Fiqih 04 – Al quran dan Sunnah 16

PEMBAHASAN TENTANG ADAB

Adab yaitu: berkata, berprilaku dan berbudi pekerti yang terpuji.

Islam adalah din yang sempurna, mengatur seluruh sisi kehidupan seseorang, ia menuntun manusia untuk melakukan hal-hal yang berguna, melarangnya dari hal-hal yang berbahaya, menetapkan etika terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain, baik pada saat makan dan minum, saat bangun dan tidur, saat bepergian atau menetap bahkan  dalam seluruh keadaan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

﴿ …… وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧ ﴾ [الحشر: ٧]

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (Q.S. Al Hasyr: 7)

Diantara adab-adab yang dijelaskan dalam Al quran dan Sunah adalah:

Adab Mengucapkan Salam

 Fadhilah salam:

عن عبد اللَّه بن عمرو بن العاص t أن رجلاً سأل رَسُول اللَّهِ r: أي الإسلام خير؟‍قال: ((تطعم الطعام، وتقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف)) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abdullah bin Amru t bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah r: “Perbuatan apakah di dalam Islam yang paling baik?”, beliau bersabda:  “Engkau memberikan makanan, mengucapkan salam kepada orang yang kau kenal atupun tidak kau kenal”. Muttafaq ’alaih. [1]

عن أبي هريرة t قال:قال رَسُول اللَّهِ r: ((لا تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا، ولا تؤمنوا حتى تحابوا، أولا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم ؟! أفشوا السلام بينكم)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abu Hurairah t berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman dan kalian tidak beriman hingga saling mencintai, maukah aku tunjukkan kepada suatu perbuatan yang apabila kalian lakukan niscaya kalian akan saling mencintai?! “Tebarkanlah salam di antara kalian”. HR. Muslim. [2]

عن عبد اللَّه بن سلام t أن النبي r قال: ((أيها الناس! أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصلوا الأرحام وصلوا بالليل والناس نيام، تدخلوا الجنة بسلام)) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ وابن ماجه.

Dari Abdullah bin Salam t berkata:  “Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Hai manusia, sebarkanlah salam dan berilah (kepada orang miskin) makan, dan sambunglah hubungan kekeluargaan, dan shalatlah di saat manusia terlelap tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat”. HR. Tarmizi dan Ibnu Majah. [3]

  • Cara mengucapkan salam:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

﴿ وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٖ فَحَيُّواْ بِأَحۡسَنَ مِنۡهَآ أَوۡ رُدُّوهَآۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ حَسِيبًا ٨٦ ﴾ [النساء : ٨٦]

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu. (Q.S. An Nisaa’: 86) .

عن عمران بن الحصين tُ قال جاء رجل إلى النبي r فقال: السلام عليكم. فرد عليه ثم جلس؛ فقال النبي r: (عشر) ثم جاء آخر فقال: السلام عليكم ورحمة اللَّه. فرد عليه فجلس فقال: (عشرون) ثم جاء آخر فقال: السلام عليكم ورحمة اللَّه وبركاته. فرد عليه، فجلس؛ فقال: (ثلاثون) . رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ والترمذي

Dari Imran bin Hushein t, ia berkata : “Seorang lelaki datang kepada Nabi shalallahu alaihi wassalam seraya mengucapkan “Assalamu’alaikum”, lalu beliau menjawab salam tersebut dan orang itupun duduk, Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Sepuluh”, kemudian datang orang lain lalu mengucapkan: “Assalamu’alaikum warahmatullahi”, maka beliau menjawabnya, kemudian orang itu duduk, Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Dua puluh”, kemudian datang lagi yang lain lalu mengucapkan: “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”, lalu beliaupun menjawab. kemudian orang itu duduk, dan Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda : “Tiga puluh”. HR. Abu Daud dan Tarmizi.[4]

  • Fadhilah orang yang memulai mengucapkan salam:

عن أبي أيوب t أن رَسُول اللَّهِ r قال: (لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث ليال: يلتقيان فيعرض هذا ويعرض هذا؛ وخيرهما الذي يبدأ بالسلام) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abu Ayyub bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih tiga malam, di mana mereka saling bertemu sementara yang ini memalingkan mukanya dan yang ini juga memalingkan mukanya, orang  yang terbaik di antara mereka berdua adalah orang yang memulai mengucapkan salam”. Muttafaq ’alaih. [5]

عن أبي أمامة t، قال: قال رسول الله r: ((إن أولى الناس بالله، من بدأهم بالسلام)) رواه أبو داود والترمذي.

Dari Abu Umamah berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  bersabda: “Manusia yang paling utama di sisi Allah adalah orang yang pertama mulai mengucapkan salam”. HR. Abu Daud dan Tarmizi. [6]

  • Orang yang seharusnya terlebih dahulu mengucapkan salam:

عن أبي هريرة t عن النبي r قال: ((يسلم الصغير على الكبير، والمار على القاعد، والقليل على الكثير)). متفق عليه.

Dari Abu Hurairah dari Nabi shalallahu alaihi wassalam, ia bersabda: “Orang yang lebih kecil mengucapkan salam kepada yang lebih tua, orang yang berjalan mengucapkan salam kepada yang sedang duduk, yang sedikit mengucapkan salam kepada yang lebih banyak”. Muttafaq alaih . [7]

عن أبي هريرة t أن رَسُول اللَّهِ r قال: (يسلم الراكب على الماشي، والماشي على القاعد، والقليل على الكثير ) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Hendaklah orang yang berada di atas kendaraan mengucapkan salam kepada orang yang berjalan kaki, orang yang berjalan mengucapkan salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit mengucapkan salam kepada orang yang lebih banyak”. Muttafaq ’alaih. [8]

  • Mengucapkan salam kepada wanita dan anak-anak.

عن أسماء بنت يزيد رضي الله عنها قالت: مر علينا النبي r في نسوة، فسلم علينا. رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ وابن ماجه.

Dari Asma binti Yazid radhiyallah `anha berkata: “Nabi shalallahu alaihi wassalam  melewati kami (kaum wanita) lalu beliau mengucapkan salam kepada kami”. HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. [9]

عن أنس t أنه مر على صبيان؛ فسلم عليهم؛ وقال: كان النبي r يفعله. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Anas t bahwa ia melewati anak-anak lalu mengucapkan salam kepada mereka, dan dia berkata: “Nabi shalallahu alaihi wassalam pernah melakukan hal tersebut.” Muttafaq ’alaih . [10]

  • Perempuan boleh mengucapkan salam kepada laki-laki jika tidak khawatir akan tergoda.

عن أم هانئ بنت أبي طالب t قالت: أتيت النبي r يوم الفتح؛ وهو يغتسل، وفاطمة تستره، فسلمت عليه فقال: ((من هذه)) فقلت أم هانئ بنت أبي طالب فقال: ((مرحبا بأم هانئ)). متفق عليه.

Dari Ummu Hani binti Abi Thalib radhiyallahu `anha berkata: “Aku datang kepada Nabi shalallahu alaihi wassalam di hari penaklukan kota Mekkah, di saat itu beliau tengah mandi dan Fathimah menutupinya dengan kain, lalu aku mengucapkan salam, beliau bersabda: “Siapakah ini?. Aku berkata:  “Ummu Hani’ binti Abu Thalib, beliau bersabda: “Selamat datang Ummu Hani’“. Muttafaq alaih . [11]

  • Mengucapkan salam saat masuk rumah:

Allah Iberfirman:

﴿ …….. فَإِذَا دَخَلۡتُم بُيُوتٗا فَسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۡ تَحِيَّةٗ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ مُبَٰرَكَةٗ طَيِّبَةٗۚ …… ﴾ [النور : ٦١]

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. (Q.S. An Nuur: 61) .

  • Larangan mengucapkan salam kepada Ahli kitab:

عن أبي هريرة t أن رَسُول اللَّهِ r قال: (لا تبدؤوا اليهود والنصارى بالسلام، فإذا لقيتم أحدهم في طريق؛ فاضطروه إلى أضيقه) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada orang Yahudi dan Nasrani, dan bila kalian bertemu dengan salah seorang dari mereka di jalan, maka desaklah dia untuk mengambil jalan yang sempit”. HR. Muslim. [12]

عن أنس t قال: قال رَسُول اللَّهِ r: (إذا سلم عليكم أهل الكتاب، فقولوا: وعليكم) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Anas t berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Apabila ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) mengucapkan salam kepada kalian maka ucapkanlah “wa’alaikum”. Muttafaq’alaih. [13]

  • Barangsiapa yang melewati majlis yang berkumpul padanya orang Islam dan orang kafir maka ucapkanlah salam dan niatkan untuk orang Islam.

عن أسامة بن زيد رضي الله عنهما أن النبي r مر على مجلس فيه أخلاط من المسلمين والمشركين -عبدة الأوثان-، واليهود فسلم عليهم النبي r ثم وقف، فنزل، فدعاهم إلى الله، وقرأ عليهم القرآن. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu `anhuma, bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam  melewati suatu majelis yang bercampur padanya antara orang Islam, musyrik (penyembah berhala), dan Yahudi, lalu Nabi shalallahu alaihi wassalam mengucapkan salam kepada mereka, kemudian beliau berhenti dan turun dari kendaraannya. Lalu mendakwahkan Islam kepada mereka serta membacakan Al quran “. Muttafaq ’alaih.[14]

  • Mengucapkan salam saat masuk dan saat keluar.

عن أبي هريرة t قال: قال رَسُول اللَّهِ r : (إذا انتهى أحدكم إلى المجلس؛ فليسلم، فإذا أراد أن يقوم؛ فليسلم، فليست الأولى بأحق من الآخرة ) رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ والترمذي.

Dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  bersabda: “Bila salah seorang kamu tiba di suatu majelis hendaklah ia mengucapkan salam dan bila  hendak berdiri ucapkanlah salam. Sebab ucapkan salam yang pertama tidak lebih berhak dari ucapan salam yang terakhir”. HR. Abu Daud dan Tarmizi. [15]

  • Larangan menunduk saat bertemu:

عن أنس بن مالك t قال: قال رجل: يا رسول الله الرجل منا يلقى أخاه أو صديقه أينحني له؟ قال: ((لا)) قال: أفيلتزمه ويقبله؟ قال: ((لا)) قال: فيأخذه بيده ويصافحه؟ قال: ((نعم)) أخرجه الترمذي وابن ماجه.

Dari Anas bin Malik berkata: “Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah: “Wahai rasulullah!, bila seorang muslim bertemu saudaranya atau temannya apakah dia harus menunduk kepadanya? Nabi bersabda: “Tidak”, orang itu bertanya kembali: “Apakah dia harus memeluk dan menciumnya?. Beliau bersabda: ” Tidak”, orang itu bertanya kembali: “Apakah dia berjabatan tangan? Nabi bersabda: ” Ya”. H.R. Tirmizi dan Ibnu Majah. [16]

  • Fadhilah berjabat tangan:

عن البراء t قال: قال رَسُول اللَّهِ r : (ما من مسلمين يلتقيان، فيتصافحان؛ إلا غفر لهما قبل أن يفترقا) رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ والترمذي.

Dari Baraa’ berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Tidaklah dua orang muslim yang bertemu kemudian saling berjabat tangan, melainkan dosa keduanya diampunkan sebelum mereka berpisah”. HR. Abu Daud dan Tirmizi.[17]

  • Kapan dianjurkan berjabat tangan dan merangkul.

عن أنس t قال: (كان أصحاب النبي r إذا تلاقوا تصافحوا، وإذا قدموا من سفر تعانقوا) أخرجه الطبراني في الأوسط.

Dari Anas berkata: Bahwa para sahabat Nabi t apabila bertemu maka mereka saling berjabat tangan, dan bila datang dari perjalanan jauh mereka saling berpelukan”. H.R. Tabrani dalam Al awsath. . [18]

  • Cara menjawab salam dari orang ketiga:

عن عائشة t قالت: قال لي رَسُول اللَّهِ r: (هذا جبريل يقرأ عليك السلام) قالت: وعليه السلام ورحمة اللَّه وبركاته، ترى مالا أرى. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari `Aisyah radhiyallahu `anha berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda kepadaku: “Ini Jibril alaihi salam mengucapkan salam untukmu”, aku menjawab: “Wa’alaihisalam warahmatullahi wabarakatuh, engkau dapat melihat sesuatu yang tak kulihat”. Muttafaq ’alaih [19]

جاء رجل إلى النبي r فقال : إن أبي يقرئك السلام ، فقال: ((عليك وعلى أبيك السلام)) أخرجه أحمد وأبو داود.

Seorang laki-laki datang kepada Nabi shalallahu alaihi wassalam berkata: “Bapakku berkirim salam untukmu, Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda:  “Alaika wa ala abikassalam“. H.R Ahmad dan Abu Daud.[20]

  • Anjuran berdiri untuk menghormati orang yang datang atau membantunya

عن أبي سعيد أن أهل قريظة نزلوا على حكم سعد بن معاذ فأرسل النبي r إليه فجاء فقال: ((قوموا إلى سيدكم أو قال خيركم)) متفق عليه.وفي لفظ: ((قوموا إلى سيدكم فأنزلوه)) أخرجه أحمد.

Dari Abu sa’id bahwa Bani Quraizah pasrah terhadap hukum yang akan dijatuhkan oleh Sa’ad bin Mu’az. Maka Nabi shalallahu alaihi wassalam mengutus orang untuk menjemputnya, tatkala Nabi shalallahu alaihi wassalam datang beliau bersabda: “Berdirilah untuk menghormati pemimpin kalian, atau orang yang terbaik diantara kalian“. muttafaq alaih .[21]

Dalam riwayat yang lain: “Berdirilah untuk menghormati pemimpin kalian dan berilah dia tempat duduk “. H.R . Ahmad. [22]

عن عائشة رضي الله عنها قالت: ما رأيت أحدا كان أشبه سمتا وهديا ودلا برسول الله r من فاطمة كرم الله وجهها، كانت إذا دخلت عليه قام إليها، فأخذ بيدها، وقبلها، وأجلسها في مجلسه، وكان إذا دخل عليها قامت إليه، فأخذت بيده، فقبلته، وأجلسته في مجلسها. أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu `anha berkata: ” Aku tidak melihat orang yang paling mirip dengan RRasulullah shalallahu alaihi wassalam dari sisi akhlak dan prilakunya selain Fatimah radhiyallahu `anha. Apabila Fatimah masuk ke rumah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam maka Nabipun berdiri lalu memegang tangan Fatimah dan menciumnya serta memberinya tempat duduk pada tempat beliau duduk. Dan apabila Nabi shalallahu alaihi wassalam masuk ke rumah Fatimah maka Fatimah berdiri lalu memegang tangan Nabi dan menciumnya serta memberinya tempat duduk di tempat dia duduk. H.R Abu Daud dan Tirmizi.[23]

  • Makruh berdiri untuk menghormati orang tertentu:

عن معاوية t قال: سمعت رسول الله r يقول: ((من سره أن يتمثل له الرجال قياما فليتبوء مقعده من النار)) أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Mu’awiyah berkata: aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  bersabda: “Barangsiapa yang merasa senang orang –orang berdiri untuk menghormatinya maka sediakanlah tempat untuknya di neraka”. H.R Abu Daud dan Tirmizi.[24]

  • Mengucapkan salam tiga kali jika salam tidak terdengar oleh orang:

عن أنس t أن النبي r كان إذا تكلم بكلمة أعادها ثلاثاً حتى تفهم عنه، وإذا أتى على قوم فسلم عليهم؛ سلم عليهم ثلاثاً. رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Anas bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam apabila mengucapkan suatu kata, beliau mengulanginya tiga kali hingga ucapan tersebut dipahami, dan apabila mendatangi suatu kaum maka beliau memulai mengucapkan salam kepada mereka, beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali” HR. Bukhari .[25]

  • Mengucapkan salam untuk jama’ah:

عن علي بن أبي طالب t أن رسول الله r قال: ((يجزئ عن الجماعة إذا مروا أن يسلم أحدهم  ويجزئ عن الجلوس أن يرد أحدهم)) أخرجه أبو داود.

Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Mencukupi bagi sebuah rombongan saat melewati (suatu kaum yang sedang duduk) salah seorang dari mereka mengucapkan salam (untuk kaum tersebut) dan mencukupi bagi jamaah yang sedang duduk itu bahwa salah seorang dari mereka menjawab salam tersebut”“. H.R. Abu Daud. [26]

  • Larangan menjawab salam saat buang hajat:

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رجلا مر ورسول الله r يبول فسلم عليه فلم يرد عليه. أخرجه مسلم

Dari Ibnu Umar radhiyallahu `anhuma seorang laki-laki lewat saat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sedang buang air kecil, lalu orang tersebut mengucapkan salam kepada Nabi. namun beliau tidak menjawabnya. H.R. Muslim . [27]

عن المهاجر بن قنفذ t أنه أتى النبي r يبول فسلم عليه فلم يرد عليه حتى توضأ ثم اعتذر إليه فقال: ((إني كرهت أن أذكر الله عز وجل إلا على طهر)) أخرجه أبو داود والنسائي.

Dari Muhajir bin Qunfuz t bahwa dia mendatangi Rasulullah shalallahu alaihi wassalam saat kencing, lalu dia mengucapkan salam kepada Nabi. Namun beliau tidak menjawabnya sehingga berwudhu kemudian meminta maaf seraya bersabda “Aku tidak suka menyebut Asma Allah kecuali dalam keadaan suci”. H.R. Abu Daud dan Nasa’I .[28]

  • Dianjurkan menggembirakan orang yang datang dan menanyakan identitasnya agar dihormati sesuai dengan keadaannya.

عن أبي جمرة قال : كنت أترجم بين ابن عباس وبين الناس فقال: إن وفد عبد القيس أتوا النبي r فقال: ((من الوفد؟ أو من القوم ؟)) قالوا: ربيعة ، فقال: ((مرحبا بالقوم أو بالوفد غير خزايا ولا ندامى)) متفق عليه.

Dari Abi Jamrah berkata: aku menjadi penterjemah antara Ibnu Abbas dan orang-orang. Dia bertanya: Utusan datang kepada Nabi shalallahu alaihi wassalam .Lalu Nabi bersabda: “Siapakah utusan tersebut? atau siapakah kaum yang dating ini?. Para shahabat menjawab: “Rabi’ah”. Nabi bersabda:  “Selamat datang wahai kaum! Selamat datang wahai para utusan!, anda tidak akan terhina dan tidak akan menyesal”. Muttafaq alaih . [29]

  • Makruh mengucapkan salam dengan kalimat: Alaikassalam.

عن جابر بن سليم t قال: أتيت النبي r فقلت: عليك السلام ، فقال: ((لا تقل عليك السلام، ولكن قل: السلام عليك)) أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Jabir bin Sulaim berkata: “Aku mendatangi Nabi shalallahu alaihi wassalam lalu mengucapkan: “Alaikassalam”. Maka beliau bersabda: “Janganlah mengucapkan Alaikassalam, akan tetapi ucapkanlah:  “Assalamualaik“. H.R. Abu Daud dan Tirmizi . [30]

وفي لفظ: ((فإن عليك السلام تحية الموتى)) أخرجه أبو داود.

Dalam riwayat yang lain: “Karena uacapan alaikassalam adalah ucapan salam untuk orang yang telah wafat. H.R. Abu Daud.

Adab Makan Dan Minum

  • Makanan orang islam haruslah yang halal lagi baik:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِلَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ ١٧٢ ﴾ [البقرة: ١٧٢]

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah”. (Q.S. Al Baqarah: 172) Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

﴿ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ …….. ﴾ [الاعراف: ١٥٦]

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. (Q.S. Al A’raaf: 157)

  • Membaca bismillah saat hendak makan dan meraih makanan yang ada di dekat kita:

عن عمر بن أبي سلمة t قال: كنت غلاماً في حجر رَسُول اللَّهِ r، وكانت يدي تطيش في الصحفة فقال لي رَسُول اللَّهِ r: ((يا غلام! سم اللَّه –تعالى- ، وكل بيمينك، وكل مما يليك)) فما زالت تلك طعمتي بعد. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Umar bin Abu Salamah: “Sewaktu aku kecil saat berada dalam asuhan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan ketika makan tanganku sering ke sana ke mari (saat mengambil makanan) pada sebuah nampan, lalu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda kepadaku: “Hai annak!, ucaplah bismillah dan makan dengan tangan kananmu serta ambil bagian yang berada di dekatmu”, semenjak itu selalu cara makanku (seperti) apa yang diajarkan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam”. Muttafaq ’alaih. [31]

عن ابن مسعود t قال: قال رَسُول اللَّهِ r: (من نسي أن يذكر  اسم الله في أول طعامه؛ فليقل حين يذكر: بِسْمِ اللَّهِ في أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، فإنه يستقبل طعامه جديدا، ويمنع الخبيث ما كان يصيب منه) رواه ابن حبان وابن السني.

Dari Ibnu Mas’ud berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  bersabda: “Apabila salah seorang kamu makan hendaklah mengucapkan bismillah, maka jika lupa mengucapkan bismillah di awalnya, ucapkanlah: بِسْمِ اللَّهِ في أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

 (dengan nama Allah di awal dan dia akhir) dengan demikain dia seperti makan dari awal lagi, dan setan terhalangi untuk ikut makan bersamanya, yang mana sebelumnya dia telah mendapat bagian dari makanan tersebut  ”. HR Ibnu Hibban dan Ibnu Sunni. [32]

  • Makan dan minum harus menggunakan tangan kanan:

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله r قال: ((إذا أكل أحدكم فليأكل بيمينه ، وإذا شرب فليشرب بيمينه ؛ فإن الشيطان يأكل بشماله ويشرب بشماله)) أخرجه مسلم.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu `anhu , bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  bersabda: “Apabila kalian makan maka makanlah dengan menggunakan tangan kanan, bila minum minum maka gunakanlah tangan kanan. Karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya“. H.R. Muslim[33]

  • Bernafas saat minum di luar gelas.

عن أنس  t قال: أن رَسُول اللَّهِ r كان يتنفس في الشراب ثلاثاً، ويقول: ((إنه أروى، وأبرأ، وأمرأ)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Anas berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  bernafas dalam sekali minum tiga kali, dan  bersabda: “Sesungguhnya dengan  begini dahaga lebih hilang , lepas dan lebih enak” . Muttafaq ’alaih[34]

  • Cara memberi minum kepada orang lain:.

عن أنس  tأن رَسُول اللَّهِ r أتي بلبن قد شيب بماء، وعن يمينه أعرابي وعن يساره أبو بكر t، فشرب، ثم أعطى الأعرابي؛ وقال: (الأيمن فالأيمن) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

Dari Anas  bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  dihadiahkan susu yang telah bercampur air, sedangkan di sebelah kanan beliau ada seorang Arab Badui dan di sebelah kiri beliau ada Abu Bakar, maka beliau minum kemudian memeberikannya kepada si Badui, beliau bersabda:  “Yang paling  kanan, kemudian  yang paling kanan”. Muttafaq ’alaih.[35]

  • Larangan minum dengan berdiri:

عن أبي سعيد الخدري t: أن النبي r زجر عن الشرب قائما . أخرجه مسلم.

Dari Abu Sa’id Al khudri t “bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam  menghardik orang yang minum sambil berdiri”. H.R. Muslim . [36]

عن أبي هريرة t أن النبي r رأى رجلا يشرب قائما فقال له: ((قه)) قال: لمه؟ قال: ((أيسرك أن بشرب معك الهر؟)) قال: لا، قال: ((فإنه قد شرب معك من هو شر منه، الشيطان)) أخرجه أحمد والدارمي.

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam  melihat seseorang laki-laki minum sambil berdiri, lalu beliau bersabda: “Tahan dia! orang itu berkata: “Kenapa?” maka Nabi bersabda: “Apakah engkau senang jika seekor kucing ikut minum bersamamu? Ia berkata: “Tidak”. Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda:,”Sungguh telah ikut minum bersamamu yang lebih buruk dari kucing, yaitu setan”. H.R. Ahmad dan Darimi.[37]

  • Larangan makan dan minum di bejana yang terbuat dari emas dan perak:

عن حذيفة r قال: سمعت رَسُول اللَّهِ r يقول: (لا تلبسوا الحرير ولا الديباج، ولا تشربوا في آنية الذهب والفضة؛ ولا تأكلوا في صحافها؛ فإنها لهم في الدنيا؛ و لنا في الآخرة) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Huzaifah aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Janganlah kalian memakai sutera, dan kain tenun dari sutera, dan jangan pula minum pada bejana emas dan perak, dan jangan makan pada nampannya” karena Perhiasan tersebut adalah untuk mereka (orang kafir) di dunia, dan  untuk kita di akhirat kelak”. Muttafaq ’alaih. [38]

  • Cara memakan makanan:

عن كعب بن مالك t قال: كان رَسُول اللَّهِ r يأكل بثلاث أصابع، ويلعق يده قبل أن يمسحها أخرجه مسلم.

Dari Ka’ab bin Malik berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wassalam makan dengan menggunakan tiga jari dan menjilat tangannya sebelum diseka. H.R. Muslim . [39]

عن أنس t أن رَسُول اللَّهِ r كان إذا أكل طعاماً، لعق أصابعه الثلاث وقال: (إذا سقطت لقمة أحدكم؛ فليمط عنها الأذى وليأكلها، ولا يدعها للشيطان) وأمر أن تسلت القصعة؛ قال: (فإنكم لا تدرون في أي طعامكم البركة) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Anas bahwa apabila Rasulullah shalallahu alaihi wassalam selesai memakan makanannya  maka beliau menjilat tiga jarinya dan bersabda: “Apabila suapan salah seorang kamu terjatuh, ambillah dan bersihkanlah dari kotoran lalu makanlah, dan jangan membiarkannya untuk setan,” dan beliau memerintahkan agar nampan tempat makan juga dijilat, beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui pada bagian manakah adanya keberkahan dari makanan kalian.” HR. Muslim . [40]

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: نهى رَسُول اللَّهِ r أن يقرن الرجل بين التمرتين حتى يستأذن أصحابه  متفق عليه.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu `anhuma berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wassalam melarang seseorang makan dua biji kurma sekaligus kecuali bila temannya mengizinkannya. Muttafaq alaih. [41]

عن أبي هريرة t أن النبي r قال: ((ليأكل أحدكم بيمينه ، وليشرب بيمينه، وليأخذ بيمينه، وليعط بيمينه؛ فإن الشيطان يأكل بشماله ، ويشرب بشماله، ويعطي بشماله، ويأخذ بشماله)) أخرجه ابن ماجه.

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Makanlah dengan tangan kanan, minumlah dengan tangan kanan, ambillah dengan tangan kanan dan memberi dengan tangan kanan, karena setan makan dengan tangan kiri, minum dengan tangan kiri, memberi dengan tangan kiri dan mengambil dengan tangan kiri. H.R. Ibnu Majah.[42]

  • Ukuran makanan yang dimakan

عن مقدام بن معد يكرب t قال سمعت رَسُول اللَّهِ r يقول: ((ما ملأ آدمي وعاء شراً من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه، فإن كان لا محالة، فثلث لطعامه، وثلث لشرابه، وثلث لنفسه)) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ وابن ماجه.

Dari Miqdam bin Ma’di Karib t berkata: “Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Tidaklah seorang anak Adam memenuhi rongga yang lebih buruk dari pada lambungnya, cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya, maka jika ingin lebih juga maka sepertiga lambungnya untuk makanannya, sepertiga yang lain untuk minumannya dan sepertiga yang lainnya untuk bernafas”. HR. Tarmizi dan Ibnu Majah. [43]

  • Larangan mencela makanan:

عن أبي هريرة t قال: ما عاب رَسُول اللَّهِ r طعاماً قط: إن اشتهاه أكله وإن كرهه تركه مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam tidak pernah sedikitpun mencela makanan, bila beliau menyukainya maka beliau memakannya, dan apabila tidak menyukainya maka beliau meninggalkannya”. Muttafaq ’alaih. [44]

  • Larangan makan banyak:

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي r قال: ((الكافر يأكل في سبعة أمعاء والمؤمن يأكل في معى واحد)) متفق عليه.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu `anhuma, dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Orang kafir makan untuk memenuhi tujuh lambung, sedangkan orang mukmin makan untuk memenuhi satu lambung”. Muttafaq ’alaih.[45]

  • Fadhilah memberi makan dan berbagi makanan:

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال سمعت رسول الله r يقول: (طعام الواحد يكفي الاثنين، وطعام الاثنين يكفي الأربعة، وطعام الأربعة يكفي الثمانية) أخرجه مسلم.

Dari Jabir dia berkata: aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:  “Makanan untuk seorang mencukupi dua orang, makanan untuk dua orang mencukupi empat orang, makanan untuk empat orang mencukupi delapan orang”. HR. Muslim.[46]

عن عبد اللَّه بن عمرو رضي الله عنهما أن رجلاً سأل رَسُول اللَّهِ r: أي الإسلام خير؟ قال: (تطعم الطعام، وتقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abdullah bin Amru radhiyallahu `anhuma, bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah r: “Islam apakah yang paling baik?”, beliau bersabda:  “Engkau memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kau kenal dan orang yang tidak kau kenal”. Muttafaq ’alaih. [47]

عن أبي أيوب الأنصاري t قال: كان رَسُول اللَّهِ r إذا أتي بطعام أكل منه وبعث بفضله إلي . أخرجه مسلم.

Dari Abu Ayyub Al Anshari t berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bila dihadiahkan makanan maka beliau memakan (sebagiannya) dan mengirim sisanya kepadaku . HR. Muslim .[48]

  • Anjuran memuji makan yang dimakan:

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أن النبي r سأل أهله الأدم فقالوا: ما عندنا إلا الخل، فدعا به فجعل يأكل؛ ويقول: (نعم الأدم الخل، نعم الأدم الخل) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu `anhuma bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam meminta lauk kepada para isterinya, mereka berkata: “Kami tidak mempunyai apa-apa kecuali cuka”, lalu beliau meminta cuka tersebut dan mulai makan (roti) dengannya, dan bersabda: “Lauk yang paling enak adalah cuka, lauk yang paling enak adalah cuka ”. HR. Muslim. [49]

  • Larangan meniup minuman:

عن أبي سعيد الخدري  t أنه قال: نهى رسول الله r عن الشرب في ثلمة القدح، وأن ينفخ في الشراب. أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Abu Sa’id Al Khudri, berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wassalam melarang minum dari bagian gelas yang retak dan melarang meniup minuman“. H.R. Abu Daud dan Tirmizi.[50]

  • Orang yang memberi minum, dialah yang terakhir minum:

عن أبي قتادة  tقال: خطبنا رسول الله r وفي آخره قال: (إن ساقي القوم آخرهم شرباً) . رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ

Dari Abu Qatadah berkata Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berkhutbah kepada kami yang di akhir khutbahnya beliau bersabda:  “Orang yang yang menuangi minum untuk suatu kaum dialah yang paling akhir minum”. HR. Muslim . [51]

  • Anjuran makan secara bersama:

عن وحشي بن حرب عن أبيه عن جده: أن أصحاب رَسُول اللَّهِ r قالوا: يا رَسُول اللَّهِ! إنا نأكل ولا نشبع، قال: (فلعلكم تفترقون) قالوا: نعم. قال: (فاجتمعوا على طعامكم، واذكروا اسم اللَّه يبارك لكم فيه) رواه أبو داود وابن ماجه.

Dari Wahsyi bin Harb, dari bapaknya, dari kakeknya bahwa para sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan tetapi kami tidak kenyang”, beliau bersabda:  “Kemungkianan kalian makan secara berpisah-pisah”, mereka berkata: “Benar”, lalu beliau bersabda: “Makanlah secara bersama atau kumpulkan makanan kalain dalam satu nampan, kemudian makanlah bersama, lalu ucapkan bismillah, niscaya makanan kalian akan diberkahi”. HR Abu Daud dan Ibnu Majah. [52]

  • Memuliakan tamu dan menjamunya dengan sendiri:

Allah subhanahu wa ta’alaberfirman:

﴿ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ٢٤ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ٢٥ فَرَاغَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ٢٦ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ٢٧ ﴾ [الذاريات: ٢٤،  ٢٧]

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun”. Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.” Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan.” (Q.S. Az Dzariyat: 24-27 )

عن أبي شريح الكعبي  t أن رَسُول اللَّهِ r قال: (من كان يؤمن بالله واليوم الآخر؛ فليكرم ضيفه جائزته) قالوا: وما جائزته يا رَسُول اللَّهِ! قال: (يومه وليلته. والضيافة ثلاثة أيام فما كان وراء ذلك؛ فهو صدقة عليه) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abi Syuraih t Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya selama hari istimewa”, para sahabat berkata: “Apa hari istimewa itu wahai Rasulullah?”, beliau bersabda:  “Sehari semalam, sedangkan menjamu tamu selama tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah untuk tuan rumah”. Muttafaq ’alaih.[53]

  • Sikap duduk saat makan:

عن أبي جحيفة  t قال: قال رَسُول اللَّهِ r : (إني لا آكل متكئا) رَوَاهُ البخاري .

Dari Abu Juhaifah berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Aku tidak pernah makan dalam keadaan duduk bertelekan”. HR. Bukhari . [54]

عن أنس t قال: رأيت رَسُول اللَّهِ r جالساً مقعياً يأكل تمراً. رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Anas t berkata: “Aku melihat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam duduk iqa’a (yaitu dengan menempelkan pantat ke lantai dan menegakkan dua betisnya) pada saat makan kurma”. HR. Muslim. [55]

عن عبد اللَّه بن بسر t  قال: أهديت للنبي r شاة فجثا رَسُول اللَّهِ r على ركبتيه يأكل. فقال أعرابي: ما هذه الجلسة؟ فقال رَسُول اللَّهِ r: (إن اللَّه جعلني عبداً كريماً؛ ولم يجعلني جباراً عنيدا) رواه أبو داود وابن ماجه.

Dari Abdullah bin Busur berkata: “Di hadiahkan kepada Nabi shalallahu alaihi wassalam daging kambing maka Rasulullah shalallahu alaihi wassalam duduk berlutut, seorang Arab Badui berkata: “Duduk apakah ini?”, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menjadikanku seorang hamba yang mulia dan tidak menjadikanku seorang sombong lagi pembangkang”. H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah.[56]

  • Cara makan orang yang sibuk:

عن أنس t قال: أتي رَسُول اللَّهِ r بتمر، فجعل النبي r يقسمه وهو محتفز، يأكل منه أكلا ذريعا. وفي رواية زهير : أكلا حثيثا. أخرجه مسلم.

Dari Anas t berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  dihadiahi kurma, lalu beliau membaginya dengan terburu-buru dan memakan sebagiannya dengan tergesa-gesa”. H.R. Muslim .[57]

  • Menutup bejana dan menyebut Asma Allah sebelum tidur:

عن جابر tأن رَسُول اللَّهِ r قال: … ((وأغلق بابك، واذكر اسم الله، وأطفئ مصباحك، واذكر اسم الله، وأوك سقاءك واذكر اسم الله، وخمر إناءك واذكر اسم الله، ولو تعرض عليه شيئا)) متفق عليه.

Dari Jabir bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  bersabda: … tutuplah pintumu dan sebutlah nama Allah, matikanlah lampumu dan sebutlah nama Allah, tutuplah bejana airmu dan sebutlah nama Allah dan tutuplah bejana makananmu dan sebutlah nama Allah, sekalipun hanya sekedar dengan meletakkan sesuatu yang melintang di atasnya. Muttafaq alaih .[58]

  • Makan bersama pembantu:

عن أبي هريرة  t عن النبي r قال: (إذا أتى أحدكم خادمه بطعامه؛ فإن لم يجلسه معه، فليناوله لقمة أو لقمتين -أو أكلة أو أكلتين- ؛ فإنه ولي علاجه) رَوَاهُ البُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda:  “Apabila pelayan membawa makanan untuk salah seorang di antara kalian dan dia tidak mau duduk bersamanya maka berilah dia satu suap atau dua suap  makanan karena sesungguhnya dialah yang telah membuatnya”. Muttafaq alaih .[59]

  • Apabila masuk waktu Isya, hendaklah tidak terburu-buru menyelesaikan makan malam:

عن أنس بن مالك t عن النبي r قال: ((إذا وضع العشاء وأقيمت الصلاة فابدؤوا بالعشاء)) متفق عليه.

Dari Anas bin Malik t dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Apabila makan malam telah dihidangkan dan waktu shalat Isya telah masuk maka mulailah makan malam terlebih dahulu”. Muttafaq alaih . [60]

  • Cara makan memakai nampan:

عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي r قال: ((إذا أكل أحدكم طعاما فلا يأكل من أعلى الصحفة، ولكن ليأكل من أسفلها؛ فإن البركة تنزل من أعلاها)) أخرجه أبو داود وابن ماجه.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian makan, maka janganlah dia makan dari atas nampan, tetapi mulailah makan dari bawah, karena keberkahan turun dari atas nampan”. H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah. [61]

Yang harus diucapkan dan dilakukan apabila makan atau minum susu:

عن ابن عباس رضي الله عنهما … أن رسول الله r قال: ((إذا أكل أحدكم طعاما فليقل: اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ، وإذا سقي لبنا فليقل: اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْهِ وَزِدْنَا مِنْهُ، فإنه ليس شيء يجزئ من الطعام والشراب إلا اللبن)) أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian telah selesai makan makanan maka ucapkanlah:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ

“Ya Allah! Berilah kami berkah dengan makan ini  dan berilah makanan yang lebih baik darinya”. Dan apabila diberi rezeki berupa minuman susu, hendaklah dia membaca:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْهِ وَزِدْنَا مِنْهُ

“Ya Allah! Berilah kami berkah padanya dan tambahkanlah makanan itu kepada kami”. Karena sesungguhnya tidak ada sesuatu apappun dari makan dan minum yang (gizinya) lengkap selain susu”. H.R. Abu Daud dan Tirmizi. [62]

عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي r شرب لبنا، ثم دعا بماء فتمضمض وقا: ((إن له دسما)) متفق عليه.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam minum susu kemudian meminta air untuk berkumur-kumur, seraya bersabda: “Sesungguhnya susu itu mengandung lemak”. muttafaq alaih .[63]

  • Doa setelah selesai makan:

عن معاذ بن أنس رضي الله عنهما أن النبي r قال: ((من أكل طعاما ثم قال: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ غفر له ما تقدم من ذنبه)) أخرجه أبو داود.

Dari Mu’az bin Anas radhiyallahu `anhuma bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: Barangsiapa yang selesai makan lalu mengucapkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ

Segala puji bagi Allah Yang memberi makan ini kepadaku dan Yang memberi rezeki kepadaku tanpa daya dan kekuatanku.”  Niscaya diampuni dosanya yang telah berlalu. H.R. Abu Daud.[64]

عن أبي أمامة t أن النبي r كان إذا رفع مائدته قال: (الْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلاَ مُوَدِّعٍ وَلاَ مُسْتَغْنىً عَنْهُ رَبَّنَا) رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Abu Umamah t bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam  apabila mengangkat jamuannya (setelah selesai makan) maka beliau mengucapkan doa:

الْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلاَ مُوَدِّعٍ وَلاَ مُسْتَغْنىً عَنْهُ رَبَّنَا

“Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, baik lagi diberkahi, tidak ada yang mencukupi dan tidak ada yang membalas, dan tidak ada yang dapat berlepas diri dari-Nya wahai Rabb kami”. HR. Bukhari. [65]

عن أبي أيوب الأنصاري t قال: كان رسول الله r إذا أكل أو شرب قال: ((الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَ وَسَقَى وَسَوَّغَهُ وَجَعَلَ لَهُ مَخْرَجًا)) أخرجه أبو داود.

Dari Abu Ayyub Al Anshari t berkata: Apabila Rasulullah shalallahu alaihi wassalam selesai makan dan minum beliau mengucapkan:

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَ وَسَقَى وَسَوَّغَهُ وَجَعَلَ لَهُ مَخْرَجًا

Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum dan menjadikannya nikmat dan jalan keluar”. H.R. Abu Daud. [66]

عن أنس t قال : قال رَسُول اللَّهِ r: (إن اللَّه ليرضى عن العبد يأكل الأكلة؛ فيحمده عليها، ويشرب الشربة؛ فيحمده عليها) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Anas t berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  bersabda: “Sesungguhnya Allah ridha terhadap seorang hamba yang memakan makanan lalu dia memuji Allah atasnya atau dia meneguk suatu minuman dan dia memuji Allah subhanahu wa ta’alaatasnya”. HR. Muslim. [67]

اللَّهُمَّ أَطْعَمْتَ وَأَسْقَيْتَ وَأَغْنَيْتَ وَأَقْنَيْتَ وَهَدَيْتَ وَأَحْيَيْتَ ، فَلَكَ الحَمْدُ عَلَى مَا أَعْطَيْتَ. أخرجه أحمد.

Ya Allah Engkau telah memberi makan dan minum, telah memberi kekayaan serta kecukupan, telah memberi hidayah dan kehidupan, hanya untuk-Mu segala pujian atas nikmat yang Engkau berikan. H.R. Ahmad. [68]

عن أنس  t قال : قال رَسُول اللَّهِ r : ((ما أنعم الله على عبد نعمة فقال: الحمد لله، إلا كان الذي أعطاه أفضل مما أخذ)) أخرجه ابن ماجه.

Dari Anas t berkata: “Rasulullah `r bersabda: “Tidaklah seorang hamba diberi nikmat oleh Allah lalu dia mengucapkan: Alhamdulillah, melainkan apa yang diberikan kepadanya lebih baik daripada yang diambilnya“. H.R. Ibnu Majah. [69]

  • Waktu tamu masuk dan keluar:

Allah subhanahu wa ta’alaberfirman:

﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَدۡخُلُواْ بُيُوتَ ٱلنَّبِيِّ إِلَّآ أَن يُؤۡذَنَ لَكُمۡ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيۡرَ نَٰظِرِينَ إِنَىٰهُ وَلَٰكِنۡ إِذَا دُعِيتُمۡ فَٱدۡخُلُواْ فَإِذَا طَعِمۡتُمۡ فَٱنتَشِرُواْ وَلَا مُسۡتَ‍ٔۡنِسِينَ لِحَدِيثٍۚ ……. ﴾ [الاحزاب : ٥٣]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya, tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan”. (Q.S. Al Ahzab: 53) .

  • Doa tamu untuk tuan rumah:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ، وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ. أخرجه مسلم.

YA Allah, berkahi rezki yang telah Engkau berikan kepada mereka, ampuni dosa mereka dan kasihi mereka . H.R. Muslim . [70]

عن أنس  t أن النبي r جاء إلى سعد بن عبادة t، فجاء بخبز وزيت، فأكل، ثم قال النبي r: (أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الْأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ) رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ وابن ماجه.

Dari Anas t bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam mendatangi Sa’ad bin Ubadah t lalu Sa’ad menghidangkan roti dan minyak, maka Rasulullah shalallahu alaihi wassalam makan kemudian Nabi shalallahu alaihi wassalam mengucapkan:

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الْأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ

(Orang yang berpuasa telah berbuka di sisi kalian, makanan kalian telah disantap oleh orang-orang yang baik dan para malaikat berdo’a untuk kalian). HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. [71].

Doa yang diucapkan untuk orang yang memberi minuman:

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِيْ وَأَسْقِ مَنْ سَقَانِيْ . أخرجه مسلم.

Ya Allah, berilah makan kepada orang yang memberiku makan dan berilah minum kepada orang yang telah memberiku minum. H.R. Muslim . [72]

Adab Di Jalan Dan Di Pasar

  • Hak jalan:

عن أبي سعيد الخدري  t عن النبي r قال: (إياكم والجلوس في الطرقات!) فقالوا: يا رَسُول اللَّهِ! ما لنا من مجالسنا بد: نتحدث فيها. فقال رَسُول اللَّهِ r: (فإذا أبيتم إلا المجالس فأعطوا الطريق حقه) قالوا: وما حق الطريق يا رَسُول اللَّهِ؟ قال: (غض البصر، وكف الأذى، ورد السلام، ولأمر بالمعروف، والنهي عن المنكر) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abu Said Al Kudri t dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Hindarilah duduk di jalan”, mereka berkata: “Wahai Rasulullah!, kami tidak bisa meninggalkan majlis tersebut”, lalu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Maka apabila kalian enggan kecuali tetap di majlis itu maka berikanlah kepada itu haknya”, mereka bertanya: “Apakah hak jalan itu?”, beliau bersabda: “Menundukkan pandangan, menahan diri menganggu orang yang lewat, membalas ucapan salam, menganjurkan kebaikan dan mencegah kemunkaran”. Muttafaq ’alaih. [73]

وفي لفظ: (اجتنبوا مجالس الصعدات) فقلنا: إنما قعدنا لغير ما بأس؛ قعدنا نتذاكر ونتحدث. قال: إما لا فأدوا حقها: غض البصر، ورد السلام، وحسن الكلام. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dalam riwayat lain: hindarilah duduk-duduk di pinggiran jalan”, kami berkata: “Kami duduk-duduk untuk keperluan yang tidak terlarang, kami duduk sekedar bercerita dan mengenang masa lalu”, ia bersabda:  “Kalau kalian tetap ingin duduk maka berikanlah kepada jalan itu haknya: “Tundukkan pandangan, jawab orang yang mengucapkan salam, berbicara dengan baik”. HR. Muslim. [74]

وفي لفظ: (وتغيثوا الملهوف وتهدوا الضال) أخرجه أبو داود.

Dalam riwayat lain: “Bantulah orang yang membutuhkan pertolongan dan tunjuki jalan bagi orang yang tersesat. H.R. Abu daud.[75]

  • Membuang sesuatu yang menghalangi jalan:

عن أبي هريرة  t عن النبي r قال: (لقد رأيت رجلاً يتقلب في الجنة في شجرة -قطعها من ظهر الطريق- كانت تؤذي المسلمين) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah t dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Sungguh aku melihat seorang lelaki yang mondar-mandir di surga sebab (perbuatannya) yang memotong pohon yang terjatuh dan menghalangi jalan kaum muslimin” HR. Muslim.[76]

  • Larangan meludah di arah kiblat, di jalan dan di tempat lain.

عن حذيفة  t أن رسول الله r قال: ((من تفل تجاه القبلة، جاء يوم القيامة تفله بين عينيه)) أخرجه ابن خزيمة وأبو داود.

Dari Huzaifah t bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  bersabda: “Barangsiapa yang meludah ke arah kiblat, nanti di hari kaimat ludahnya berada di antara dua matanya”. H.R. Ibnu Khuzaimah dan Abu Daud. [77]

  • Menjaga kondisi hewan tunggangan saat berjalan dan larangan singgah di tengah jalan pada malam hari:

عن أبي هريرة t قال: قال رَسُول اللَّهِ r: (إذا سافرتم في الخصب فأعطوا الإبل حظها من الأرض، وإذا سافرتم في الجدب فأسرعوا عليها السير، وبادروا بها نقيها، وإذا عرستم فاجتنبوا الطريق؛ فإنها طرق الدواب، ومأوى الهوام بالليل) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Apabila kalian berjalan jauh dan melewati daerah yang subur maka berikanlah kepada unta haknya di daerah tersebut dan apabila melewati daerah yang tandus maka percepat perjalanan dan bersegeralah sebelum kekuatannya melemah, dan apabila singgah pada malam hari, hindarilah (singgah) di jalanan, karena dia adalah jalan bagi kendaraan dan tempat bagi binatang berbisa di waktu malam.” HR. Muslim. [78]

Adab Di Pasar

  • Murah hati saat menjual dan membeli:

عن أبي هريرة  tأن رَسُول اللَّهِ r قال: (رحم اللَّه رجلاً، سمحاً إذا باع، وإذا اشترى، وإذا اقتضى) رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Allah merahmati seorang lelaki yang tenggang rasa bila menjual, membeli, dan bila menuntut haknya”. HR. Bukhari. [79]

  • Membayar hutang saat jatuh tempo:

عن أبي هريرة  t أن رَسُول اللَّهِ r قال: (مطل الغني ظلم، وإذا أتبع أحدكم على مليء فليتبع ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Menunda pembayaran hutang bagi orang yang mampu adalah suatu  kezalimian, dan bila salah seorang kalian mengalihkan hutangnya kepada orang yang kaya hendaklah dia menerimanya.” Muttafaq ’alaih. [80]

  • Menunda piutang dari orang yang sedang kesusahan:

عن أبي هريرة  t أن رَسُول اللَّهِ r قال: (كان تاجر يداين الناس، وكان يقول لفتاه: إذا أتيت معسراً فتجاوز عنه؛ لعل اللَّه أن يتجاوز عنا، فلقي اللَّه فتجاوز عنه) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Hurairah tbahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Ada seorang pedagang yang memberi piutang kepada manusia, dan dia selalu berkata kepada hamba sahayanya: “Bila engkau menagih orang yang kesulitan maka hapuskanlah hutangnya, semoga Allah menghapuskan kesalahan kita”, lalu dia bertemu Allah (di hari kiamat), dan Allah menghapuskan kesalahannya”. Muttafaq ’alaih. [81]

  • Larangan jual beli di waktu shalat:

Allah subhanahu wa ta’alaberfirman:

﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوۡمِ ٱلۡجُمُعَةِ فَٱسۡعَوۡاْ إِلَىٰ ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَذَرُواْ ٱلۡبَيۡعَۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٩ فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٠ ﴾ [الجمعة: ٩،  ١٠]

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Q.S. Al Jumuah: 9- 10 ).

  • Bersikap adil dalam segala kondisi:

Allah subhanahu wa ta’alaberfirman:

﴿ وَيۡلٞ لِّلۡمُطَفِّفِينَ ١ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ ٢ وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ ٣ أَلَا يَظُنُّ أُوْلَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبۡعُوثُونَ ٤ لِيَوۡمٍ عَظِيمٖ ٥ يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٦ ﴾ [المطففين: ١،  ٦]

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? (Q.S. Al Muthaffifin: 1-6).

  • Hindari sering bersumpah:

عن أبي هريرة t  قال: سمعت رَسُول اللَّهِ r يقول: (الحلف منفقة للسلعة، ممحقة للربح) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abu Hurairah t berkata:  “Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Sumpah membuat barang dagangan menjadi laku tetapi mengurangi bisa laba”. Muttafaq ’alaih. [82]

  • Hindari jual beli barang- barang haram dan kotor:

Allah Iberfirman:

﴿ …… وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ ………. ﴾ [البقرة: ٢٧٥]

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (Q.S. Al Baqarah: 275)

Allah subhanahu wa ta’alaberfirman:

﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡخَمۡرُ وَٱلۡمَيۡسِرُ وَٱلۡأَنصَابُ وَٱلۡأَزۡلَٰمُ رِجۡسٞ مِّنۡ عَمَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَٱجۡتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٩٠ ﴾ [المائ‍دة: ٩٠]

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Q.S. Al Maidah : 90) .

Allah subhanahu wa ta’alaberfirman:

﴿ …….. وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ ………… ﴾ [الاعراف: ١٥7]

“Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. (Q.S. Al A’raaf: 157)

  • Larangan berdusta dan menipu:

عن أبي هريرة  t أن رَسُول اللَّهِ r مر على صبرة طعام؛ فأدخل يده فيها؛ فنالت أصابعه بللاً، فقال: (ما هذا يا صاحب الطعام؟!) قال: أصابته السماء يا رَسُول اللَّه ! قال:  (أفلا جعلته فوق الطعام حتى يراه الناس ؟! من غشنا فليس منا) أخرجه مسلم.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam melewati seonggok makanan lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam onggokan tersebut, jari beliau menjadi basah maka beliau bersabda: “Apa ini wahai pemilik makanan?”, ia berkata: “Terkena hujan wahai Rasulullah”, beliau bersabda:  “Kenapa engkau tidak meletakkannya pada bagian atas makanan, hingga orang-orang melihatnya, barangsiapa yang menipu kami tidaklah termasuk golongna kami”. HR. Muslim. [83]

عَنْ حكيم بن حزام t قال: قال رَسُول اللَّهِ r: (البيعان بالخيار ما لم يتفرقا، أو قال: حتى يتفرقا، فإن صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما، وإن كتما وكذبا محقت بركة بيعهما) مُتَّفّقٌ عَلَيْهِ.

Dari Hakim bin Hizam t berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam   bersabda: “Penjual dan pembeli masih bebas (belum terikat suatu transaksipun) selama belum berpisah, atau beliau bersabda: “Sampai mereka berdua berpisah” jika keduanya benar/jujur dan menjelaskan cacat barang dagangannya, niscaya Allah memberkahi keduanya, jika mereka saling menyembunyikan dan berdusta, maka dicabutlah keberkahan dari transaksi mereka.” Muttafaq ’alaih. [84]

Larangan menimbun barang dagangan:

عن معمر بن عبد الله عن رَسُول اللَّهِ r قال: ((لا يحتكر إلا خاطئ)) أخرجه مسلم.

Dari Ma’mar bin Abdullah dari Rasulullah r,:”Tidaklah seseorang menimbun barang dagangan kecuali dia telah berbuat salah“. HR. Muslim. [85]

Adab Bepergian

  • Minta wasiat kepada orang shalih:

عن أبي هريرة t أن رجلاً قال: يا رَسُول اللَّه! إني أريد أن أسافر؛ فأوصني ؟ قال: (عليك بتقوى اللَّه، والتكبير على كل شرف) فلما ولى الرجل؛ قال: (اللهم اطو له البعد، وهون عليه السفر) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ وابن ماجه.

Dari Abu Hurairah t bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah! aku akan mengadakan perjalanan, berilah aku nasehat.” Beliau bersabda: “Hendakah engkau bertakwa kepada Allah, dan bertakbir setiap menapaki jalan yang mendaki”, lalu ketika orang itu beranjak, beliau berdo`a: “Ya, Allah! Dekatkanlah perjalanannya yang jauh, serta mudahkan baginya.” HR. Tarmizi dan Ibnu Majah.[86]

  • Doa orang yang mukim untuk orang yang akan musafir:

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu `anhuma berkata Rasulullah shalallahu alaihi wassalam mengucapkan kata perpisahan kepada kami yang akan bepergian:

أستودع اللَّه دينك، وأمانتك، وخواتيم عملك

 “Aku titipkan agamamu, amanahmu dan akhir amalanmu kepada Allah”. HR. Tarmizi dan Hakim. [87]

  • Doa orang yang akan musafir kepada orang yang ditinggal:

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wassalam membaca doa saat aku hendak bepergian:

أَسْتَوْدِعُك اللهَ الَّذِيْ لاَ تضِيْعُ وَدَائِعَهُ

 “Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak akan hilang titipan-Nya. H.R. Ahmad dan Ibnu Majah. [88]

  • Safar bersama orang yang saleh:

عن أبي موسى الأشعري t أن النبي r قال: ((مثل الجليس الصالح وجليس السوء كحامل المسك ونافخ الكير. فحامل المسك: إما أن يحذيك، وإما أن تبتاع منه، وإما أن تجد منه ريحاً طيبة. ونافخ الكير: إما أن يحرق ثيابك ، وإما أن تجد منه ريحاً خبيثة)) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Musa t bahwa sesungguhnya Nabi shalallahu alaihi wassalam  bersabda: “Perumpamaan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang jahat seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi; penjual minyak wangi kemungkinan dia memberimu minyak wangi, atau kemungkinan engkau membeli darinya, dan (setidaknya) engkau mendapat bau wangi darinya, sedangkan tukang pandai besi kemungkinan percikan apinya membakar pakaianmu dan (setidaknya) engkau mendapatkan bau busuk darinya”. Muttafaq ’alaih. [89]

  • Larangan safar sendirian:

عن ابن عمر t قال : قال رَسُول اللَّهِ r : (لو أن الناس يعلمون من الوحدة ما أعلم، ما سار راكب بليل وحده) رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Ibnu Umar t berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  bersabda: “Jikalau manusia mengetahui apa yang kuketahui tentang kesendirian (dalam perjalanan) niscaya tidak tidak seorangpun akan menaiki kendaraan sendiri di waktu malam”. HR. Bukhari. [90]

عن عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جده قال: قال رَسُول اللَّهِ r: (الراكب شيطان، والراكبان شيطانان، والثلاثة ركب) رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ التِّرمِذِيُّ.

Dari Amru bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Seorang pengendara adalah syetan, dan dua orang pengendara adalah dua syetan, dan tiga adalah rombongan pengendara”. HR. Abu Daud, dan Tarmizi . [91]

  • Larangan membawa anjing dan lonceng saat safar:

عن أبي هريرة  t قال: قال رَسُول اللَّهِ r: (لا تصحب الملائكة رفقة؛ فيها كلب أو جرس) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah t berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  bersabda: “Para malaikat tidak menyertai suatu rombongan yang disertai anjing atau lonceng”. HR. Muslim. [92]

وعن أبي سعيد الخدري t قال: بينما نحن في سفر مع النبي r إذ جاء رجل على راحلة له، فجعل يصرف بصره يميناً وشمالاً. فقال رَسُول اللَّهِ r: (من كان معه فضل ظهر؛ فليعد به على من لا ظهر له، ومن كان له فضل من زاد؛ فليعد به على من لا زاد له). رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abu Said Al Khudri t berkata: “Ketika kami bersama Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dalam sebuah perjalanan lalu datang seorang lelaki menunggangi untanya,dia menoleh ke kanan dan ke kiri (mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya) maka Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda : “Barangsiapa yang mempunyai kelebihan tunggangan maka sedekahkanlah kepada orang yang tidak mempunyai tunggangan, dan barangsiapa yang mempunyai kelebihan perbekalan (makanan) maka sedekahkanlah kepada orang yang tidak mempunyai perbekalan”. HR. Muslim. [93]

  • Doa naik kendaraan:

Dari ‘Ali bin Rabiah berkata: “Aku menyaksikan ‘Ali bin Abi Thalib t ketika dibawakan kepadanya seekor unta untuk ditunggangi, disaat kakinya menginjak pelana, ia mengucapkan: “Bismillah”, tatkala telah duduk di punggungnya, ia mengucapkan:  اَلْحَمْدُ لله

Kemudian membaca firman Allah I:

﴿ ………. سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُۥ مُقۡرِنِينَ ١٣ وَإِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ ١٤ ﴾ [الزخرف: ١٣،  ١٤]

 (Segal puji bagi Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami kami akan kembali kepada Tuhan kami) kemudian dia mengucapkan: Alhamdulillah tiga kali, lalu  mengucapkan: Allahu Akbar tiga kali kemudian mengucapkan:

سُبْحَانَكَ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

(Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku, ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau) , … kemudian Ali t berkata: “Aku telah melihat Nabi shalallahu alaihi wassalam melakukan seperti apa yang aku lakukan. HR. Abu Daud dan Tarmizi. [94]

  • Doa safar:

Dari Ibnu Umar radhiyallahu `anhuma bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  apabila duduk di atas untanya dan berangkat untuk safar, beliau bertakbir tiga kali kemudian membaca:

﴿ ………. سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُۥ مُقۡرِنِينَ ١٣ وَإِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ ١٤ ﴾ [الزخرف: ١٣،  ١٤]  اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ سَفَرِنَا هَذَا البِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اَللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِيْ السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِيْ الْأَهْلِ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وُعَثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِيْ الْمَالِ وَالْأَهْلِ وَالْوَلَدِ

(Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami kami akan kembali kepada Tuhan kami), Ya Allah, sesungguhnya kami minta kepadaMu dalam perjalanan ini kebajikan dan ketakwaan, dan amalan yang Engkau ridhai, ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkan jauhnya perjalanan ini, ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan menjadi penganti bagi keluarga (yang ditinggalkan), ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sulitnya perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan keburukan pada harta, keluarga dan anak saat kembali), dan bila kembali hendaklah mengucapkan do’a di atas, ditambah:

آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ

(Kami kembali, bertaubat, beribadat dan memuji Rabb kami)”. HR. Muslim. [95]

  • Apa yang harus dilakukan apabila dua orang ingin berangkat safar:

عن أبي موسى الأشعري t أن النبي r بعثه ومعاذا إلى اليمن فقال: ((يسرا ولا تعسرا ، وبشرا ولا تنفرا، وتطاوعا ولا تختلفا)) متفق عليه.

Dari Abu Musa Al Asy’ary t bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam mengutus dia dan Mu’az ke Yaman, lalu bersabda: “Berilah kemudahan dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan menakut-nakuti, bersatulah dan jangan berselisih!. muttafaq alaih . [96]

  • Bila jumlah rombongan lebih dari tiga orang maka angkatlah seorang sebagai pemimpin:

عن أبي سعيد t أن رَسُول اللَّهِ r قال: (إذا خرج ثلاثة في سفر؛ فليؤمروا أحدهم ) رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ .

Dari Abu Sa’id Al Khudri t Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Bila tiga orang melakukan perjalanan hendaklah mengangkat salah seorang dari mereka sebagai peminpin”. H.R. Abu Daud.[97]

  • Doa musafir saat jalan mendaki dan saat jalan menurun:

عن ابن عمر t قال: كان النبي r وجيوشه إذا علوا الثنايا كبروا، وإذا هبطوا سبحوا. رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ.

Dari Ibnu Umar tberkata: “bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam dan tentaranya, apabila menapaki jalan bukit maka mereka bertakbir, dan bila turun, mereka bertasbih.” HR. Abu Daud. [98]

  • Sikap tidur dalam perjalanan:

عن أبي قتادة  t قال: كان رَسُول اللَّهِ r إذا كان في سفر؛ فعرس بليل، اضطجع على يمينه، وإذا عرس قبيل الصبح، نصب ذراعه ووضع رأسه على كفه. رَوَاهُ مُسلِمٌ .

Dari Abu Qatadah t berkata: “Bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  apabila dalam perjalanan lalu singgah di malam hari, maka beliau berbaring miring ke kanan dan bila singgah sebelum shubuh maka beliau menopangkan lengan dan menyandarkan kepala pada telapak tangannya”. HR. Muslim.[99]

  • Doa bila singgah di suatu tempat:

عن خولة بنت حكيم t قالت سمعت رَسُول اللَّهِ r يقول: (من نزل منزلاً ثم قال: أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، لم يضره شيء حتى يرتحل من منزله ذلك ) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Khaulah binti Hakim radhiyallahu `anha berkata: “Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang singgah di suatu tempat kemudian mengucapkan:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

(Aku berlindung dengan kalam Allah yang sempurna dari kejahatan mahluk-Nya), niscaya dia tidak akan terkena gangguan apapun hingga meninggalkan tempat tersebut”. HR. Muslim. . [100]

  • Doa musafir saat menjelang subuh:

عن أبي هريرة  tأن النبي r كان إذا كان في سفر و أسحر يقول: ((سَمَّعَ سَامِعٌ بِحَمْدِ اللهِ، وَحُسْنِ بَلاَئِهِ عَلَيْنَا. رَبَّنَا صَاحِبْنَا، وَأَفْضِلْ عَلَيْنَا عَائِذًا بِاللهِ مِنَ النَّارِ)) أخرجه مسلم.

Dari Abu Hurairah t bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam  saat menjelang waktu subuh dalam perjalanan beliau berdoa:

سَمَّعَ سَامِعٌ بِحَمْدِ اللهِ، وَحُسْنِ بَلاَئِهِ عَلَيْنَا. رَبَّنَا صَاحِبْنَا، وَأَفْضِلْ عَلَيْنَا عَائِذًا بِاللهِ مِنَ النَّارِ

“Semoga ada yang memperdengarkan puji kami kepada Allah (atas nikmat) dan cobaan-Nya yang baik bagi kami. Wahai Tuhan kami, temanilah kami (peliharalah kami) dan berilah karunia kepada kami dengan berlindung kepada Allah dari api Neraka. HR. Muslim. [101]

  • Doa bila kendaraannya tertarung:

((باسم الله)) أخرجه أحمد وأبو داود.

Bismillah . H.R. Ahmad dan Abu Daud. [102]

  • Doa melihat sebuah perkampungan:

Dari Suhaib t bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam saat melihat suatu desa yang ingin dimasukinya beliau selalu berdoa:

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ، وَرَبَّ اْلأَرَضِيْنَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ، وَرَبَّ الشَّيَاطِيْنَ وَمَا أَضْلَلْنَ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ. أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا.

“Ya Allah, Tuhan tujuh langit dan apa yang dinaunginya, Tuhan penguasa tujuh bumi dan apa yang di permukaannya, Tuhan yang menguasai setan-setan dan apa yang mereka sesatkan, Tuhan yang menguasai angin dan apa yang diterbangkannya. Aku mohon kepada-Mu kebaikan desa ini, kebaikan penduduknya dan apa yang ada di dalamnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan desa ini, kejelekan penduduknya dan apa yang ada di dalamnya.” H. R. Nasa’i.[103]

  • Disunahkan safar pada hari kamis:

عن كعب بن مالك  tأن النبي r خرج يوم الخميس في غزوة تبوك، وكان يحب أن يخرج يوم الخميس. وفي لفظ: لقلما كان رَسُول اللَّهِ r يخرج إذا خرج في إلا في يوم الخميس  أخرجه البخاري

Dari Ka’ab bin Malik t berkata: Nabi shalallahu alaihi wassalam  berangkat perang Tabuk pada hari kamis dan beliau sangat suka berangkat pada hari kamis. Dalam riwayat lain: “Amat sedikit Rasulullah shalallahu alaihi wassalam keluar untuk bepergian apabila ingin pergi safar kecuali pada hari Kamis”. H.R. Bukhari .[104]

  • Memulai perjalanan di pagi hari dan berjalan di malam hari:

عن صخر بن وداعة الغامدي  t أن رَسُول اللَّهِ r قال: (اللهم بارك لأمتي في بكورها) وكان إذا بعث سرية، أو جيشاً؛ بعثهم من أول النهار، وكان صخر تاجراً، وكان يبعث تجارته أول النهار. رَوَاهُ أحمد وأبُو دَاوُدَ.

Dari Shakhar bin Wada’ah Al Ghomidi t bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi” dan apabila beliau mengirim pasukan atau tentara, maka beliau mengirim mereka di awal siang. Dan Shakr adalah seorang pedagang dan dia selalu mengirim (kafilah yang membawa barang) dagangnnya pada permulaan siang”. HR. Ahmad dan Abu Daud. [105]

عن أنس  t قال: قال رَسُول اللَّهِ r: (عليكم بالدلجة؛ فإن الأرض تطوى بالليل) رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ

Dari Anas t berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  bersabda: “Berjalanlah di waktu malam karena sesungguhnya jarak bumi dipersempit di waktu malam”. HR. Ahmad dan Abu Daud.[106]

 Doa saat kembali dari perjalanan haji dan lainnya:

Dari Ibnu Umar t berkata bahwa Nab ir disaat kembali dari melaksanakan haji atau umrah, tatkala jalan mendaki bukit atau gundukan tanah, maka beliau bertakbir tiga kali, kemudian mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ سَاجِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

(Tidak ada Tuhan yang berhak diibadati selain Allah, Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, seluruh kerajaan dan pujian milik-Nya, Maha Berkuasa atas segala sesuatu, kami kembali, bertaubat, beribadah, sujud dan memuji Tuhan kami, Allah telah memenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan musuh-musuh sendirian”. Muttafaq ’alaih.[107]

  • Apa yang harus dilakukan musafir bila maksudnya telah terlaksana:

عن أبي هريرة t أن رَسُول اللَّهِ r قال: (السفر قطعة من العذاب: يمنع أحدكم طعامه، وشرابه، ونومه، فإذا قضى أحدكم نهمته من سفره؛ فليعجل إلى أهله) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Hurairah t Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  bersabda: “Perjalanan adalah bagian dari azab, dimana salah seorang kamu menahan makan, minum dan tidur (karenanya), maka apabila dia telah menyelesaikan maksud  perjalanannya maka segeralah kembali kepada keluarganya”. Muttafaq ’alaih.[108]

  • Waktu datang dari safar:

عن كعب بن مالك  t أن رسول الله r كان  لا يقدم مِنْ سفر إلا نهارا في الضحى، فإذا قدم بدأ بالمسجد فصلى فيه ركعتين ثم جلس فيه. متفق عليه.

Dari Ka’ab bin Malik t bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam biasanya datang dari perjalan jauh pada siang hari di waktu dhuha dan bila datang maka beliau singgah terlebih dahulu di masjid beliau, lalu shalat dua rakaat dan duduk sebentar”. Muttafaq alaih . [109]

عن أنس بن مالك  tقال: كان  النبيr  لا يطرق أهله، كان لا يدخل إلا غدوة أو عشية . متفق عليه.

Dari Anas bin Malik t berkata: Nabi shalallahu alaihi wassalam` tidak pernah mendatangi keluarganya pada waktu malam dan baliau tidak masuk rumah kecuali pada waktu pagi atau sore hari. Muttafaq alaih. [110]

  • Disunahkan bagi orang yang sampai di rumahnya pada malam hari untuk memberitahu istrinya terlebih dahulu:

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أن النبيr  قال: ((إذا دخلت ليلا فلا تدخل على أهلك حتى تستحد المغيبة، وتممشط الشعثة)) متفق عليه.

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu `anhuma bahwa Nabi r  bersabda: Bila engkau tiba di malam hari janganlah masuk rumah hingga istrimu mencukur bulu-bulu (kemaluannnya) dan menyisir rambutnya yang kusut. Muttafaq alaih . [111]

 


[1] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :12 dan  Muslim no hadist: 39.

[2] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 54.

[3] . Hadist shahihdiriwayatkan oleh Tirmizi no hadist :2485 dan  Ibnu Majah no hadist: 1334.

[4] . Hadist shahih diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist: 5195 dan  Tirmizi no hadist: 2689.

[5] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6077 dan  Muslim no hadist: 2560.

[6] . Hadist shahihdiriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5197 dan  Tirmizi no hadist: 2694.

[7] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6231 dan  Muslim no hadist: 2160.

[8] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6232 dan  Muslim no hadist: 2160.

[9] . Hadist shahihdiriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5204 dan  Ibnu Majah no hadist: 4336.

[10] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6247 dan  Muslim no hadist: 2168.

[11] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6157 dan  Muslim no hadist: 337.

[12] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2167.

[13] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6258 dan  Muslim no hadist: 2163.

[14] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5663 dan  Muslim no hadist: 1798.

[15] . Sanad Hadist Jayyid, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5208 dan  Tirmizi no hadist: 2706.

[16] . Hadist hasan, diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist :2728 dan  Ibnu Majah no hadist: 3702.

[17] . Hadist hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5212 dan  Tirmizi no hadist: 2727.

[18] . Sanad Hadist Jayyid, diriwayatkan oleh Tabrani dalam Al awsath no hadist :97.

[19] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :3217 dan  Muslim no hadist: 2447.

[20] . Hadist hasan, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 23492 dan  Abu Daud  no hadist: 5231.

[21] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6262 dan  Muslim no hadist: 1768.

[22] . Hadist hasan, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 25610.

[23] . Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5217 dan  Tirmizi no hadist: 3872.

[24] . Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5229 dan  Tirmizi no hadist: 2755.

[25] . diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :95.

[26] . Hadist hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5210.

[27] . diriwayatkan oleh Muslim  no hadist :370.

[28] . Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist 17 dan Nasa’I no hadist :38.

[29] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 87 dan Muslim no hadist :17.

[30] . Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist 5209 dan Tirmizi no hadist :2722.

[31] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 5376 dan Muslim no hadist :2022.

[32] . hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no hadist 5213 dan Ibnu Sunni no hadist :461.

[33] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist :2020.

[34] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 5631 dan Muslim no hadist :2028.

[35] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 2352 dan Muslim no hadist :2029.

[36] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist :2025.

[37] . hadist shahih diriwayatkan oleh Ahmad  no hadist 7990 dan Darimi no hadist :2052.

[38] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 5426 dan Muslim no hadist :2067.

[39] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist :2032.

[40] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist :2034.

[41] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 2455 dan Muslim no hadist :2045.

[42] . hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah  no hadist 3266.

[43] . hadist shahih diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist : 2380 dan Ibnu Majah  no hadist 2064.

[44] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 5409 dan Muslim no hadist :2064.

[45] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 5393 dan Muslim no hadist :2060.

[46] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist :2059.

[47] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 6236 dan Muslim no hadist :39.

[48] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist :2053.

[49] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist :2052.

[50] . hadist shahih diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 3722 dan Tirmizi no hadist 1887.

[51] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist :681.

[52] . hadist hasan diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 3764 dan Ibnu Majah no hadist 3286.

[53] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 6135 dan Muslim no hadist :48.

[54] . diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 5398.

[55] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist 2044.

[56] . hadist hasan diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 3764 dan Ibnu Majah no hadist 3199.

[57] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist 2044.

[58] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 3280 dan Muslim no hadist :2012.

[59] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 5460 dan Muslim no hadist :1663.

[60] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 5463 dan Muslim no hadist :557.

[61] . hadist shahih diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 3772 dan Ibnu Majah no hadist 3277.

[62] . hadist hasan lighairihi, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 3730 dan Tirmizi no hadist 3455.

[63] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 211 dan Muslim no hadist :358.

[64] . hadist hasan , diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 4023.

[65] . diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 5458.

[66] . hadist shahih , diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 3851.

[67] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2734.

[68] . hadist shahih , diriwayatkan oleh Ahmad  no hadist : 16712.

[69] . hadist hasan , diriwayatkan oleh Ibnu Majah  no hadist : 3805.

[70] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2042.

[71] . hadist shahih , diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 3854 dan Ibnu Majah no hadist 1747.

[72] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2055.

[73] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 6229 dan Muslim no hadist :2121.

[74] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist :2161.

[75] . hadist shahih , diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 4817.

[76] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist :652.

[77] . hadist shahih , diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah no hadist : 1314 dan Abu Daud no hadist : 3824.

[78] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist :1926.

[79] . diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :2076.

[80] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 2287 dan Muslim no hadist :1564.

[81] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 2078 dan Muslim no hadist :1562.

[82] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 2087 dan Muslim no hadist :1606.

[83] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist :102.

[84] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 2079 dan Muslim no hadist :1532.

[85] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist :1605.

[86] . hadist hasan, diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist 3445 dan Ibnu Majah no hadist :2771.

[87] . hadist shahih, diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist 3443 dan Hakim no hadist :1617.

[88] . Sanad hadist ini jayyid , diriwayatkan oleh Ahmad no hadist 9219 dan Ibnu Majah no hadist :2825.

[89] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5534 dan  Muslim no hadist: 2628.

[90] . diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 2998.

[91] . Hadist hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 2607 dan  Tirmizi no hadist: 1674.

[92] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2113.

[93] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2113.

[94] . Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 2602 dan  Tirmizi no hadist: 3446.

[95] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 1342.

[96] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 4344 dan  Muslim no hadist: 1733.

[97] . Hadist hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 2608.

[98] . Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 2599.

[99] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 683.

[100] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2708.

[101] . diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2718.

[102] . Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 20867 dan Abu Daud no hadist : 2599.

[103] . Hadist shahih, diriwayatkan oleh Nasa’I  no hadist : 8826.

[104] . diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 2949.

[105] . Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 15522 dan Abu Daud no hadist : 2606.

[106] . Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 15157 dan Abu Daud no hadist : 2571.

[107] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1797 dan  Muslim no hadist: 1344.

[108] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 3001 dan  Muslim no hadist: 1927.

[109] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 3088 dan Muslim no hadist : 716.

[110] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1800 dan Muslim no hadist : 1928.

[111] . muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5246 dan Muslim no hadist : 715.

 

 

(والله أعلمُ بالـصـواب)

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *