Fiqih 09 – Hukuman Qishas dan Had 08

Had Qodzaf

Qodzaf: Adalah menuduh seseorang berbuat zina atau liwath (homoseksual), atau juga menuduh tentang tidak adanya nasab, yang mana ini mewajibkan had.

– Hikmah disyari’atkannya had qodzaf:

Islam merupakan agama yang mendukung terjaganya kehormatan dari apa-apa yang mengotori dan menghinakannya, sebagaimana memerintahkan untuk menjaga kehormatan orang-orang yang merdeka, mengharamkan ternodainya harga diri mereka dengan segala sesuatu yang tidak hak; demi terjaganya kehormatan dan terlindunginya dari kekotoran.

Sebagian manusia ada yang terdorong untuk melakukan apa yang telah Allah haramkan dari tuduhan, dan pengotoran kehormatan Muslimin dari berbagai sisi yang berbeda, oleh karena beberapa sisi ada yang tersembunyi, maka Islam membebani seorang penuduh untuk mendatangkan bukti berupa empat orang saksi, apabila dia tidak mampu menghadirkannya, maka dia akan terkena had qodzaf berupa cambukan sebanyak delapan puluh kali.

– Hukum qodzaf:

Qodzaf diharamkan, dia termasuk dari dosa-dosa besar, Allah telah menjatuhkan hukuman yang berat terhadap seorang penuduh, baik di dunia maupun di akhirat:

قال الله تعالى : ﴿ وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَأۡتُواْ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَ فَٱجۡلِدُوهُمۡ ثَمَٰنِينَ جَلۡدَةٗ وَلَا تَقۡبَلُواْ لَهُمۡ شَهَٰدَةً أَبَدٗاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٤ ﴾ [النور : ٤]

1- Allah berfirman: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik” )An Nuur: 4)

قال الله تعالى : ﴿ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٢٣ ﴾ [النور : ٢٣]

2- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka terkena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar” (An Nuur: 23)

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ” اجتنبوا السبع الموبقات ” قالوا: يا رسول الله, وما هن؟ قال: ” الشرك بالله, والسحر, وقتل النفس التي حرّم الله إلاّ بالحق, وأكل الربا, وأكل مال اليتيم, والتولّي يوم الزحف, وقذف المحصنات المؤمنات الغافلات ” متفق عليه

3- Dari Abu Hurairah r.a: bahwasanya Rasulullah SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM bersabda: “Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan” para sahabat bertanya: ya Rasulullah, apakah dia? Nabi SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM menjawab: “menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan kecuali dengan haknya, memakan riba, memakan harta anak yatim, kabur dari medan tempur dan menuduh wanita baik, mukminah yang sedang lengah” (Muttafaq Alaihi)[1].

– Had qodzaf: delapan puluh kali cambuk untuk dia yang merdeka dan empat puluh kali untuk hamba sahaya.

 

– Lafadz qodzaf:

Shorih: seperti berkata: wahai pezina, wahai homo, wahai pelacur dan lainnya.

Kinayah: seperti dengan melontarkan perkataan yang terkandung tuduhan padanya, seperti perkataan: wahai pelacur, wahai fajir dan lainnya, apabila dengannya dia bermaksud menuduhnya pezina, maka dia terkena had qodzaf, dan jika tidak bermaksud kesana, tidak di kenai hukum had akan tetapi di ta’zir.

– Syarat diwajibkannya had qodzaf adalah:

1- Seorang penuduh harus mukallaf, memiliki pilihan dan merupakan ayah bagi dia yang dituduhnya.

2- Orang yang dituduh adalah seorang Muslim mukallaf, merdeka dan afif, serta mampu berjima’.

3- Orang yang dituduh menuntut di tegakkannya hukum had.

4- Tuduhannya berupa perzinahan yang mengharuskan had dan tidak terbuktinya tuduhan tersebut.

– Had qodzaf akan ditetapkan jika si penuduh mengakuinya, atau bersaksinya dua orang adil tentang tuduhan tersebut.

– Had qodzaf akan terbebas dari penuduh jika pelaku mengakui bahwa dia telah berzina, atau adanya bukti kalau dia telah berzina, atau ketika seorang laki-laki menuduh isterinya dan melakukan pelaknatan terhadapnya.

– Apabila had qodzaf telah terbukti, maka akan terlaksana: cambuk, tidak diterimanya persaksian orang yang telah menuduh, kecuali apabila dia bertaubat, kemudian dihukuminya si penuduh sebagai orang fasik sampai dia bertaubat.

– Apabila seseorang menuduh orang lain dengan tuduhan selain zina dan homoseksual, maka dia telah berdusta dan melakukan sebuah keharaman, akan tetapi dia tidak dikenakan had qodzaf, namun di ta’zir sesuai dengan pendapat hakim yang sesuai dengan keadaannya.

– Contoh qodzaf yang bukan dengan zina: Menuduh sebagai orang kafir, munafik, pemabuk, pencuri, penghianat dan lainnya.

– Taubat seorang penuduh dengan cara beristighfar, menyesalinya, berniat untuk tidak mengulangi serta mengakui kedustaannya tentang tuduhan yang telah dia lontarkan terhadap orang lain.

Muttafaq Alaihi, riwayat Bukhori no (2766), lafadz ini darinya dan Muslim no (89). [1]

 

(والله أعلمُ بالـصـواب)

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *