Fiqih 12 – DAKWAH 06

Kewajiban berdakwah ilallah

Pentingnya berdakwah ilallah:

Allah subhanahu wa ta ala telah menjelaskan seluruh hukum-hukum syariat secara global di dalam Al-Quran lalu dijelaskan secara terperinci oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam di dalam sunah-sunah beliau r. Akan tetapi, khusus masalah dakwah dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta ala secara terperinci, lengkap dan menyeluruh di dalam Al-Quran. Allah subhanahu wa ta ala tidak menerangkan tentang tata cara beribadahnnya para nabi (secara rinci), tidak menerangkan bagaimana cara sholatnya Nabi Ibrahim, bagaimana tata cara hajinya Nabi Adam, bagaimana cara puasa yang dilakukan oleh Nabi Daud. Semuanya di terangkan oleh Allah di dalam Al-Quran secara umum. Dan Allah subhanahu wa ta ala tidak menjelaskan secara terperinci di dalam Al-Quran satupun kisah tentang hamba Nya yang suka beribadah. Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta ala menjelaskan di dalam Al-Quran tentang bagaimana dakwahnya para nabi, Allah menjelaskan dengan mendetail bagaimana kisah nabi Musa dalam duapuluh sembilan juz di Al-Qur’an, juga menjelaskan secara terperinci bagaimana para nabi yang lain berdakwah kepada kaum mereka, disebutkan kisah nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Hud, Shaleh, Syu’aib, Luth, Yusuf, dan yang lainnya; karena sesungguhnya umat ini d iutus untuk berdakwah ilallah, dengan melihat suri tauladan para nabi (semoga rahmat dan salam bagi mereka).

Terdapat jarak yang panjang antara keimanan dengan turunnya hukum-hukum syariat. Akan tetapi tidak terdapat jarak waktu antara keimanan dengan dakwah; karena umat ini telah di utus untuk berdakwah ilallah sebagaimana para nabi. Dahulu, setiap nabi mengajarkan hukum syari’at kepada umatnya setelah menanamkan keimanan, akan tetapi setelah Allah subhanahu wa ta ala mengutus nabi Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, Dia memerintahkan kepada umat ini untuk berdakwah kepada din Allah setelah mereka mengajarkan keimanan, barulah setelah itu beliau mengajarkan hukum-hukum syariat di Madinah, karena umat ini di utus sebagaimana diutusnya para nabi.

Allah telah memilih umat ini di antara umat-umat sebelumnya, dan memuliakan umat ini dengan agama Islam dan berdakwah kepadanya, berdakwah ilallah adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan sebatas kemampuan dan keilmuannya. Dakwah ilallah adalah tanggungjawab umat, dan kebutuhan umat.

  1. Allah subhanahu wa ta ala berfirman:

﴿ قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٠٨ ﴾ [يوسف: ١٠٧]

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-oarng yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (QS. Yusuf: 108).

Nash tersebut umum, tidak terikat waktu: malam dan siang, tidak terikat tempat: utara selatan, timur dan barat, tidak terikat kebangsaan: orang arab atau selain arab, tidak terikat jenis kelamin: laki-laki dan perempuan, tidak terikat umur: orang dewasa dan anak-anak, tidak terikat warna: putih hitam, tidak terikat tingkatan: penguasa, budak, kaya dan miskin.

Berdakwah kepada mereka adalah wajib, karena mereka merupakan bagian dari umat manusia, dan agama ini untuk seluruh manusia. Dan wajib bagi mereka berdakwah ketika mereka telah memeluk agama Islam, karena mereka juga adalah umat Muhammad dan pengikutnya.

  1. Allah subhanahu wa ta ala berfirman:

﴿ هَٰذَا بَلَٰغٞ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُواْ بِهِۦ وَلِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٥٢ ﴾ [ابراهيم: ٥٢]

“(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mngetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambail pelajaran.” (QS. Ibrahim: 52).

 

  1. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda dalam khutbahnya di hari nahr ketika haji wada’ kepada semua orang-orang yang beriman; baik para shahabat beliau yang dari arab maupun ‘ajam, laki-laki dan perempuan, yang berkulit putih dan hitam, yang kaya dan miskin, penguasa dan para budak:

(لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّغَ مَنْ هُوْ أَوْعَى لَهُ مِنْهُ)

“Yang mendengar supaya menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena bisa jadi yang menyampaikan itu lebih paham dari yang mendengar”. (Muttafaq alaihi).

  1. dari Abdullah bin Amru (semoga Allah meridha mereka berdua) bahwa Nabi r bersabda:

(بَلِّغُوْا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثوْا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ وَلاَ حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ)

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat, dan tidaklah mengapa untuk mengambil hadist dari bani israil, dan barangsiapa yang berbohong atas namaku, maka bersiap-siaplah menempati api neraka”. (HR. Bukhori).

 

  1. Berkorban dan berusaha demi tegaknya kalimat Allah serta menyebarkannya dapat membuahkan hidayah, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta ala

﴿ وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٦٩ ﴾ [العنكبوت: ٦٩]

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69).

Hakekat perjuangan adalah: Berusaha untuk sempurna dalam beramal, berkorban dengan apa saja demi perjuangan, selalu istiqomah sampai meninggal dunia. Dan hal yang sangat berharga dalam perbendaharaan Allah adalah Hidayah. Karena Allah tidak memberikannya kecuali kepada hamba-hamba Nya yang terpilih, di antaranya ada yang meminta kepada Allah dan berusaha di jalanNya, sehingga berhasil mendapatkannya. Di antaranya ada yang telah Allah ketahui bahwa dirinya yang berhak, merekalah orang-orang yang beriman. Oleh karenanya Allah subhanahu wa ta ala memerintahkan kepada kita untuk berdo’a dan meminta hidayah kepada Allah subhanahu wa ta ala dalam sehari semalam sebanyak tujubelas kali dalam sholat yang wajib. Sebagaimana firman Allah:

﴿ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧ ﴾ [الفاتحة: ٦،  ٧]

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.(6) (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; Bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani)”. (QS. Al-Fatihah).

Berusaha dengan sungguh-sungguh demi tegaknya kalimat Allah

Ada tiga tahapan dalam berjuang demi tegaknya kalimat Allah:

  1. Berjuang atas orang kafir dengan harapan supaya mereka mendapatkan hidayah, sebagaimana firman Allah:

﴿ أَمۡ يَقُولُونَ ٱفۡتَرَىٰهُۚ بَلۡ هُوَ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أَتَىٰهُم مِّن نَّذِيرٖ مِّن قَبۡلِكَ لَعَلَّهُمۡ يَهۡتَدُونَ ٣ ﴾ [السجدة : ٣]

“Tetapi mengapa mereka (orang-orang kafir) mengakatan: “Dia Muhammad mengada-adakannya. Sebenarnya al quran itu adalah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk” (QS. Al-Sajdah: 3).

  1. Berjuang kepada orang-orang muslim yang bermaksiat agar mereka berubah menjadi taat, berubah dari lalai menjadi ahli dzikir. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta ala

﴿ وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٠٤ ﴾ [ال عمران: ١٠٤]

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

  1. Berjuang atas orang-orang sholeh agar menjadi pembaharu dalam agama dan berjuang terhadap yang suka berdzikir agar bisa menasehati orang lain.
  2. Allah subhanahu wa ta ala berfirman:

﴿ وَٱلۡعَصۡرِ ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣ ﴾ [العصر: ١،  ٣]

“Demi masa.(1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. (2) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati, supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3).

  1. Allah subhanahu wa ta ala berfirman:

﴿ فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٞ ٢١ ﴾ [الغاشية: ٢١]

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan”. (QS. Al-Ghasyiah: 21).

Ketika para shahabat (semoga Allah meridhai mereka) mengetahui akan wajibnya berdakwah ilallah dan keutamaan berdakwah, maka mereka bergegas berlomba dalam berdakwah serta mengadakan ta’lim dan berjihad demi tegaknya kalimat Allah, menyebarkannya di muka bumi ini. Mereka berdakwah ilallah dengan penuh hikmah dan menasehati dengan cara yang baik. Tertanam dalam hati mereka kasih sayang dan lemah lembut terhadap manusia. Saksi-saksi dan bukti dalam kitab-kitab, hadist dan sejarah memberikan kesaksian (tentang perjuangan) mereka.

Allah subhanahu wa ta ala berfirman:

﴿ ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ١٢٥ ﴾ [النحل: ١٢٥]

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”. (QS. Al-Nahl: 125).

Tugas umat

Berdakwah ilallah adalah merupakan tugas bagi setiap umat, adapun berfatwa dalam permasalahan hukum, bagi yang mengetahui hukum secara pasti berfatwalah dengannya, dan bagi yang tidak mengtahui akan hukum tertentu, maka tunjukilah orang yang meminta fatwa tersebut ulama yang lebih mengetahui dari segi keilmuan, kefiqihan, hafalan serta kepahaman. Orang yang menunjukkan kepada kebaikan seperti orang yang mengerjakan kebaikan tsb. Dahulu  di antara para sahabat pada enggan untuk berfatwa. Mufti dari kalangan sahabat bisa dihitung dengan jari, seperti: Muadz, Ali, Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas dan yang lainnya (semoga Allah meridhai mereka).

Berfatwa bukan suatu hal yang diperbolehkan bagi siapa saja, adapun dakwah ilallah wajib bagi setiap insan sesuai dengan kemampuan dan keilmuannya, paling tidak satu ayat.

Para ulama dan ahli fiqih, merekalah yang berfatwa, sebagaimana firman Nya:

﴿ ………. فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٤٣ ﴾ [النحل: ٤٣]

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Nahl: 43).

 

Berdakwah dengan menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar bagi umat ini sesuai dengan tingkat kemampuan dan keilmuan mereka. Para shahabat telah menjalankan misi da’wah ini dari mulai sejak sebelum turunnya hukum-hukum tentang sholat, zakat, shaum dan yang lainnya. Inilah umat yang menyatukan antara pengorbanan serta jihad demi tegaknya kalimat Allah, dan baik dalam beramal bukan banyak beramal.

  1. Allah subhanahu wa ta ala berfirman:

﴿ قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٠٨ ﴾ [يوسف: ١٠8]

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-oarng yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108).

  1. Allah subhanahu wa ta ala berfirman:

﴿ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ٧١﴾ [التوبة: 71]

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”  (QS. Al-Taubah: 71).

Hal yang pertama kali akan tercabut dari kehidupan umat ini adalah: kesungguhan dalam berdakwah, kemudian jiwa berkorban, lalu hidup yang sederhana. Musuh-musuh Islam telah menyadari hal ini dan berusaha untuk mencabutnya dari umat Islam. Akhirnya, keadaan menjadi terbalik di mana pengorbanan dan kerja keras hanya untuk dunia, seseorang berubah menjadi insan yang bekerja keras untuk kehidupan dan kesenangannya. Sehingga masyarakat mengingkari perzinahan, riba, minum arak, tapi tidak mengingkari ditinggalkannya dakwah ilallah yang telah terlepas dari kehidupan umat.

Pada zaman Rasulullah dan para shahabat, setiap pribadi umat ini konsisten dengan ibadah dan dakwah, dan pada generasi berikutnya hanya ibadah yang tersisa di dalam umat ini, sementara berdakwah hanya dilakukan oleh sebagian atau orang tertentu dari umat ini. Dan tidak akan menjadi baik umat yang terakhir ini kecuali dengan mengikuti apa yang telah dilakukan oleh umat yang terdahulu.

Ada dua kewajiban bagi setiap muslim baik laki-laki dan perempuan:

  1. Kewajiban pertama: mengamalkan agama, beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukannya, mentaati Allah dan rasul Nya, serta mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah, dan menjauhi apa yang dilarangNya
  2. Allah subhanahu wa ta ala berfirman:

﴿ ۞وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ ……. ﴾ [النساء : ٣٦]

“Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan Nya dengan apa pun.” (QS. Al-Nisa’: 36).

  1. Allah subhanahu wa ta ala berfirman:

﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ وَأَنتُمۡ تَسۡمَعُونَ ٢٠ ﴾ [الانفال: ٢٠]

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Allah dan Rasul Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah Nya)”. (QS. Al-Anfal: 20).

  1. Kewajiban kedua: berdakwah ilallah, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran
  2. Allah subhanahu wa ta ala berfirman:

﴿ وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٠٤ ﴾ [ال عمران: ١٠٤]

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

  1. Dari Abdullah bin Amru (semoga Allah meridhai mereka berdua) bahwa rasul r bersabda: ((بَلِّغوْا عَنِّي وَلَوْ آيَةً))

“Sampaikan dariku walau hanya satu ayat”. (HR. Bukhari).

 

  1. Dari Abu Sa’id al Khudriy t ia berkata: bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

(مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإْنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإْنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ)

“Barangsiapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, apabila ia tidak sanggup maka rubahlah dengan lisannya, dan apabila masih tidak sanggup maka ingkarilah dalam hati, dan itu adalah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim).

Waktu seorang muslim

Allah subhanahu wa ta ala telah membeli dari orang-orang yang beiman; diri mereka, harta-harta mereka, dan Allah menjanjikan bagi mereka syurga.

Dan seyogyanya bagi setiap muslim menggunakan waktunya sebagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menghabiskan waktu beliau. Beliau shalallahu alaihi wassalam mengerjakan amalan-amalan yang diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta ala, melaksanakan perintah Rabbnya dalam setiap keadaan dalam kesehariannya: ketika berwudhu, makan, tidur dan dalam segala situasi dan keadaannya. Dan meluangkan sedikit waktu untuk bekerja demi mencari nafkah, maka sebagian besar dari waktu beliau dipergunakan untuk berdakwah kepada manusia; supaya mereka menyembah dan mengesakan Allah. Ketika terdapat waktu yang luang dan ada halangan baginya untuk berdakwah, maka (dipergunakannya waktu tersebut untuk) menimba ilmu atau mengajarkan ilmunya kepada orang-orang muslim yang lain tentang hukum-hukum agama. Dan ketika terdapat waktu yang luang dan dirinya terhalang melakukannya (belajar dan mengajar), maka dia mengabdikan dirinya bagi kepentingan saudara-saudaranya sesama muslim, membantu menyelesaikan semua kebutuhan mereka, tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. Dan apabila terdapat waktu yang kosong sementara dirinya berhalangan mengerjakan hal tersebut, maka dia bersegera melaksanakan amalan-amalan yang sunnah, seperti sholat sunah mutlak, membaca al quran, berdzikir, dan amal-amal sholeh yang lain.

Begitulah semestinya, diutamakan suatu amalan yang manfaatnya lebih besar bagi manusia dalam setiap keadaan.

 

Kategori obyek da’wah dan cara berdakwah kepada mereka:

Manusia itu berbeda-beda, karena keanekaragaman dan perbedaan pengetahuan serta amalan mereka itulah maka hukum berdakwah kepada merekapun berbeda:

  1. Orang yang kurang dalam keimanannya serta bodoh dalam masalah hukum: maka kita harus bersabar atas celaannya, dan kita terus menyeru serta mengajarkan kepadanya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, membimbing dengan penuh perhatian, sebagaimana perilaku Rasululllah shalallahu alaihi wassalam kepada orang arab badwi.

Dari Anas t bahwasanya ia berkata:

(بَيْنَمَا نَحْنُ فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ r إِذْ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقَامَ يَبُوْلُ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَصْحَابُ رَسُوْلُ اللهِ r: مَهْ مَهْ. قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ r لاَ تَزْرِمُوْهُ دَعُوْهُ فَتَرَكُوْهُ حَتَّى بَالَ ثُمَّ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ r دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ إِنَّ هذَهِ الْمَسَاجِدَ لاَ تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هذَا الْبَوْلِ وَلا َالْقَذَرِ إِنَّمَا ِهيَ ِلذِكِْرِ اللهِ U وَالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ أَوِْ كَمَا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ r قَالَ فَأَمَرَ رَجُلاً مِنَ الْقَوْمِ فَجَاءَ بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَشَنَّهُ عَلَيْهِ)

“Ketika kami berada di mesjid bersama Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, datanglah seorang badui kemudian kencing di dalam masjid. Maka para shahabatpun membentak: “mah mah” (Sebuah ungkapan bermakna membentak) Anas bercerita: Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  bersabda: “Janganlah marah kepadanya, biarakanlah dia”. Maka para shahabatpun meninggalknnya, sehingga ia meneruskan kencingnya sampai tuntas. Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wassalam memanggil dan menasehatinya: “Sesungguhnya mesjid ini tak pantas untuk kencing di dalamnya, atau buang kotoran, sesungguhnya mesjid ini adalah tempat untuk mengingat Allah, sholat dan memabca Al-Qur’an”. Atau sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Lalu beliau memerintahkan seorang lelaki untuk mengambil seember air lalu dituangkan pada tempat kencingnya”. (HR. Muslim).

  1. Orang yang kurang dalam sisi keimanannya dan kurang dari segi keilmuan serta hukum syar’I, menyeru orang yang seperti ini harus dengan hikmah, memberikan nasehat dengan cara yang baik, supaya keimanannya bertambah, taat kepada Rabbnya, dan bertaubat atas dosa-dosanya.

(يَا رَسوْلَ اللهِ اِئْذَنْ ِلي بِالزَّنَا فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوْهُ وَقَالُوْا مَهْ مَهْ فَقَالَ: أَدْنِهِ فَدَنَا مِنْهُ قَرِيْبًا قَالَ: فَجَلَسَ. قَالَ أَتُحِبُّهُ ِلأُمِّكَ؟, قَالَ: لاَ وَاللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ.  قَالَ وَلاَ النَّاسُ يُحِبُّوْنَهُ ِلأُمَّهَاتِهِمْ.  قَالَ أَفَتُحِبُّهُ ِلاِبْنَتِكَ؟  قَالَ لاَ وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ وَلاَ النَّاسُ يُحِبُّوْنَهُ لِبَنَاتِهِمْ.  قَاَلَ أَفَتُحِبُّهُ ِلأَُخْتِكَ؟  قَالَ لاَ وَاللهُ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ.  قَالَ وَلاَ النَّاسُ يُحِبُّوْنَهُ ِلأََخَوَاتِهِمْ.  قَالَ أَفَتُحِبًّهُ ِلعَمَّتِكَ؟  قَالَ لاَ وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ, قَالَ وَلاَ النَّاسُ يُِحِبُّوْنَهُ ِلعَمَّاتِهِمْ, قَالَ أَفَتُِحِبَّهُ لَخَالَتِكَ؟ قَالَ لاَ وَاللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلاَ النَّاسُ يُحِبُّوْنَهُ لِخَالاَتِهِمْ قَالَ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيِهِ وَقَالَ اَللّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَِهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ فَلَمْ يَكُنْ بَعْدَ ذِلكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ)

“Dari Abu Umamah t ia berkata: Seorang pemuda belia datang kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, kemudian berkata: “Wahai rasulullah, berilah izin kepada saya untuk berzina!, maka para shahabatpun berdiri menghamprinya dan memarahi pemuda tersebut: “Mah… mah..”. Sebuah ungkapan bermakna memarahi dan membentak. Lalu Rasulullah memerintahkan: “Suruhlah kemari”, lalu lelaki tersebut mendekat. Dan diapun duduk. Lalu Rasulullahpun bertanya keapdanya: “Apakah engkau senang jika hal itu (zina) terjadi pada ibumu?. Tegas Rasulullah. “Tentu tidak, Demi Allah saya menjadi tebusan bagimu”. Jawabnya. “Orang lainpun tidak senang jika hal itu terjadi pada ibu mereka”. Tegas Rasulullah. “Apakah engkau senang jika zina itu terjadi pada anak perempuanmu?. Tegas Rasulullah. “Tentu tidak, Demi Allah saya menjadi tebusan bagimu”. Jawabnya. “Orang lainpun tidak senang jika hal itu terjadi pada anak perempuan mereka”. “Apakah engkau senang jika zina itu terjadi pada saudarimu?. Tegas Rasulullah. “Tentu tidak, Demi Allah saya menjadi tebusan bagimu”. Jawabnya. “Orang lainpun tidak senang jika hal itu terjadi pada saudari mereka”. “Apakah engkau senang jika zina itu terjadi pada bibimu (dari pihak bapak)?. Tegas Rasulullah. “Tentu tidak, Demi Allah saya menjadi tebusan bagimu”. Jawabnya. “Orang lainpun tidak senang jika hal itu terjadi pada bibi mereka”. Tegas Rasulullah. “Apakah engkau senang jika zina itu terjadi pada bibimu (dari pihak ibu)?. Tegas Rasulullah. “Tentu tidak, Demi Allah saya menjadi tebusan bagimu”. Jawabnya. “Orang lain pun tidak senang jika hal itu terjadi pada bibi mereka”. Tegas Rasulullah. Lalu Rasulullah meletakkan tangan Beliau pada dirinya lalu berdoa: “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya dan jagalah kemaluannya”. Akhirnya, pemuda tersebut tidak melirik sedikitpun kepada zina”. (HR. Ahmad bin Hambal).

 

  1. Orang yang kuat imannya dan bodoh dalam hukum syar’i. Orang seperti ini didakwahi secara langsung dengan menjelaskan hukum serta dalil syar’inya, dijelaskan tentang bahaya perbuatan maksiat, dihilangkan segala kemunkaran yang terjadi pada dirinya.

Dari ibnu Abbas t bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam melihat pada tangan seorang shahabatnya terdapat cincin dari emas, maka beliau segera melepaskan dan melemparkannya, kemudian bersabda:

(أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ r رَأَى خَاتِمًا مِنْ ذَهَبٍ فِي َيدِ رَجُلٍ فَنَزَعَهُ فَطَرَحَهُ وَقَالَ يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلىَ جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِي يَدِهِ, فَقِيْلَ لِلرَّجُلِ بَعْدَ مَا ذَهَبَ رَسُوْلُ اللهِ r: خُذْ خَاتِمَكَ انْتَفِعْ بِهِ. قَالَ: لاَ وَاللهِ لاَ آخُذُهُ أَبَدًا َوَقَدْ طَرَحَهُ رَسُوْلُ اللهِ r)

“Rasulullah shalallahu alaihi wassalam melihat sebuah cincin yang melilit pada tangan seorang lelaki, maka beliau serta merta mencabut lalu melemparnya, dan bersabda: “Salah seorang di anatara kalian secara sengaja mencari bara dari api neraka dan menjadikannya di tangannya”. Dikatakan kepada lelaki tersebut setelah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam meninggalknannya: “Ambillah cicinmu itu dan manfaatkanlah dia”. Lelaki itu menjawab: Aku tidak akan mengambil sesuatu yang telah dicampakkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam”. (HR. Muslim).

 

  1. Orang yang kuat keimanannya serta mengerti hukum-hukum syar’i. Maka tidak ada alasan baginya, pengingkaran (terhadap maksiat yang dilakukannya) lebih tegas dan menghadpainya dengan cara yang lebih keras dibanding dengan orang-orang yang sebelumnya, agar dirinya tidak menjadi contoh bagi yang lainnya dalam bermaksiat. Sebagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah mengasingkan tiga orang shahabat selama limapuluh hari karena telah menyelisihi perintah Rasul shalallahu alaihi, yaitu tidak ikut berperang dalam perang tabuk. Rasul memerintahkan orang-orang supaya menjauhi mereka (dengan tidak berbicara dengan mereka), peristiwa ini terjadi tatkala para shahabat pergi keluar dari kota Madinah untuk berjihad dalam perang tabuk, padahal ketiga orang shahabat tersebut tidak mempunyai halangan apapun dan mereka adalah orang yang sempurna dalam keimanan dan keilmuannya. Akhirnya, Allah menerima taubat mereka. Mereka adalah: Hilal bin Umayyah, Murarah bin Rabi’ dan Kaab bin Malik (semoga Allah meridhai mereka). Kisah tentang mereka ini lebih jelasnya lagi ada dalam shahih Bukhori dan Muslim.

﴿ وَعَلَى ٱلثَّلَٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُواْ حَتَّىٰٓ إِذَا ضَاقَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ وَضَاقَتۡ عَلَيۡهِمۡ أَنفُسُهُمۡ وَظَنُّوٓاْ أَن لَّا مَلۡجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيۡهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡ لِيَتُوبُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ ١١٨﴾ [التوبة: 118]

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Taubah: 118).

  1. Orang yang awam dalam keimanan serta awam dalam hukum syar’i. Dia diajak kepada tauhid dan laa ilaha ilallah, dikenalkan kepadanya nama Allah dan sifat-sifat Nya yang agung, diterangkan pula baginya janji-janji Allah dan ancaman-ancaman Nya, kenikmatan-kenikmatan yang diberikan serta karuniaNya Dijelaskan pula baginya keagungan dan kekuasaan Allah, hanya Dialah yang menguasai semua urusan dan perkara seluruh makhluk. Kemudian ketika keimanannya telah merasuk dan kokoh, maka diajarkan baginya secara bertahap tentang sholat, zakat, puasa dan seterusnya.

(أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ r لَمَا بَعَثَ مُعَاذًا t عَلىَ الْيَمَنِ قَالَ: إِنَّكَ تَقَدُمَ عَلىَ قَوْمٍ أَهْلَ ِكتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلُ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ عَبَادَةَ اللهِ فَإِذَا عَرَفُوْا اللهَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ فَإِذَا َفعَلُوْا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةَ مِنْ أَمْوَالِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِذَا أَطَاعُوِا بِهَا فَخُذِ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ)

“Bahwasanya Rasulullah ketika mengutus Mu’adz menuju Yaman, beliau berpesan: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum ahli kitab, maka hendaklah ajakan yang pertama bagi mereka adalah menyembah Allah, maka apabila mereka telah mengetahui Allah maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam, apabaila mereka mengerjakannya maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka zakat harta yang dibagikan kepada orang-orang fakir dari kalangan mereka, dan apabila mereka mentaati perintah tersebut, maka ambillah harta zakat tersebut dan jagalah bagian harta yang mahal milik mereka”. (HR. Bukhari).

 Keadaan dan kondisi juru dakwah

Barangsiapa yang menggeluti dakwah ilallah, maka Allah akan membimbing dan mengujinya dengan kesenangan dan kesulitan. Dan ia akan mengahadapi adanya sebagian orang yang mendukung dan menolongnya dan dia juga akan menemui orang-orang yang  mengejek dan mencelanya.

Dua situasi bagi juru dakwah:

  1. Adanya sambutan dari masyarakat terhadap dakwahnya, sebagaimana keadaan yang dialami oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam di madinah.
  2. Adanya penolakan dari masyarakat, sebagimana keadaan (yang dialami oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam) di Thoif, (di mana penenduduknya) menolak dakwah dan menyakiti beliau shalallahu alaihi wassalam.

Keadaan diterimanya dakwah lebih berbahaya karena bisa jadi dengannya seseorang da’i terjangkiti sifat ghurur (bangga karena tertipu), ditawarkan kepadanya jabatan, lalu tatkala dia menerima (tawaran tersebut) maka binasalah dirinya, itulah tipu daya syetan yang telah merampas juru dakwah dari agama ini, akhirnya ia disibukkan dengan perkara dunia dan hal-hal lain.

Adanya penolakan dan pengingkaran terhadap dakwah itu lebih baik bagi seorang da’I, sebab dalam kondisi itulah bertambahnya harapan, pasrah dan bergantungnya seorang da’i  kepada Allah subhanahu wa ta ala, dan itulah yang menjadi sebab datangnya pertolongann dari Allah subhanahu wa ta ala, sebagaimana Nabi shalallahu alaihi mendapat pertolongan dari Allah ketika penduduk Thoif menolak dan menyakiti beliau r yang datang mendakwahi. Ketika itu, beliau berdo’a kepada Allah dan akhirnya Allah pun memberikan pertolongan baginya dengan mengutus malaikat Jibril dan malaikat Gunung, dan Allah memudahkan kepada beliau untuk memasuki kota Mekkah, kemudian  menjalani peristiwa Isro Mi’raj lalu berhijrah ke Madinah, akhirnya, Islam menyebar.

Klasifikasi juru dakwah pada masa sekarang:

Di antara mereka ada yang terkesan dengan akhlak para juru dakwah, sehingga dirinyapun ikut bergabung dalam berdakwah bersama mereka, namun pada saat suatu permasalahan terjadi pada salah seorang da’i, dia meninggalkan dakwah bahkan memusuhi para da’i. Allah subhanahu wa ta ala memalingkannya karena tujuannya yang jelek.

Di antara mereka ada yang berdakwah karena dia merasa dan menemukan bahwa berdakwah bisa memecahkan probrlamatikanya, bisa mewujudkan apa yang diinginkan dan disenanginya, ketika kondisi (keduaniaannya) meningkat lebih baik, maka meningkat pula ambisi keduniaannya, akhirnya dia lebih sibuk mengurusi urusan duniawi daripada dakwah. Allah memalingkannya karena tujuannya yang kurang dan tidak sempurna.

Di antara mereka ada yang berdakwah karena didorong banyaknya pahala pada dakwah tersebut, dan dia hanya mengharap pahala, tidak peduli dengan orang lain, dan tujuannya hanya bagi dirinya. Orang seperti ini ketika mendapat atau mendengar suatu amalan yang leibh besar pahalanya dari dakwah, atau lebih banyak dan lebih mudah; maka dia akan meninggalkan berdakwah.

Di antara mereka ada yang berdakwah karena perintah dari Allah, ia beribadah dengannya karena dia perintah Allah, dan diia berdakwah juga karena Allah. Inilah tujuan yang sempurna. Dengan sebab inilah Allah meneguhkan dan menolongnya demi terlaksananya syariat Allah dan berdakwah kepada Allah. Inilah keududukan yang paling mulia

 

(والله أعلمُ بالـصـواب)

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *