beliau, shahih sunan Nasa’I no (610).

([6])  Shahih Bukhari no (614).

([7])  Shahih Muslim no (386)

([8])  Shahih Bukhari no (608), shahih Muslim no (389).

([9])  hadits hasan shahih riwayat Abu Daud no (499), shahih sunan abu Daud no (469).

([10])  Hadits hasan shahih riwayat Abu Daud ni (502), shahih sunan Abu Daud no (474), Tirmidzi no (192), beliau berkata: hadits hasan shahih, shaih sunan Tirmidzi no (162)

([11])  Hadits hasan riwayat Abu Daud no (510), Nasa’I no(628)

([12])  Shahih Bukhari no (630), Muslim no (674)

 

(والله أعلمُ بالـصـواب)

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *